BMKG Peringatkan Puncak Musim Hujan di Sulteng, Curah Hujan Tinggi hingga Januari 2026

By Inul Irfani 16 Des 2025, 13:44:15 WIB Iklim
BMKG Peringatkan Puncak Musim Hujan di Sulteng, Curah Hujan Tinggi hingga Januari 2026

Keterangan Gambar : Alat pengamatan BMKG di Palu, Sulawesi Tengah. (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)


Likeindonesia.com, Palu – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng) akan mengalami peningkatan potensi hujan selama Desember 2025 hingga Januari 2026.


Kondisi ini dipengaruhi oleh dinamika atmosfer, salah satunya adanya belokan angin atau shearline yang terpantau pada lapisan angin 300 feet di atas wilayah Sulawesi Tengah.

Baca Lainnya :


BMKG menjelaskan, keberadaan belokan angin tersebut berpotensi memicu pertumbuhan awan hujan secara signifikan.


Dampaknya, peluang terjadinya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat meningkat di sejumlah wilayah. 


Berdasarkan prakiraan BMKG melalui Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta pada 15 Desember 2025 pukul 13.00 WIB, dampak dinamika atmosfer ini diperkirakan berlangsung dalam 24 jam hingga 16 Desember 2025 pukul 13.00 WIB.


Dalam prakiraan curah hujan Desember 2025, wilayah Sulawesi Tengah diprediksi berada pada kisaran 100 hingga 500 milimeter. 


Angka tersebut masuk dalam kategori menengah hingga tinggi, dengan sebagian besar wilayah diperkirakan mengalami curah hujan menengah sekitar 201–300 milimeter sepanjang bulan Desember.


Sementara pada Januari 2026, curah hujan di Sulawesi Tengah diprakirakan masih relatif tinggi dengan kisaran 101 hingga 500 milimeter.


Kategori curah hujan didominasi menengah, meski beberapa wilayah berpotensi mengalami hujan tinggi hingga 500 milimeter.


Kepala BMKG Kelas II Mutiara SIS Al Jufrie Palu, Nur Alim, mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan seiring masuknya puncak musim hujan pada Desember 2025 hingga Januari 2026. 


Ia menegaskan bahwa meski siklon tropis tidak terbentuk langsung di wilayah Sulawesi Tengah, dampak tidak langsungnya tetap dirasakan.


“Secara umum, Sulawesi Tengah memasuki puncak musim hujan pada bulan Desember 2025 dan Januari 2026. Aktivitas siklon tropis yang semakin marak di sekitar wilayah Indonesia turut memengaruhi dinamika cuaca di daerah ini,” ujar Nur Alim, Selasa (16/12/2025).


BMKG juga memetakan sejumlah wilayah yang perlu mendapat perhatian khusus karena berpotensi terdampak bencana hidrometeorologi. 


Daerah tersebut antara lain Kabupaten Buol, Tolitoli, Donggala, Parigi Moutong, Poso, Morowali, dan Morowali Utara, terutama kawasan yang masuk dalam zona rawan banjir dan tanah longsor.


Selain kondisi daratan, BMKG turut memantau cuaca di wilayah perairan Sulawesi Tengah. 


Fokus utama saat ini adalah kecepatan angin dan tinggi gelombang yang berpotensi memengaruhi keselamatan transportasi laut.


“Untuk sementara, kondisi perairan Sulawesi Tengah masih relatif aman, dengan tinggi gelombang berkisar antara 50 hingga 150 sentimeter. Ini terutama berlaku untuk jalur transportasi laut di wilayah Banggai, Banggai Laut, dan Banggai Kepulauan,” jelas Nur Alim.


BMKG mengingatkan, puncak musim hujan berpotensi menimbulkan genangan dan banjir, khususnya di kawasan perkotaan dan permukiman padat penduduk. 


Masyarakat diimbau melakukan langkah pencegahan sederhana, seperti membersihkan saluran drainase dan membuat lubang biopori di sekitar rumah.


“Distribusi air hujan harus lancar agar tidak terjadi limpahan air yang terhambat menuju sungai, danau, atau laut di sekitar wilayah Sulawesi Tengah,” katanya.


BMKG juga memberikan perhatian khusus terhadap aktivitas perjalanan darat selama libur Natal dan Tahun Baru. 


Masyarakat yang melakukan perjalanan diimbau menghindari perjalanan malam hari karena jarak pandang kerap terganggu hujan lebat dan kabut.


Lebih lanjut, Nur Alim menegaskan bahwa meskipun indikator curah hujan masih berada pada level aman, kondisi lingkungan yang rusak membuat potensi bencana tetap tinggi.


“Ini yang sangat krusial. Dengan kondisi lingkungan yang sudah rusak, hujan kategori waspada pun bisa menimbulkan dampak bencana hidrometeorologi. Oleh karena itu, daerah-daerah rawan harus benar-benar diperhatikan,” tegas Nur Alim. (Rul/Nl)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.