- Resmi Diumumkan! Tunjangan Guru Naik, Non-ASN Jadi Rp 2 Juta dan ASN Setara Gaji Pokok
- Wagub Sulteng Lantik Dokter Ahli Utama, Dukung Transformasi RS Undata Berstandar Internasional
- DPRD Kota Palu Desak Pemkot Perkuat Koordinasi dalam Penyusunan Tata Ruang
- DPRD Palu Sahkan Hasil Evaluasi LKPJ 2025, 37 Rekomendasi Diserahkan ke Pemkot
- DPRD Palu Desak Pemkot Tuntaskan Masalah Lahan Tidur dan Air Bersih di Dua Kelurahan
- DPRD Palu Soroti Overkapasitas RS, Biaya Visum, dan Denda BPJS yang Bebani Warga
- Dari Huntap hingga Pajak Daerah, DPRD Palu Paparkan Hasil Kerja Caturwulan I
- 8 Rumah Sakit Swasta di Palu Terancam Tak Bisa Beroperasi, DPRD Soroti Masalah Perizinan
- Abdurahim Nasar Al-Amri Soroti Mandeknya RDTR, DPRD Palu Siap Koordinasi Ulang ke Pusat
- Ribuan Izin Usaha Tertolak, DPRD Kota Palu Cari Solusi Sengkarut Perizinan OSS yang Terkendala KBLI
PDI-P Tegaskan Komitmen Kawal Pemerintahan Meski di Luar Kabinet: Sinyal Kritis Menuju 2029

Jakarta – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) kembali menegaskan posisinya sebagai kekuatan pengawas dan pengkritik di luar struktur pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Sekretaris Jenderal PDI-P, Hasto Kristiyanto, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (12/6/2026), menyatakan bahwa partainya akan tetap fokus pada fungsi kontrol dan kaderisasi, sebagai persiapan menghadapi Pemilu 2029 mendatang.
"Sikap kami jelas. PDI-P menghormati pemerintahan yang sah, namun kami tidak akan tinggal diam jika kebijakan yang diambil merugikan rakyat. Kami memilih untuk menjadi kekuatan penyeimbang yang kritis dan konstruktif," ujar Hasto di hadapan awak media.
Pernyataan ini keluar menanggapi dinamika politik nasional pasca pelantikan menteri kabinet periode 2024-2029 yang didominasi oleh koalisi pendukung pemerintah. Meskipun tidak mendapat jatah kursi menteri, PDI-P menjadi partai dengan kursi terbesar kedua di DPR, sehingga posisinya dinilai signifikan dalam menentukan arah legislasi dan pengawasan.
Baca Lainnya :
- HACKED BY BLACK ELERONE TEAM
- Sigi Jadi Tuan Rumah MTQ Sulteng 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Membumikan Nilai-Nilai Keagamaan
- admin
- FADLI IT GANZ
- Dari Sigi hingga Banggai Laut, Proyek Jalan dan Jembatan Rp604,8 Miliar Mulai Bergulir di Sulteng
Fokus pada Kerakyatan dan Kaderisasi
Hasto Kristiyanto menggarisbawahi bahwa PDI-P saat ini tengah menggencarkan program-program berbasis akar rumput. Partai berlambang banteng moncong putih itu gencar melakukan sekolah partai dan pelatihan kader di berbagai daerah, terutama di wilayah basis tradisional seperti Jawa Tengah, Bali, dan beberapa kantong suara di Sumatera dan Nusa Tenggara.
"Kami belajar dari pengalaman. Kekuasaan itu sementara, tetapi hubungan dengan rakyat harus abadi. Itulah mengapa Ketua Umum Megawati Soekarnoputri terus mengingatkan pentingnya nguri-uri budaya gotong royong dan nasionalisme," tegas Hasto.
Reaksi Pengamat: Posisi Kritis Namun Berisiko
Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Dr. Firman Noor, menilai langkah PDI-P berada di luar kabinet sebagai strategi ganda. Di satu sisi, posisi ini memberikan kebebasan bagi PDI-P untuk mengkritik tanpa beban tanggung jawab administratif. Namun di sisi lain, hal ini berisiko membuat partai tersebut kehilangan akses langsung terhadap sumber daya dan proyek-proyek strategis nasional.
"PDI-P bermain aman untuk jangka panjang. Mereka sedang membangun narasi sebagai 'penyelamat demokrasi' dari potensi otoritarianisme. Ini modal sosial yang kuat untuk Pemilu 2029, terutama jika nanti ada isu kecewa dari masyarakat terhadap kinerja pemerintah," jelas Firman.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa politik sangat dinamis. "Jika pemerintah Prabowo sukses besar dan rakyat sejahtera, PDI-P bisa terpinggirkan. Tapi jika ada banyak masalah, mereka akan menjadi alternatif utama."
Tantangan Internal: Regenerasi dan Isu Dinasti
Di tengah soliditas eksternal, PDI-P juga menghadapi tantangan internal terkait regenerasi kepemimpinan. Megawati Soekarnoputri, yang kini berusia 79 tahun, masih memegang kendali penuh sebagai ketua umum. Spekulasi mengenai penerus, termasuk nama Puan Maharani dan Prananda Prabowo, masih menjadi bahan diskusi di kalangan kader.
Beberapa suara di akar rumput mulai mendorong agar partai memberikan ruang lebih besar bagi tokoh-tokoh muda non-dinasti. Namun, sejauh ini, DPP masih mempertahankan pola kepemimpinan kolektif dengan sentral pada figur Mega.
Kesimpulan
PDI-P memasuki periode 2026-2029 dengan strategi yang hati-hati: di luar kekuasaan eksekutif, tetapi lantang di parlemen dan di jalanan (dalam bentuk aksi sosial serta advokasi). Partai ini berharap dapat memanfaatkan setiap celah kebijakan pemerintah yang kontroversial untuk mengerek elektabilitasnya.Dengan waktu sekitar tiga tahun menuju Pemilu 2029, pergerakan PDI-P akan menjadi salah satu indikator utama stabilitas politik dan demokrasi di Indonesia










