- Bupati Sigi Buka Suara soal Jenazah Mantan Kades Diantar Pakai Ojek, Upayakan Akses Jalan Memadai
- KONI Sulteng Apresiasi Perkembangan Kickboxing dalam Musprov II KBI
- Lapor ke Prabowo, Kepala BNPB Sebut Karhutla Diprediksi Mereda Mulai Pertengahan Oktober
- 2.540 Pekerja di Sulteng Kena PHK Sepanjang Januari-September 2026
- Salena Dilanda Krisis Air Bersih, Sungai Mengering akibat El Nino
- Ratusan Personel Gabungan Gerebek Lokasi Peredaran Narkoba di Kayumalue, 7 Orang Diamankan
- Antrean Solar di SPBU Diponegoro Palu Berujung Penganiayaan, Sopir Truk Dipukul Pakai Batako
- Aturan Wajib Halal Berlaku 18 Oktober, BPJPH Wanti-wanti Penipuan Berkedok Sanksi
- Kabut Asap Karhutla Meluas di Sulteng, Gubernur Imbau Warga Pakai Masker
- Sarang Narkoba di Tavanjuka Palu Digerebek, Bong hingga Senjata Tajam Diamankan
Buya Subi Festival 2026 Digelar di Pantai Towale, Dorong Tenun Donggala Go Internasional

Keterangan Gambar : Buya Subi Festival 2026 resmi digelar di Pantai Towale, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Selasa (7/7/2026). (Foto: Biro Adpim Pemprov Sulteng)
Likeindonesia.com, DONGGALA – Buya Subi Festival 2026 resmi digelar di Pantai Towale, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Selasa (7/7/2026).
Festival bertema Handmade for the Earth ini menjadi ajang untuk memperkenalkan sekaligus mendorong tenun khas Donggala agar mampu menembus pasar internasional.
Baca Lainnya :
- Warga Sulteng Makin Rajin Jalan-Jalan, Tembus 5,09 Juta Perjalanan dalam Lima Bulan
- Masa Tanggap Darurat Gempa di Sulteng Berakhir, Bantuan untuk Korban Dipastikan Tetap Berjalan
- 428 Gempa Terjadi di Sulteng dalam Sepekan
- Bantuan untuk Korban Gempa di Sulteng Bertambah, PT Donggi Senoro LNG Serahkan Kasur hingga Selimut
- Tiga Wilayah Sulteng Diguncang Gempa pada 1 Juli, Terkuat di Sigi
Dalam sambutannya, Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Reny A. Lamadjido, mengatakan Buya Subi Festival bukan sekadar agenda budaya, tetapi juga menjadi bukti bahwa Sulawesi Tengah memiliki tenun khas Donggala yang bernilai tinggi, sarat filosofi kehidupan, dan berpotensi menjadi bagian dari industri fashion berkelanjutan di tingkat nasional maupun internasional.
Untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya tersebut, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah akan membahas rencana menghadirkan jurusan khusus tenun di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Langkah ini dinilai penting karena sebagian besar penenun saat ini berasal dari kalangan usia lanjut sehingga regenerasi perlu segera dilakukan.
“Jangan sampai tenun kita hilang karena para pengrajinnya didominasi generasi yang sudah lanjut usia. Regenerasi harus dilakukan agar warisan budaya ini tetap hidup dan berkembang,” ujarnya.
Menurutnya, festival tidak boleh berhenti pada kegiatan pameran semata, tetapi juga harus mendorong masyarakat membeli dan menggunakan produk tenun lokal secara berkelanjutan agar memberikan dampak nyata bagi peningkatan ekonomi para perajin.
Ia menilai warna, motif, dan kualitas serat kain tenun Donggala memiliki daya saing tinggi. Karena itu, para perajin didorong terus meningkatkan kualitas serta menghadirkan desain yang mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan identitas budaya lokal.
“Pemerintah ingin kualitas terus meningkat dengan desain yang lebih modern, tetapi tetap mempertahankan identitas budaya Donggala,” katanya.
Melalui Buya Subi Festival 2026, diharapkan lahir berbagai kerja sama strategis yang mampu memperkuat promosi pariwisata, memberdayakan UMKM, sekaligus membuka akses pasar internasional bagi produk unggulan Sulawesi Tengah.
Kehadiran CEO Eco Fashion Week Australia (EFWA), Zuhal Kuvan Mills, juga dinilai menjadi peluang besar untuk memperkenalkan tenun khas Donggala ke pasar dunia.
“Mari jadikan festival ini sebagai ruang belajar, ruang berkarya, ruang berkolaborasi, sekaligus ruang membangun masa depan ekonomi kreatif Sulawesi Tengah yang inklusif dan berkelanjutan,” tutupnya. (nul)


_3.jpg)







