- Palu Catat Suhu Maksimum 35 Derajat, Jadi Wilayah Terpanas Kedua di RI
- 50 Huntara Mulai Dibangun untuk Warga Terdampak Gempa di Sigi
- Akbar Supratman Salurkan Ribuan Paket Bantuan untuk Warga Terdampak Gempa di Sigi
- Dalam Sepekan, Gempa Susulan M 6,7 di Sulteng Capai 1.318 Kali
- PTN dan PTS se-Sulteng Bangun Kolaborasi Mitigasi Bencana Berbasis Riset
- Resmi Terpilih, Dua Pelajar Asal Bangkep dan Palu Wakili Sulteng Jadi Calon Paskibraka Nasional 2026
- Enam Hari Pascagempa M 6,7, Gempa Susulan di Sulteng Tembus 1.256 Kali
- Sensus Ekonomi 2026 Digelar, Masyarakat Sulteng Diajak Beri Data Akurat
- Ratusan Skater Ramaikan Go Skateboarding Day 2026 di Palu
- Ditemukan 24 Titik Longsor di Sigi Pascagempa, BNPB Antisipasi Risiko Banjir Bandang
31 Persen Warga Indonesia Lebih Suka Curhat ke AI Ketika Sedih

Keterangan Gambar : Ilustrasi beragam aplikasi AI populer. (Foto: iStockphoto)
Likeindonesia.com, Jakarta — Survei terbaru dari Kaspersky menunjukkan bahwa 31 persen warga Indonesia memilih menggunakan kecerdasan buatan (AI) sebagai tempat curhat saat merasa sedih. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 29 persen.
Survei global tersebut juga menemukan bahwa penggunaan AI sebagai pendamping emosional paling banyak terjadi pada generasi Z dan milenial. Sebanyak 35 persen responden di kelompok usia ini mengaku memilih AI sebagai teman curhat. Sementara itu, hanya 19 persen responden usia 55 tahun ke atas yang mempertimbangkan hal serupa.
Baca Lainnya :
- Budaya Ngopi Kian Masif, Indonesia Jadi Negara dengan Coffee Shop Terbanyak
- Data BPS: Orang Indonesia Lebih Pilih Liburan ke Wisata Alam Dibanding Mal atau Wahana
- Admin
- Pandji Tegaskan Tak Ada Lagi Pertunjukan Mens Rea
- Mulai 2026, Beras Akan Dibuat Satu Harga Seperti BBM, Tak Ada Lagi yang Lebih Mahal
"Generasi Z dan millennial menunjukkan minat terbesar pada dukungan berbasis AI di antara semua usia, dengan 35 persen responden memilih opsi ini," ujar Kaspersky, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (1/1/2026).
Meski AI mampu memberikan respons yang terkesan personal, para ahli mengingatkan pentingnya kewaspadaan. Data percakapan yang dibagikan saat curhat ke AI bisa digunakan untuk iklan bertarget atau bahkan dijual ke pihak ketiga.
“Penting untuk diingat bahwa mereka belajar memberikan jawaban dari data, yang sebagian besar bersumber dari Internet, artinya mereka rentan untuk mengulang kesalahan dan bias dari teks yang digunakan untuk pelatihan. Sangat disarankan untuk merangkul saran AI dengan sikap skeptis yang sehat dan mencoba untuk menghindari berbagi informasi secara berlebihan," kata Manajer Grup di Kaspersky AI Technology Research Center, Vladislav Tushkanov, dikutip dari cnnindonesia.com.
Kaspersky juga menyarankan agar pengguna memeriksa kebijakan privasi layanan AI yang digunakan dan memilih penyedia dengan rekam jejak keamanan data yang terpercaya. (Nul)










