- Irjen Rizal Irawan Resmi Ditunjuk Jadi Kapolda Sulteng, Gantikan Irjen Nasri
- Pemerintah Pangkas Antrean Haji, dari 49 Tahun Kini Jadi 14 Tahun
- Pajak Usaha Kuliner di Palu Turun Jadi 5 Persen, Berlaku untuk Warung hingga Lapak Non-Permanen
- Viral, Surat Resmi Bupati Sigi ke Menteri PU Jadi Bungkus Nasi Pecel di Jakarta, Bupati: Saya Sedih
- Jembatan Berani di Masungkang Banggai Diresmikan, Buka Akses Pendidikan dan Mobilitas Warga
- Kursi Menteri hingga Kapolri Berganti, Ini Daftar Reshuffle Terbaru yang Dilantik Prabowo
- Keren! Band Metal Asal Palu Ini Selipkan Bahasa Kaili hingga Gimba di Album Devastation Manifest
- Bangkep Diguncang Dua Kali Gempa Magnitudo 4,7, Tercatat di Sekitar Sesar Balantak
- Mulai 2027, Pajak Penghasilan Pekerja Bergaji di Bawah Rp10 Juta Ditanggung Pemerintah
- Mengurus Rumah Bukan Cuma Urusan Ibu, BPS Catat Ada 35 Ribu Bapak Rumah Tangga di Sulteng
Dulu, Masyarakat Lembah Palu Rela Menukar Seekor Sapi Demi Beli Kain Kulit Kayu di Kulawi

Keterangan Gambar : Kain kulit kayu khas Kulawi, Sulawesi Tengah. (Foto: Kemenparekraf)
Pada tahun 1940-an, kain kulit kayu bukan hanya sekadar pakaian, tetapi menjadi barang yang sangat berharga bagi masyarakat di Lembah Palu dan sekitarnya.
Kelangkaan bahan tekstil, terutama selama masa pendudukan Jepang, memaksa mereka mencari alternatif lain, hingga rela menukar seekor sapi demi mendapatkan selembar kain kulit kayu dari Kulawi.
Baca Lainnya :
Kain kulit kayu, yang dikenal dengan nama kumpe atau nunu, menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Kulawi dan Pandere di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.
Kain kulit kayu awalnya digunakan sebagai pakaian sehari-hari maupun untuk keperluan adat. Pembuatannya dilakukan secara mandiri oleh masyarakat, khususnya para ibu-ibu di Desa Kantewu dan sekitarnya.
Menurut para tetua adat, kain kulit kayu awalnya hanya diproduksi untuk kebutuhan lokal. Namun, Desa Kantewu kemudian menjadi pusat produksi kain kulit kayu, yang tak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat setempat, tetapi juga menarik perhatian penduduk luar Kulawi, khususnya dari Lembah Palu.
Dalam buku "Kumpe: Kain Kulit Kayu dalam Kehidupan Masyarakat Sulawesi Tengah", disebutkan bahwa pada masa sulit itu, masyarakat Lembah Palu terpaksa menggunakan karung goni sebagai pengganti pakaian. Dalam keadaan mendesak, mereka mendatangi Kulawi, terutama Desa Kantewu, untuk menukar barang berharga seperti seekor sapi dengan kain kulit kayu.




_2.jpg)





