- Jasad Bayi Perempuan Ditemukan di Tumpukan Sampah TPA Kawatuna
- Aktivitas Gempa di Sulteng Kembali Meningkat, Tembus 121 Kejadian dalam Sepekan
- Ketua KONI Sulteng Harap Berani Cup Lahirkan Pemain Nasional dan Internasional
- Gaji PPPK Ditanggung Pusat Mulai 2027, Akbar Supratman: Kabar Baik untuk Sulteng
- Gibran Minta Maaf Usai Siswa Keracunan MBG, Sarankan Bawa Bekal yang Dimasak Ibu
- Ahmad Ali Dorong PSI Donggala Perkuat Struktur dan Solidaritas Menuju Pemilu 2029
- Viral Berdandan hingga Tuai Kritik dari Warganet, Guru SD di Tolitoli Kini Diberhentikan
- Warga Jalan Durian Ditemukan Tewas di Belakang Rumah, Diduga Tersengat Listrik Saat Perbaiki Atap
- Pemerintah Resmi Tetapkan Libur Nasional 2027, Total Ada 26 Hari
- Antisipasi Antrean Solar di Sulteng, Pemprov Dorong Kemudahan Pengisian BBM Truk Kontainer
Lukisan Cap Tangan Tertua Dunia Berusia 67.800 Tahun Ditemukan di Pulau Muna, Sultra
.jpg)
Keterangan Gambar : Lukisan cap tangan berusia 67.800 tahun di dinding goa karst di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. (Foto: Dok. BRIN)
Likeindonesia.com, Jakarta - Indonesia kembali mencuri perhatian dunia arkeologi. Lukisan cap tangan manusia tertua di dunia dengan usia setidaknya 67.800 tahun ditemukan di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra). Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature berjudul “Rock art from at least 67,800 years ago in Sulawesi”.
Cap tangan purba tersebut ditemukan di sejumlah situs seni cadas di Pulau Muna, salah satunya Leang Metanduno.
Baca Lainnya :
- Sarjana Bisa Jadi Perwira Polri, SIPSS 2026 Resmi Dibuka
- Seluruh Jenazah Korban Pesawat ATR 42-500 yang Jatuh di Gunung Bulusaraung Berhasil Ditemukan
- Layanan Indihome Down Secara Nasional, Sebagian Pelanggan Tak Bisa Akses Internet
- Kepala BGN Pastikan Anak dari Pernikahan Siri hingga Putus Sekolah Bakal Kebagian MBG
- Dari Cemas sampai Depresi, Menkes Sebut Sekitar 28 Juta Orang Indonesia Punya Masalah Kejiwaan
Peneliti Pusat Riset Arkeometri BRIN, Adhi Agus Octavian mengatakan, situs ini tidak hanya menyimpan stensil cap tangan prasejarah, tetapi juga rangkaian gambar yang menggambarkan kehidupan manusia pada masa lalu.
“Di Metanduno ini tidak hanya ada tiga cap tangan. Banyak yang sudah tertutup koraloid. Yang menarik, di sini muncul narasi manusia modern dengan hewan dan lingkungannya,” ujar Adhi dalam konferensi pers di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Untuk melihat komposisi panel gambar secara menyeluruh, tim peneliti melakukan pemodelan tiga dimensi (3D) pada gua Leang Metanduno. Hasilnya menunjukkan dominasi gambar yang berkaitan dengan fase budaya penutur Austronesia.
Berbeda dengan seni cadas tertua yang umumnya hanya berupa stensil cap tangan, panel gambar di Leang Metanduno memperlihatkan perkembangan budaya manusia yang lebih kompleks. Pada fase ini, manusia telah mengenal pelayaran, domestikasi hewan, serta perburuan yang terorganisasi.
Dalam panel tersebut tampak figur hewan berukuran besar yang menyerupai kuda atau sapi, gambar perahu sebagai penanda kuat tradisi maritim, serta berbagai figur manusia. Meski sebagian gambar telah tertutup lapisan mineral atau koraloid, alur ceritanya masih dapat dikenali.
“Di sini kita tidak hanya melihat cap tangan, tetapi cerita tentang pelayaran, perburuan, domestikasi, dan kehidupan manusia modern di Nusantara,” tambahnya.
Sementara itu, Prof. Maxime Aubert menambahkan bahwa cap tangan berusia 67.800 tahun ini memiliki gaya visual khas yang hanya ditemukan di Sulawesi. Stensil tersebut dikenal sebagai stensil jari sempit, dengan bentuk jari yang memanjang dan runcing.
“Ini adalah jenis stensil yang hanya ditemukan di Sulawesi. Kami menyebutnya stensil jari sempit,” kata Maxime.
Kemunculan gaya stensil serupa pada lukisan berusia sekitar 20 ribu tahun di Sulawesi menunjukkan bahwa tradisi visual ini telah berlangsung sangat lama.
Temuan ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat penting narasi awal peradaban manusia di kawasan Asia–Pasifik. (Nul/Nl)










