- Pemprov Sulteng Siapkan Venue Kapasitas 50 Ribu Orang di Hutan Kota Palu untuk Pesparawi 2029
- Irjen Rizal Irawan Resmi Ditunjuk Jadi Kapolda Sulteng, Gantikan Irjen Nasri
- Pemerintah Pangkas Antrean Haji, dari 49 Tahun Kini Jadi 14 Tahun
- Pajak Usaha Kuliner di Palu Turun Jadi 5 Persen, Berlaku untuk Warung hingga Lapak Non-Permanen
- Viral, Surat Resmi Bupati Sigi ke Menteri PU Jadi Bungkus Nasi Pecel di Jakarta, Bupati: Saya Sedih
- Jembatan Berani di Masungkang Banggai Diresmikan, Buka Akses Pendidikan dan Mobilitas Warga
- Kursi Menteri hingga Kapolri Berganti, Ini Daftar Reshuffle Terbaru yang Dilantik Prabowo
- Keren! Band Metal Asal Palu Ini Selipkan Bahasa Kaili hingga Gimba di Album Devastation Manifest
- Bangkep Diguncang Dua Kali Gempa Magnitudo 4,7, Tercatat di Sekitar Sesar Balantak
- Mulai 2027, Pajak Penghasilan Pekerja Bergaji di Bawah Rp10 Juta Ditanggung Pemerintah
Pergeseran Tanah di Desa Fatufia Morowali, 288 Warga Mengungsi

Keterangan Gambar : Tampak bangunan hunian kamar kos terdampak bencana pergeseran tanah terjadi di Desa Fatufia, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, Jumat (30/1/2026). (Foto: Pusdalops BPBD Sulteng)
Likeindonesia.com, Morowali – Bencana pergeseran tanah terjadi di Desa Fatufia, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
Kejadian ini dilaporkan berlangsung sejak Rabu dini hari, 28 Januari 2026, sekitar pukul 03.00 WITA dan hingga Jumat, 30 Januari 2026, pergerakan tanah masih terus terjadi secara perlahan.
Baca Lainnya :
- Mayoritas Swalayan di Sulteng Tersebar di Daerah Ini, Palu Bukan yang Teratas
- Kekeringan Landa Sejumlah Desa di Parigi Moutong, Ribuan Hektare Sawah Gagal Tanam
- Kodam XXIII/Palaka Targetkan 6.000 Koperasi Desa di Sulteng-Sulbar
- 1.650 Pekerja di Sulteng Kena PHK Sepanjang 2025, Terbanyak Kedua di Sulawesi
- Kodam XXIII/Palaka Wira Siapkan Pembangunan 2.200 Jembatan di Sulteng–Sulbar Mulai Februari
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), peristiwa ini diduga dipicu aktivitas alat berat di area pertambangan.
Getaran dari lima unit excavator yang sedang melakukan aktivitas pemuatan menimbulkan kepanikan warga.
Getaran kembali dirasakan keesokan harinya menjelang malam, disertai tanda-tanda pergeseran tanah.
Dampak bencana tersebut menyebabkan 94 unit kamar kos dan satu unit masjid terdampak langsung.
Sebanyak 288 jiwa terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Tidak ada laporan korban jiwa dalam peristiwa ini.
BPBD Provinsi Sulawesi Tengah bersama BPBD Kabupaten Morowali telah melakukan asesmen di lokasi terdampak serta berkoordinasi dalam penanganan darurat.
Upaya yang dilakukan meliputi pendampingan evakuasi warga dan pemindahan barang-barang ke tempat aman.
Selain itu, PMI IMIP mendirikan pos pengungsian untuk menampung warga terdampak.
Saat ini, kebutuhan mendesak di lokasi pengungsian meliputi hunian sementara dan bantuan logistik bagi para pengungsi.
Kondisi terakhir di lapangan menunjukkan pergerakan tanah masih berlangsung secara perlahan, sehingga warga diminta tetap waspada.
Informasi kejadian ini dihimpun dari Pusat Pengendalian Operasi BPBD Kabupaten Morowali serta Tim Reaksi Cepat dan Pusdalops BPBD Provinsi Sulawesi Tengah. (Rul/Nl)





_2.jpg)




