- 16 Perusahaan Tambang Patungan Rp355 Miliar Bangun Jalan di Morowali dan Morut
- Resmi Diumumkan! Tunjangan Guru Naik, Non-ASN Jadi Rp 2 Juta dan ASN Setara Gaji Pokok
- Wagub Sulteng Lantik Dokter Ahli Utama, Dukung Transformasi RS Undata Berstandar Internasional
- DPRD Kota Palu Desak Pemkot Perkuat Koordinasi dalam Penyusunan Tata Ruang
- DPRD Palu Sahkan Hasil Evaluasi LKPJ 2025, 37 Rekomendasi Diserahkan ke Pemkot
- DPRD Palu Desak Pemkot Tuntaskan Masalah Lahan Tidur dan Air Bersih di Dua Kelurahan
- DPRD Palu Soroti Overkapasitas RS, Biaya Visum, dan Denda BPJS yang Bebani Warga
- Dari Huntap hingga Pajak Daerah, DPRD Palu Paparkan Hasil Kerja Caturwulan I
- 8 Rumah Sakit Swasta di Palu Terancam Tak Bisa Beroperasi, DPRD Soroti Masalah Perizinan
- Abdurahim Nasar Al-Amri Soroti Mandeknya RDTR, DPRD Palu Siap Koordinasi Ulang ke Pusat
Program GENTING di Sulteng Sudah Jangkau 14 Ribu Keluarga Berisiko Stunting

Keterangan Gambar : Kepala Perwakilan BKKBN Sulawesi Tengah, Tenny C. Soriton. (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Palu – Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) yang dijalankan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sulawesi Tengah menunjukkan hasil menggembirakan.
Hingga Oktober 2025, program tersebut telah menjangkau sekitar 14 ribu keluarga berisiko stunting, melampaui target awal sebanyak 13 ribu keluarga.
Baca Lainnya :
- Pulang dari PON Bela Diri 2025 di Kudus, Atlet Judo dan Gulat Sulteng Apresiasi Dukungan KONI
- Tenun Lokal Palu Akan Dilindungi Lewat Perda Pelestarian Budaya
- Pengrajin di Sigi Masih Eksis Olah Kayu Ebony, Warisan Alam Endemis Sulawesi Tengah
- Museum Sulawesi Tengah Jadi Ruang Edukasi Sejarah bagi Pelajar
- Harga Tomat Anjlok di Palu, Pedagang Keluhkan Sepinya Pembeli
Kepala Perwakilan BKKBN Sulawesi Tengah, Tenny C. Soriton, menyebut capaian itu sebagai bukti keberhasilan pelaksanaan program yang mengedepankan semangat gotong royong lintas sektor.
Program GENTING merupakan inisiatif nasional di bawah pimpinan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji.
“Pelaksanaan GENTING di Sulteng berjalan baik. Dari target sekitar 13 ribu keluarga, capaian kita sudah lebih dari 100 persen,” ujar Tenny saat ditemui di Kantor BKKBN Sulteng, Kelurahan Tatura Utara, Kecamatan Palu Selatan, Kamis (16/10).
Ia menjelaskan, program GENTING menitikberatkan pada dua bentuk intervensi: gizi dan non-gizi.
Intervensi gizi dilakukan melalui pemberian bantuan nutrisi bagi keluarga berisiko stunting, sementara intervensi non-gizi mencakup edukasi, advokasi, serta pembangunan fasilitas sanitasi.
Menurut Tenny, program tersebut tidak bersumber dari dana APBN, melainkan mengandalkan partisipasi masyarakat, lembaga sosial, dan pelaku usaha yang berperan sebagai orang tua asuh bagi keluarga sasaran.
“Sasaran utama GENTING adalah keluarga dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan, termasuk ibu hamil, ibu menyusui, dan anak di bawah dua tahun,” jelasnya.
Selain faktor gizi, BKKBN juga menaruh perhatian pada kondisi lingkungan tempat tinggal yang tidak sehat, seperti rumah tangga tanpa MCK atau saluran pembuangan limbah.
“Intervensi GENTING di Sulteng tidak hanya fokus pada gizi, tapi juga pada perbaikan lingkungan dan perilaku keluarga,” tambahnya.
Dalam pelaksanaannya, BKKBN Sulteng melibatkan Tim Pendamping Keluarga (TPK) di setiap desa.
Tim ini terdiri atas bidan, kader KB, dan unsur PKK yang bertugas mendampingi keluarga sasaran, memvalidasi data, serta menyalurkan bantuan dari para orang tua asuh.
Tenny mengakui masih ada tantangan di lapangan, terutama terkait kondisi geografis yang luas dan keterbatasan akses teknologi di sejumlah daerah.
Namun, kerja sama dengan pemerintah desa dan lembaga mitra membuat distribusi bantuan tetap berjalan.
“Beberapa wilayah sulit dijangkau, tetapi kepala desa dan PKK cukup aktif membantu penyaluran di lapangan,” katanya.
Saat ini, angka stunting di Sulawesi Tengah masih berada di kisaran 26,1 persen.
BKKBN menargetkan penurunan di bawah 10 persen sesuai arahan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulteng.
“Kami berharap semakin banyak pelaku usaha dan lembaga sosial yang berperan sebagai orang tua asuh. Dengan gotong royong, kita bisa menjaga anak-anak agar tumbuh sehat dan bebas stunting,” tutup Tenny. (Rul/Nl)










