- Pengangguran di Palu Capai 11.577 Orang, Mayoritas Laki-laki
- Viral Juri Cerdas Cermat Salahkan Jawaban Benar, Wakil Ketua MPR Minta Maaf
- 62 Pasangan di Palu Kini Punya Legalitas Resmi Usai Ikut Isbat Nikah Massal
- Kabur Lintas Kota, Pendiri Ponpes Tersangka Pemerkosaan Akhirnya Ditangkap
- Ribuan Calon Jemaah Haji Sulteng Mulai Diberangkatkan ke Tanah Suci
- Didominasi Anak Muda, Penduduk Sulteng Mayoritas Berasal dari Gen Z
- Wajib Belajar 12 Tahun, Anak Putus Sekolah Kini Ditangani lewat Perpres Baru
- Pertamina Resmi Naikkan Harga BBM Non Subsidi, Dexlite Tembus Rp26 Ribu Per Liter
- Gubernur Sulteng Ingatkan Perusahaan untuk Tidak Abaikan Keselamatan Pekerja
- Hardiknas 2026, Pemerintah Dorong Penerapan Deep Learning di Satuan Pendidikan
Dari Cemas sampai Depresi, Menkes Sebut Sekitar 28 Juta Orang Indonesia Punya Masalah Kejiwaan

Keterangan Gambar : Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin. (Foto: Biro Komunikasi Kemenkes/kemkes.go.id)
Likeindonesia.com, Jakarta - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut sekitar 28 juta orang di Indonesia diperkirakan memiliki masalah kesehatan mental. Prediksi tersebut mengacu pada perhitungan berdasarkan panduan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Budi menjelaskan, menurut WHO, jumlah penduduk yang mengalami masalah kejiwaan di suatu negara dihitung dari satu per delapan atau satu per sepuluh dari total populasi. Dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 280 juta jiwa, maka sedikitnya 28 juta orang diperkirakan memiliki masalah kesehatan mental.
Baca Lainnya :
- CPNS 2026 Berpeluang Dibuka, Menteri PANRB: Khusus untuk Fresh Graduate
- 31 Persen Warga Indonesia Lebih Suka Curhat ke AI Ketika Sedih
- Budaya Ngopi Kian Masif, Indonesia Jadi Negara dengan Coffee Shop Terbanyak
- Data BPS: Orang Indonesia Lebih Pilih Liburan ke Wisata Alam Dibanding Mal atau Wahana
- Admin
“Jadi kalau Indonesia 280 juta (penduduk), ya minimal 28 juta (orang) tuh punya masalah kejiwaan,” kata Budi dalam rapat kerja bersama Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Jakarta, Senin (19/1/2026), dikutip dari kompas.com.
Budi menyebut, masalah kesehatan mental yang dialami masyarakat sangat beragam, mulai dari gangguan ringan hingga berat. Jenis gangguan tersebut antara lain depresi, gangguan kecemasan, skizofrenia, hingga gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas atau attention deficit hyperactivity disorder (ADHD).
Ia juga menyampaikan, hasil skrining cek kesehatan gratis menunjukkan angka gangguan kesehatan mental yang masih relatif rendah. Data tersebut mencatat gangguan kesehatan mental di bawah satu persen pada kelompok orang dewasa dan sekitar lima persen pada anak-anak. Meski demikian, skrining tersebut dinilai sebagai langkah awal untuk mendeteksi kondisi kesehatan mental masyarakat.
Untuk memperluas akses layanan, Kementerian Kesehatan saat ini tengah mengupayakan penanganan kesehatan mental melalui puskesmas. Layanan yang disiapkan meliputi konseling oleh psikolog hingga ketersediaan obat-obatan untuk gangguan kesehatan mental.
“Kami sedang bangun sistemnya supaya bisa dilayani di puskesmas-puskesmas,” kata dia.
Adapun provinsi dengan persentase penduduk yang mengalami gangguan kesehatan mental tertinggi menurut data Kementerian Kesehatan pada 2023 adalah DKI Jakarta sebesar 24,3 persen. Disusul oleh Nanggroe Aceh Darussalam 18,5 persen, Sumatera Barat 17,7 persen, Nusa Tenggara Barat (NTB) 10,9 persen, Sumatera Selatan 9,2 persen, dan Jawa Tengah 6,8 persen. (Nl/Nl)





.jpg)




