- Bantuan untuk Korban Gempa di Sulteng Bertambah, PT Donggi Senoro LNG Serahkan Kasur hingga Selimut
- Tiga Wilayah Sulteng Diguncang Gempa pada 1 Juli, Terkuat di Sigi
- Ini Daerah dengan Pengeluaran Makanan dan Minuman Jadi Tertinggi di Sulteng, Palu dan Poso Teratas
- Harganas 2026, Orang Tua di Sulteng Diminta Bijak Dampingi Anak Gunakan Gawai
- Suhu Palu Tembus 34,7 Derajat, Wagub Ajak Masyarakat Lebih Peduli Perubahan Iklim
- Palu Catat Suhu Maksimum 35 Derajat, Jadi Wilayah Terpanas Kedua di RI
- 50 Huntara Mulai Dibangun untuk Warga Terdampak Gempa di Sigi
- Akbar Supratman Salurkan Ribuan Paket Bantuan untuk Warga Terdampak Gempa di Sigi
- Dalam Sepekan, Gempa Susulan M 6,7 di Sulteng Capai 1.318 Kali
- PTN dan PTS se-Sulteng Bangun Kolaborasi Mitigasi Bencana Berbasis Riset
Lonjakan HIV di Sulteng Mengkhawatirkan, Remaja Mulai Masuk Kelompok Rentan

Keterangan Gambar : Ilustrasi HIV. (Foto: iStockphoto)
Likeindonesia.com, Palu – Kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Sulawesi Tengah terus menunjukkan tren peningkatan dalam tiga tahun terakhir.
Data Dinas Kesehatan Provinsi Sulteng mencatat, hingga Oktober 2025 sudah ditemukan 658 kasus.
Baca Lainnya :
- Polda Sulteng Gelar Simulasi Penanggulangan Bencana dan Antisipasi Konflik Sosial di Palu
- IJTI Sulteng Himpun Donasi Hampir Rp30 Juta untuk Korban Bencana di Sumatera
- Usai Terpilih Jadi Ketua IPSI Sulteng, Abcandra Akbar Fokus Benahi Organisasi dan Pembinaan Atlet
- Disperindag Kota Palu Gencar Pasar Murah di Gereja Jelang Nataru
- Pendapatan Program Berani Hapus Pajak Kendaraan Sulteng Tembus Rp32,9 Miliar
Angka itu diperkirakan naik hingga 710–720 kasus pada akhir tahun.
“Jumlah ini kemungkinan besar akan melampaui temuan tahun 2024,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sulteng, dr. Jumriani, Kamis (11/12).
Peningkatan serupa juga terjadi di Kota Palu. Tahun 2023 tercatat 245 kasus, naik menjadi 326 kasus pada 2024, dan mencapai 283 kasus hingga Oktober 2025.
Tiga daerah dengan kasus tertinggi konsisten setiap tahun: Kota Palu, Morowali, dan Banggai.
Di Morowali, temuan kasus naik dari 62 kasus (2023), 80 kasus (2024), dan mencapai 73 kasus hingga Oktober 2025.
Sementara Bangkep dan Balut melaporkan kurang dari 20 kasus per tahun.
Menurut dr. Jumriani, tingginya mobilitas penduduk, termasuk pendatang, berperan besar terhadap kenaikan kasus.
“Transportasi dan mobilitas makin lancar, sehingga potensi penularan juga meningkat,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa identitas pasien HIV dilindungi secara ketat untuk mencegah stigma dan diskriminasi.
Hal ini penting karena banyak pengidap HIV masih takut dikucilkan.
“Data by name, by address tidak boleh dibuka. Mereka sangat takut dikucilkan. Padahal HIV adalah penyakit yang justru paling sulit penularannya,” katanya.
dr. Jumriani menjelaskan, HIV tidak mudah menular melalui kontak kasual seperti air liur, bekas minuman, atau sentuhan.
Penularan lebih sering terjadi melalui penggunaan jarum suntik, hubungan seksual tidak aman, atau transfusi darah.
Ia juga menyebut hubungan antar sesama jenis termasuk kategori risiko tinggi.
Dinas Kesehatan Sulteng menerapkan penanganan berbasis wilayah melalui fasilitas kesehatan yang telah ditunjuk.
Pemeriksaan viral load dilakukan rutin setiap bulan dan biasanya bersamaan dengan pengambilan obat Antiretroviral (ARV).
“Setiap kabupaten/kota sudah punya tempat pengambilan obat. Pasien rutin dipantau viral load-nya,” jelas dr. Jumriani.
Terkait sumber penularan, ia menyebut adanya populasi kunci yang interaksinya lebih mudah dipetakan.
Namun penularan yang sulit dikendalikan justru berasal dari pendatang atau individu yang tidak menetap di satu lokasi.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk menjaga perilaku seksual yang aman.
“Minimal gunakan kondom. Tapi yang terbaik adalah menghindari seks bebas,” tuturnya.
Ia menegaskan HIV masih bisa ditangani sebelum berkembang menjadi AIDS.
Jika sudah mencapai stadium AIDS, tubuh kehilangan kemampuan melawan penyakit lain dan berisiko fatal.
“Sekitar 80–90 persen pasien AIDS meninggal karena tubuh tidak mampu melawan penyakit apa pun,” jelasnya.
dr. Jumriani juga mengungkapkan kekhawatiran meningkatnya kasus HIV pada kelompok remaja.
Ia menyebut pernah menangani pasien berusia 12–14 tahun, baik akibat penularan dari ibu maupun perilaku berisiko.
“Ada pasien saya umur 20 tahun yang kemungkinan sudah tertular sejak usia 15 tahun. Ini sangat mengkhawatirkan,” tandasnya. (Rul/Nl)










