- Gaji ke-13 ASN dan Pensiunan Mulai Cair Hari Ini, Cek Nominalnya
- Harga BBM Pertamina per 1 Juni Berubah, Pertamax Turbo Naik
- Sulteng Masuk Daerah Terbaik Pengendalian Inflasi di Sulawesi, Dapat Insentif Rp2 Miliar
- Palu dan Morowali Masuk Daerah Tujuan Migrasi Tertinggi di Sulteng
- Wakil Ketua MPR RI Akbar Supratman Sumbang Sapi Kurban di Masjid Raya Baitul Khairaat
- Kemendikdasmen Perbarui Kebijakan, Masuk SD Tak Lagi Harus Menunggu 7 Tahun
- Kendaraan di Palu Kini Wajib Menggunakan Plat Nomor Daerah
- Mandi Laut Usai Subuh, Warga Palu Barat Tewas Tenggelam di Kampung Nelayan
- Demi Efisiensi, Anggaran MBG 2026 Dipangkas Rp67 Triliun
- Siap-Siap Cair, Gaji Ke-13 ASN hingga Polri Mulai Dibayarkan Juni 2026
BMKG Waspadai Potensi El Nino 2026, Sulteng Berisiko Hadapi Kemarau Panjang

Keterangan Gambar : Kantor Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri. (Foto : Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Palu – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi terjadinya fenomena El Nino pada pertengahan tahun 2026 yang berisiko memicu musim kemarau lebih panjang dan kering di sejumlah wilayah, termasuk Sulawesi Tengah.
Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri, Asep Firman Ilahi, mengatakan hingga akhir Maret 2026 kondisi suhu muka laut di Samudera Pasifik masih berada pada fase netral.
Baca Lainnya :
- Packing House Durian di Parimo Resmi Beroperasi, Buka Peluang Ekspor dan Serapan Tenaga Kerja
- Fathur Razaq Gelar Halal Bihalal di Jogja untuk Warga Sulteng di Rantau
- Aktivis dan Mahasiswa di Sulteng Kecam Penyiraman Air Keras terhadap Andrie Yunus
- Dirlantas Polda Sulteng Ingatkan Jalur Rawan Longsor Saat Mudik, Pemudik Diminta Waspada
- Pemprov Sulteng Tegaskan Honor Nakes Non-ASN di Daerah Jadi Tanggung Jawab Pemda
Namun, terdapat kecenderungan menuju fase positif dalam beberapa bulan ke depan.
“Potensi kejadian El Nino ini ada kemungkinan 60 persen itu terjadi di akhir Mei, Juni-Juli-Agustus, dan kami BMKG tetap memantau itu dan memberikan informasi kepada masyarakat supaya lebih tenang, dan antisipatif dalam mengatasi kemungkinan El Nino tahun ini,” ujar Asep saat ditemui di kantornya, Sabtu (28/3).
Ia menjelaskan, El Nino merupakan fenomena global yang terjadi akibat anomali suhu muka laut di Samudera Pasifik yang lebih hangat dari kondisi normal.
Kondisi tersebut memicu pergeseran massa uap air ke wilayah Pasifik tengah sehingga curah hujan di Indonesia cenderung berkurang.
Menurut Asep, kejadian El Nino bukanlah fenomena baru dan telah berulang kali terjadi sejak puluhan tahun terakhir dengan intensitas yang bervariasi.
Beberapa peristiwa El Nino kuat bahkan tercatat menyebabkan musim kemarau berkepanjangan di Indonesia.
Ia menambahkan, secara umum periode musim kemarau di Sulawesi Tengah diperkirakan mulai berlangsung pada Juni hingga Oktober, dengan puncaknya terjadi pada Agustus.
“Periode musim kemaraunya mulai dari bulan Juni sampai dengan bulan Oktober, dengan puncaknya di bulan Agustus,” jelasnya.
Lebih lanjut, Asep mengungkapkan dampak El Nino di Sulawesi Tengah pada kejadian sebelumnya cukup dirasakan, terutama di sektor pertanian dan lingkungan.
Ia menyebut, pada tahun 2024 lalu, beberapa wilayah seperti Banggai dan Morowali sempat mengalami gagal panen akibat kekeringan.
Selain itu, potensi kebakaran hutan juga meningkat saat musim kemarau panjang, seperti yang pernah terjadi di wilayah Poso.
Kondisi kering juga berdampak pada penurunan kualitas udara yang berpotensi meningkatkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Asep juga menuturkan, sektor energi dan ketersediaan air menjadi aspek lain yang perlu diantisipasi.
Pada kejadian sebelumnya, debit air di Danau Poso bahkan sempat mengalami penurunan signifikan.
Karena itu, ia mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini, termasuk pengelolaan sumber daya air dan kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan.
“Artinya menejemen air untuk air bersih, pertanian, dan juga energi lebih bijak lagi,” pungkasnya. (Rul)










