- Viral Juri Cerdas Cermat Salahkan Jawaban Benar, Wakil Ketua MPR Minta Maaf
- 62 Pasangan di Palu Kini Punya Legalitas Resmi Usai Ikut Isbat Nikah Massal
- Kabur Lintas Kota, Pendiri Ponpes Tersangka Pemerkosaan Akhirnya Ditangkap
- Ribuan Calon Jemaah Haji Sulteng Mulai Diberangkatkan ke Tanah Suci
- Didominasi Anak Muda, Penduduk Sulteng Mayoritas Berasal dari Gen Z
- Wajib Belajar 12 Tahun, Anak Putus Sekolah Kini Ditangani lewat Perpres Baru
- Pertamina Resmi Naikkan Harga BBM Non Subsidi, Dexlite Tembus Rp26 Ribu Per Liter
- Gubernur Sulteng Ingatkan Perusahaan untuk Tidak Abaikan Keselamatan Pekerja
- Hardiknas 2026, Pemerintah Dorong Penerapan Deep Learning di Satuan Pendidikan
- Pembayaran Honorer di Sulteng Ditarget Tertib dan Merata, Gubernur Pastikan Tanpa Ketimpangan
31 Persen Warga Indonesia Lebih Suka Curhat ke AI Ketika Sedih

Keterangan Gambar : Ilustrasi beragam aplikasi AI populer. (Foto: iStockphoto)
Likeindonesia.com, Jakarta — Survei terbaru dari Kaspersky menunjukkan bahwa 31 persen warga Indonesia memilih menggunakan kecerdasan buatan (AI) sebagai tempat curhat saat merasa sedih. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 29 persen.
Survei global tersebut juga menemukan bahwa penggunaan AI sebagai pendamping emosional paling banyak terjadi pada generasi Z dan milenial. Sebanyak 35 persen responden di kelompok usia ini mengaku memilih AI sebagai teman curhat. Sementara itu, hanya 19 persen responden usia 55 tahun ke atas yang mempertimbangkan hal serupa.
Baca Lainnya :
- Budaya Ngopi Kian Masif, Indonesia Jadi Negara dengan Coffee Shop Terbanyak
- Data BPS: Orang Indonesia Lebih Pilih Liburan ke Wisata Alam Dibanding Mal atau Wahana
- Admin
- Pandji Tegaskan Tak Ada Lagi Pertunjukan Mens Rea
- Mulai 2026, Beras Akan Dibuat Satu Harga Seperti BBM, Tak Ada Lagi yang Lebih Mahal
"Generasi Z dan millennial menunjukkan minat terbesar pada dukungan berbasis AI di antara semua usia, dengan 35 persen responden memilih opsi ini," ujar Kaspersky, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (1/1/2026).
Meski AI mampu memberikan respons yang terkesan personal, para ahli mengingatkan pentingnya kewaspadaan. Data percakapan yang dibagikan saat curhat ke AI bisa digunakan untuk iklan bertarget atau bahkan dijual ke pihak ketiga.
“Penting untuk diingat bahwa mereka belajar memberikan jawaban dari data, yang sebagian besar bersumber dari Internet, artinya mereka rentan untuk mengulang kesalahan dan bias dari teks yang digunakan untuk pelatihan. Sangat disarankan untuk merangkul saran AI dengan sikap skeptis yang sehat dan mencoba untuk menghindari berbagi informasi secara berlebihan," kata Manajer Grup di Kaspersky AI Technology Research Center, Vladislav Tushkanov, dikutip dari cnnindonesia.com.
Kaspersky juga menyarankan agar pengguna memeriksa kebijakan privasi layanan AI yang digunakan dan memilih penyedia dengan rekam jejak keamanan data yang terpercaya. (Nul)




.jpg)





