- Jokowi Dijadwalkan Sambangi Palu, Bakal Resmikan Kantor DPW PSI Sulteng
- Le Na Jodoh, ADISTA Tak Jadi Tampil di Konser HUT Kota Palu ke-48
- Pemerintah Siapkan Skema Kuliah Gratis di PTN, Pelaksanaan Akan Bertahap
- Makin Sedikit Warga Sulteng yang Fokus Mengurus Rumah Tangga, Jumlahnya Turun 61 Ribu
- 2,46% Rumah Tangga di Palu Masih Andalkan Air Hujan untuk Minum
- 40% Gen Z Pilih Nikah di KUA, Uang Lebih Diprioritaskan untuk Kehidupan Setelah Menikah
- Catat Jamnya! 25 September Ada Fenomena Hari Tanpa Bayangan di Enam Wilayah Sulteng, Termasuk Palu
- Influenza Tipe A Super Flu Merebak di RI, Anak-Anak Paling Banyak Terinfeksi
- KONI Sulteng Dorong PBFI Tingkatkan Pembinaan dan Prestasi Atlet
- Cegah Pungli, Polri Siapkan Mesin Cetak SKCK Mandiri Mulai 2027, Tak Perlu Lagi ke Kantor Polisi
Aktivis dan Mahasiswa di Sulteng Kecam Penyiraman Air Keras terhadap Andrie Yunus

Keterangan Gambar : Diskusi publik sejumlah pegiat HAM dan organisasi di Sulteng yang digelar di Cafe & Resto Triple F, Palu, Selasa (17/3). (Foto: Ist)
Likeindonesia.com, Palu – Sejumlah pegiat hak asasi manusia dan pimpinan organisasi mahasiswa di Sulawesi Tengah mengecam keras penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus.
Kecaman itu mengemuka dalam diskusi publik yang digelar di Cafe & Resto Triple F, Palu, Selasa (17/3).
Baca Lainnya :
- Dirlantas Polda Sulteng Ingatkan Jalur Rawan Longsor Saat Mudik, Pemudik Diminta Waspada
- Pemprov Sulteng Tegaskan Honor Nakes Non-ASN di Daerah Jadi Tanggung Jawab Pemda
- Terminal Mamboro Capai Puncak Mudik, 433 Penumpang Diberangkatkan
- 2.216 Warga Binaan di Sulteng Diusulkan Terima Remisi Idul Fitri 2026, 7 Orang Langsung Bebas
- 895 Pemudik Jalur Darat Diberangkatkan dari Palu Lewat Program Mudik Gratis
Forum tersebut digelar sebagai bentuk solidaritas atas serangan yang menimpa Andrie Yunus di Jakarta.
Dalam diskusi itu, para peserta menilai peristiwa tersebut bukan sekadar tindak kekerasan biasa, melainkan ancaman serius terhadap kebebasan berekspresi dan iklim demokrasi.
Andrie Yunus diketahui menjadi korban penyiraman air keras oleh orang tak dikenal di kawasan Jalan Salemba I, Jakarta Pusat, Kamis malam (12/3).
Akibat serangan itu, ia mengalami luka bakar serius di sejumlah bagian tubuh, yakni wajah, dada, tangan, dan kaki.
Kondisinya juga disebut berisiko mengalami gangguan penglihatan permanen.
Di sisi lain, kepolisian disebut tengah menelusuri kasus tersebut dengan memeriksa 2.210 rekaman CCTV untuk melacak pergerakan empat terduga pelaku.
Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo juga menyatakan proses penyelidikan terus berjalan dan perkembangan penanganan perkara akan disampaikan kepada publik.
Selain itu, Polri membuka posko pengaduan khusus terkait kasus Andrie Yunus.
Sekretaris AMSI sekaligus jurnalis TV One, Abdullah K. Mari, yang memoderatori diskusi, menyebut serangan terhadap Andrie sebagai tanda bahaya bagi demokrasi.
Menurut dia, peristiwa itu patut dibaca sebagai bentuk teror terhadap kelompok kritis.
“Kita berkumpul untuk merespons teror yang sangat keji. Apakah ini pesan intimidasi bagi kita semua?” ujar Abdullah.
Pegiat HAM Sulteng, Dedi Askari, menilai serangan terhadap Andrie mengarah pada upaya membungkam suara kritis secara permanen.
Ia menyoroti dampak berat yang dialami korban, sekaligus meminta negara menjamin perlindungan bagi para aktivis.
“Luka bakar 24 persen dan potensi kebutaan adalah upaya 'pembungkaman fisik'. Pola penyiraman air keras ini seringkali sulit diungkap aktor intelektualnya, namun kita menuntut institusi keamanan menjamin perlindungan bagi aktivis agar efek domino kekerasan ini tidak merembet ke daerah-daerah,” tegas Dedi.
Dukungan juga datang dari kalangan mahasiswa. Ketua HMI Sulteng, Rinaldi Kuamas, menegaskan bahwa kekerasan tersebut tidak akan melemahkan gerakan mahasiswa.
Ia menyatakan organisasinya akan terus mengawal kasus itu bersama elemen lain agar proses hukumnya tidak berhenti di tengah jalan.
Ketua IMM Sulteng, Adityawarman, turut mempertanyakan jaminan keamanan negara terhadap warga yang menyampaikan pandangan berbeda.
Ia menilai lokasi kejadian yang berada di kawasan pusat Jakarta seharusnya memudahkan pengungkapan pelaku.
“Lokasi kejadian berada di jantung Jakarta (Salemba) yang seharusnya terpantau ketat. Kami menuntut transparansi penuh dari kepolisian dalam mengungkap pelakunya,” kata Adityawarman.
Sementara itu, Ketua LMND Sulteng, Azis, menyoroti adanya pola penggunaan “aktor tak dikenal” untuk menekan suara-suara yang memperjuangkan kepentingan rakyat.
Ia menegaskan, teror fisik tidak akan mengubah arah perjuangan organisasi.
Diskusi tersebut ditutup dengan pernyataan bersama bahwa penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus dipandang sebagai serangan terhadap para pejuang kemanusiaan dan demokrasi di Indonesia.
“Penyiraman air keras ini tidak hanya melukai kulit Andrie, tapi menyiramkan rasa takut ke nadi demokrasi kita. Dari Palu, kami mengirim pesan: Perjuangan tidak akan cacat meski raga terluka,” tutup Abdullah K. Mari. (Rul/Nl)










