- Polres Cirebon Kota Tindaklanjuti Laporan Masyarakat Terkait Dugaan Peredaran Obat Keras Terbatas
- Suhu Palu Tembus 34,7 Derajat, Wagub Ajak Masyarakat Lebih Peduli Perubahan Iklim
- Palu Catat Suhu Maksimum 35 Derajat, Jadi Wilayah Terpanas Kedua di RI
- 50 Huntara Mulai Dibangun untuk Warga Terdampak Gempa di Sigi
- Akbar Supratman Salurkan Ribuan Paket Bantuan untuk Warga Terdampak Gempa di Sigi
- Dalam Sepekan, Gempa Susulan M 6,7 di Sulteng Capai 1.318 Kali
- PTN dan PTS se-Sulteng Bangun Kolaborasi Mitigasi Bencana Berbasis Riset
- Resmi Terpilih, Dua Pelajar Asal Bangkep dan Palu Wakili Sulteng Jadi Calon Paskibraka Nasional 2026
- Enam Hari Pascagempa M 6,7, Gempa Susulan di Sulteng Tembus 1.256 Kali
- Sensus Ekonomi 2026 Digelar, Masyarakat Sulteng Diajak Beri Data Akurat
BRIN Prediksi Puasa Ramadan 2026 Mulai 19 Februari, Potensi Beda dengan Muhammadiyah

Keterangan Gambar : Ilustrasi pemantauan hilal. (Foto : iStockphoto)
Likeindonesia.com, Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi awal puasa Ramadan 1447 Hijriah berpotensi jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Prediksi ini membuka peluang terjadinya perbedaan penetapan awal Ramadan dengan Muhammadiyah, yang telah lebih dulu menetapkan puasa dimulai pada 18 Februari 2026.
Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin, menjelaskan potensi perbedaan tersebut disebabkan oleh perbedaan metode penentuan awal bulan hijriah, terutama antara penggunaan konsep hilal lokal dan hilal global.
Baca Lainnya :
- Pemerintah Tambah Penerima Bansos, 33,2 Juta Warga Bakal Dapat Beras 664 Ribu Ton
- Resmi! Baznas Tetapkan Zakat Fitrah Rp50 Ribu per Jiwa di Ramadan 2026
- Awal Ramadan 2026, Siswa Dapat Libur Sekolah Selama Tiga Hari
- Sejumlah Peserta PBI JK Dinonaktifkan, BPJS: Bukan Dicabut, Bisa Direaktivasi
- Wajib Tahu, Ini 21 Penyakit yang Tidak Ditanggung BPJS Kesehatan, Termasuk Cedera Akibat Hobi
“Ada potensi perbedaan penentuan awal Ramadan. Sumber perbedaannya terletak pada penggunaan konsep hilal lokal dan hilal global,” ujar Thomas, dikutip dari metrotvnews, Selasa (10/2/2026).
Ia memprediksi pemerintah bersama mayoritas organisasi masyarakat Islam di Indonesia akan menetapkan awal Ramadan pada 19 Februari 2026. Pasalnya, posisi hilal di kawasan Asia Tenggara saat matahari terbenam pada 17 Februari 2026 diperkirakan belum memenuhi kriteria MABIMS, yakni tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.
Meski perbedaan penetapan awal puasa dinilai sebagai hal yang lazim terjadi di Indonesia, Thomas menekankan bahwa prediksi BRIN tersebut masih bersifat perkiraan. Keputusan resmi awal Ramadan 1447 H tetap menunggu hasil sidang isbat Kementerian Agama (Kemenag).
Kemenag dijadwalkan menggelar sidang isbat penentuan 1 Ramadan 1447 H pada Selasa (17/2/2026) mendatang, di Auditorium HM Rasjidi, Kantor Kemenag, Jakarta.
Dalam sidang tersebut, Kemenag akan memaparkan data hisab astronomi serta laporan hasil rukyatul hilal dari 96 titik pengamatan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Sementara itu, sebelumnya Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan tersebut mengacu pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagaimana tertuang dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025. (Nul/Nl)










