- Kampung Baru Fair Absen Tahun Ini, Lebaran Mandura Tetap Jalan di Masjid Jami
- Packing House Durian di Parimo Resmi Beroperasi, Buka Peluang Ekspor dan Serapan Tenaga Kerja
- Haul Akbar Guru Tua ke-58 di Palu Siap Digelar, Diperkirakan Dihadiri 75 Ribu Jamaah
- MBG Mau Dikurangi Jadi 5 Hari, Purbaya Sebut Bisa Hemat Rp 40 Triliun
- Polresta Palu Soroti Dugaan Teror Penyiraman Air Keras ke Kendaraan Warga di Palu
- Puncak Arus Balik, 2.888 Penumpang Melintas di Pelabuhan Pantoloan
- Fathur Razaq Gelar Halal Bihalal di Jogja untuk Warga Sulteng di Rantau
- Arus Balik Lebaran di Terminal Mamboro Naik 120 Persen, Puncak Terjadi pada H+2
- Dua Remaja Dilaporkan Hilang Saat Mendaki Gunung Dako di Tolitoli
- Aktivis dan Mahasiswa di Sulteng Kecam Penyiraman Air Keras terhadap Andrie Yunus
BKSDA Selidiki Penyebab Kematian Buaya Muara yang Terdampar di Teluk Palu

Keterangan Gambar : Koordinator Wildlife Rescue Unit (WRU) BKSDA Sulteng, Bambang Dwi Prasetyo. (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Palu — Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah tengah menyelidiki penyebab kematian seekor buaya muara yang ditemukan terdampar di pesisir Teluk Palu, Minggu (16/11/2025).
Bangkai buaya jantan sepanjang sekitar 4,6 meter itu sebelumnya mengejutkan warga Kelurahan Lere dan menjadi viral di media sosial.
Baca Lainnya :
- Wakapolda Sulteng Tegaskan Larangan Pungli Saat Operasi Zebra Tinombala 2025
- Operasi Zebra Tinombala 2025 Dimulai, Roda Dua Jadi Prioritas Penindakan
- 62.969 Pekerja Rentan di Sulteng Kini Dilindungi Jamsostek 2025
- Jejak Briptu Yuli Setyabudi: Hilang 3 Bulan, Tinggalkan Kasus Penggelapan Mobil
- Disdik Sulteng Tegaskan Gerakan Stop Perundungan di Sekolah
Koordinator Wildlife Rescue Unit (WRU) BKSDA Sulteng, Bambang Dwi Prasetyo, mengatakan bahwa informasi awal penemuan bangkai buaya diterima pihaknya dari unggahan warga.
“Pertama-tama kami melihat tersebut dari media sosial, di sekitar jam 10 pagi. Karena sudah viral, tim mempersiapkan peralatan untuk melakukan evakuasi,” ujarnya.
Namun, Bambang menjelaskan bahwa sesuai Undang-undang Nomor 32 Tahun 2024, kewenangan penanganan satwa air kini berada di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Karena itu, sebelum evakuasi dilakukan, tim BKSDA menghubungi Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar yang memiliki mandat terkait satwa perairan.
Ia menuturkan bahwa proses evakuasi dilakukan bersama BPSPL setelah bangkai buaya ditemukan sudah berada di area Batugajah.
Menurut Bambang, pihaknya kemudian meminta bantuan warga untuk menyiapkan lokasi penguburan.
“Kami melibatkan mereka untuk sama-sama melakukan evakuasi dan penguburan,” katanya.
Sementara itu, penyebab kematian buaya masih dalam analisis dokter hewan BKSDA.
Bambang menjelaskan bahwa dokter belum sempat memeriksa langsung bangkai buaya karena proses penguburan dilakukan lebih dahulu.
Namun, analisis awal tetap dilakukan melalui dokumentasi foto.
Ia menjelaskan bahwa berdasarkan regulasi, buaya muara termasuk satwa dilindungi.
Jika terbukti diburu atau dibunuh, maka tindakan itu merupakan pelanggaran hukum.
Bangkai buaya tersebut memiliki panjang sekitar 4,6 meter dan lebar sekitar 90 sentimeter.
Bambang mengonfirmasi bahwa buaya tersebut berjenis kelamin jantan.
Selain penyelidikan penyebab kematian, BKSDA juga mengingatkan warga agar berhati-hati saat beraktivitas di Teluk Palu.
Menurut Bambang, masyarakat yang memancing atau berenang di sekitar teluk perlu meningkatkan kewaspadaan karena kemunculan buaya masih kerap ditemukan di sejumlah titik.
“Kami mengharapkan ketika masyarakat beraktivitas seperti memancing atau berenang untuk berhati-hati, karena seputaran Teluk Palu masih kita jumpai kemunculan buaya,” ujarnya.
Hingga kini, BKSDA menunggu hasil analisis dokter hewan untuk memastikan penyebab kematian buaya yang diduga tidak berlangsung lama sebelum ditemukan warga tersebut. (Rul/Nl)










