- Sulteng Ditargetkan Bebas TB dalam Tiga Tahun ke Depan
- Ucu Susanto Jaring Aspirasi Warga Palu Timur-Mantikulore Lewat Reses Caturwulan II
- Kekeringan Melanda 9 Desa di Parimo, 1.400 Hektare Sawah Terdampak
- Karhutla di Tojo Una-Una Hanguskan 54 Hektare Lahan
- Sulteng Masuk 10 Besar Provinsi dengan Kehilangan Hutan Terbanyak akibat Karhutla
- BMKG Keluarkan Peringatan Dini Kekeringan, 7 Kabupaten Sulteng Masuk Kategori Waspada
- Antrean Pertalite Mengular di Palu, Pertamina Pastikan Stok Normal
- Pemerintah Bakal Buka Seleksi CPNS Awal 2027, Kebutuhan Guru Capai 526 Ribu
- Walatana Didorong Jadi Role Model Pertanian Modern di Sulawesi Tengah
- Punya 8 Bandara, Sulteng Masuk Jajaran Provinsi dengan Bandara Terbanyak di Indonesia
Sulteng Ditargetkan Bebas TB dalam Tiga Tahun ke Depan

Keterangan Gambar : Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, saat menghadiri Puncak Dies Natalis Ke-9 Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Tadulako sekaligus launching program Berani Magaya (Berantas Infeksi TB, Mahasiswa JaGa dan SaYAng Keluarga), di Auditorium Untad, Sabtu (22/8/2026). (Foto: Biro Adpim Pemprov Sulteng)
Likeindonesia.com, PALU – Sulawesi Tengah ditargetkan bebas dari Tuberkulosis (TB) dalam tiga tahun ke depan.
Target tersebut disampaikan Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, saat menghadiri Puncak Dies Natalis Ke-9 Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Tadulako sekaligus launching program Berani Magaya (Berantas Infeksi TB, Mahasiswa JaGa dan SaYAng Keluarga), di Auditorium Untad, Sabtu (22/8/2026).
Baca Lainnya :
- OJK Sulteng Buka Layanan Pengaduan untuk Korban Keuangan Ilegal
- Banjir Landa Lima Desa di Donggala, Satu Warga Masih Dicari
- Nelayan Hilang di Laut Morowali Ditemukan Selamat Setelah Sehari Pencarian
- Sulteng Dapat Alokasi Rp356 Miliar untuk Cetak Sawah Rakyat Seluas 10 Ribu Hektare
- Warga Tolitoli Ramai-ramai Jadi Penambang di Pantai Tinabogan, Benarkah Ada Emas?
“Kita berkomitmen hari ini bahwa dalam tiga tahun ke depan, Sulteng bebas TB,” tegas Anwar Hafid.
Menurutnya, target tersebut tidak dapat dicapai hanya oleh pemerintah. Pemberantasan TB membutuhkan keterlibatan perguruan tinggi, tenaga kesehatan, mahasiswa, keluarga hingga masyarakat.
Karena itu, program Berani Magaya diharapkan tidak berhenti pada seremoni peluncuran, tetapi dilanjutkan dengan gerakan nyata di lingkungan kampus, keluarga dan masyarakat.
“Kita akan koordinasikan dengan seluruh perguruan tinggi dan jajaran kesehatan supaya apa yang kita launching hari ini betul-betul bisa berjalan,” katanya.
Anwar menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam upaya pemberantasan TB. Mahasiswa dapat terlibat dalam edukasi, membantu menemukan kasus, mendampingi masyarakat serta mengingatkan keluarga mengenai pentingnya pencegahan dan pengobatan TB hingga tuntas.
Ia menegaskan, pemberantasan TB harus menjadi gerakan bersama dan dilakukan secara berkelanjutan.
Gerakan tersebut juga menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah melalui program 9 Berani sekaligus mendukung agenda nasional pemerintah. (nul)

.jpg)







