- Siap-siap! Ada Pengganti LPG 3 Kg yang Diklaim Lebih Ringan, Harganya Tetap Sama
- Masa Tanggap Darurat Gempa di Sulteng Berakhir, Bantuan untuk Korban Dipastikan Tetap Berjalan
- 428 Gempa Terjadi di Sulteng dalam Sepekan
- Bantuan untuk Korban Gempa di Sulteng Bertambah, PT Donggi Senoro LNG Serahkan Kasur hingga Selimut
- Tiga Wilayah Sulteng Diguncang Gempa pada 1 Juli, Terkuat di Sigi
- Ini Daerah dengan Pengeluaran Makanan dan Minuman Jadi Tertinggi di Sulteng, Palu dan Poso Teratas
- Harganas 2026, Orang Tua di Sulteng Diminta Bijak Dampingi Anak Gunakan Gawai
- Suhu Palu Tembus 34,7 Derajat, Wagub Ajak Masyarakat Lebih Peduli Perubahan Iklim
- Palu Catat Suhu Maksimum 35 Derajat, Jadi Wilayah Terpanas Kedua di RI
- 50 Huntara Mulai Dibangun untuk Warga Terdampak Gempa di Sigi
Masa Tanggap Darurat Gempa di Sulteng Berakhir, Bantuan untuk Korban Dipastikan Tetap Berjalan

Keterangan Gambar : Rapat Koordinasi Penanganan Darurat Bencana Gempa Bumi pascagempa yang melanda Kabupaten Sigi dan Kabupaten Parigi Moutong, Kamis (2/7/2026). (Foto: Ro Adpim Pemprov Sulteng)
Likeindonesia.com, PALU – Masa tanggap darurat bencana gempa bumi di Sulawesi Tengah resmi berakhir. Namun, bantuan dan penanganan bagi masyarakat terdampak dipastikan tetap berjalan meski status penanganan telah memasuki masa transisi menuju pemulihan.
Hal itu mengemuka dalam Rapat Koordinasi Penanganan Darurat Bencana Gempa Bumi pascagempa yang melanda Kabupaten Sigi dan Kabupaten Parigi Moutong, Kamis (2/7/2026).
Baca Lainnya :
- 428 Gempa Terjadi di Sulteng dalam Sepekan
- Bantuan untuk Korban Gempa di Sulteng Bertambah, PT Donggi Senoro LNG Serahkan Kasur hingga Selimut
- Tiga Wilayah Sulteng Diguncang Gempa pada 1 Juli, Terkuat di Sigi
- Ini Daerah dengan Pengeluaran Makanan dan Minuman Jadi Tertinggi di Sulteng, Palu dan Poso Teratas
- Harganas 2026, Orang Tua di Sulteng Diminta Bijak Dampingi Anak Gunakan Gawai
Rapat koordinasi tersebut membahas perkembangan penanganan bencana pascagempa bumi yang terjadi pada 16 Juni 2026, termasuk evaluasi masa tanggap darurat, transisi menuju masa pemulihan, percepatan pendataan kerusakan, hingga strategi penanganan masyarakat terdampak dalam jangka menengah dan panjang.
Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid menegaskan, berakhirnya masa tanggap darurat tidak boleh menghentikan penanganan terhadap masyarakat terdampak. Menurutnya, perubahan status hanya merupakan mekanisme administrasi, sementara komitmen pemerintah untuk melindungi masyarakat harus terus berjalan hingga seluruh warga benar-benar pulih.
“Penanganan korban bencana ini harus terus berjalan apapun statusnya. Mau status tanggap darurat, transisi, atau status lainnya, itu sesungguhnya hanya istilah administratif. Yang paling penting, penanganan terhadap masyarakat tidak boleh menurun. Jaminan kehidupan masyarakat terdampak harus tetap kita pastikan sampai mereka benar-benar pulih,” tegas Anwar.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), total terdapat 4.210 unit rumah terdampak akibat gempa, terdiri atas 4.012 unit di Kabupaten Sigi, 92 unit di Kabupaten Parigi Moutong, 18 unit di Kabupaten Poso, dan 88 unit di Kota Palu.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.551 rumah mengalami kerusakan ringan, 1.195 rumah rusak sedang, dan 266 rumah mengalami rusak berat.
Anwar menekankan pentingnya pendataan yang akurat sebagai dasar penyusunan program rehabilitasi dan rekonstruksi.
“Persoalan utama kita adalah data. Saya ingin memastikan apakah data yang kita miliki sudah lengkap dan valid, termasuk tingkat kerusakan rumah masyarakat. Karena ketika kita masuk tahap pemulihan, semuanya akan bergantung pada data yang akurat,” ujarnya.
Selain pendataan, pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat menjadi kebutuhan paling mendesak. Huntara yang disiapkan merupakan hunian semi permanen agar masyarakat memiliki tempat tinggal yang layak sambil menunggu pembangunan hunian tetap.
“Tentu yang paling mendesak sekarang adalah hunian sementara. Bukan lagi tenda, tetapi huntara semi permanen yang bisa digunakan masyarakat dalam waktu cukup panjang. Jangan sampai bantuan pembangunan berhenti di tengah jalan karena hal itu dapat memicu keresahan masyarakat. Sebelum pembangunan selesai, harus ada kepastian bantuan lanjutan atau alternatif pembiayaan lain,” katanya.
Sementara itu, Bupati Sigi Mohamad Rizal Intjenae mengatakan pemerintah daerah terus mempercepat penanganan pascabencana meski telah memasuki masa transisi menuju pemulihan.
Ia menjelaskan, gempa menyebabkan tiga korban jiwa di Kabupaten Sigi, sementara 266 rumah rusak berat menjadi prioritas percepatan pembangunan hunian sementara. Pemerintah daerah juga telah memulihkan akses jalan menuju wilayah Lembah Tongoa sehingga kembali dapat dilalui kendaraan serta terus memperbaiki distribusi air bersih di wilayah terdampak.
“Kami memang sudah masuk masa transisi, tetapi seluruh pekerjaan yang belum selesai saat masa tanggap darurat tetap kami lanjutkan. Fokus kami sekarang adalah percepatan pemulihan agar masyarakat bisa segera kembali beraktivitas normal,” ujar Rizal. (nul)


.jpg)






