- Dari Sigi hingga Banggai Laut, Proyek Jalan dan Jembatan Rp604,8 Miliar Mulai Bergulir di Sulteng
- Tepati Janji, Wakil Ketua MPR RI Kunjungi Sekolah Terpencil di Parigi Moutong
- Lalampa Toboli Diproyeksikan Jadi Ikon Wisata Kuliner Sulawesi Tengah
- Sigi Jadi Tuan Rumah MTQ Sulteng 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Membumikan Nilai-Nilai Keagamaan
- Gempa Magnitudo 7,7 di Sulut, Tsunami Terdeteksi di Sejumlah Wilayah Sulawesi dan Maluku
- Hadiri HUT ke-50 Tahun Transmigrasi Tinombala, Anwar Hafid Dorong Hasil Pertanian Diolah di Sulteng
- BGN Atur Ulang Sebaran Dapur MBG, Maksimal Enam per Kecamatan
- Aktivitas Lempeng Laut Sulawesi Picu Gempa Magnitudo 5,4 di Banggai
- Masyarakat Lima Desa di Sigi Gelar Morra Keke, Tradisi Memohon Turunnya Hujan
- Rupiah Makin Melemah, Kurs Dolar Menyentuh Rp18.000 Hari Ini
Banua Oge Sauraja: Warisan 143 Tahun yang Terus Hidup di Tengah Kota Palu

Keterangan Gambar : Banua Oge Sauraja. (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Palu – Di tengah perkembangan Kota Palu yang semakin modern, bangunan berusia lebih dari satu abad masih berdiri kokoh di Kampung Lere.
Banua Oge Sauraja, bekas rumah Kerajaan Palu yang dibangun pada tahun 1892, kini menjadi salah satu cagar budaya penting di Sulawesi Tengah sekaligus destinasi wisata sejarah yang ramai dikunjungi.
Baca Lainnya :
- Pembangunan IKN Melambat, Penerimaan Pajak Galian C Palu Anjlok
- Kaili Jadi Salah Satu Etnis Paling Banyak di Indonesia, Masuk 25 Besar
- BKSDA Selidiki Penyebab Kematian Buaya Muara yang Terdampar di Teluk Palu
- Wakapolda Sulteng Tegaskan Larangan Pungli Saat Operasi Zebra Tinombala 2025
- Operasi Zebra Tinombala 2025 Dimulai, Roda Dua Jadi Prioritas Penindakan
Pengawas Cagar Budaya Kota Palu, Mehdiantara Datupalinge, menjelaskan bahwa Banua Oge Sauraja merupakan rumah adat yang memegang peran besar dalam sejarah pemerintahan lokal.
“Cagar Budaya Banua Oge Sauraja merupakan eks Kerajaan Palu yang dimana berdiri pada tahun 1892 dan sekarang menjadi cagar budaya Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah,” ujarnya diwawancarai media ini di lokasi, Selasa (18/11) pagi.
Bangunan ini dulunya berfungsi sebagai tempat tinggal keluarga raja sekaligus pusat pemerintahan.
Seluruh komponennya terbuat dari material kayu, dengan perpaduan arsitektur dua daerah.
Mehdiantara menyebut rumah adat tersebut menggabungkan unsur budaya Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan.
Ia menambahkan bahwa salah satu ciri khasnya tampak pada struktur tangga.
“Di satu sisi rumah ini memiliki dua buah anak tangga kanan dan kiri dengan jumlah anak tangga itu ganjil,” katanya.
Keberadaan Banua Oge Sauraja juga menjadi bukti ketahanan arsitektur tradisional terhadap bencana.
Mehdiantara menjelaskan bahwa pascagempa Palu pada 2018, bangunan ini menjadi contoh edukasi mengenai kekuatan konstruksi rumah adat.
Rumah ini disebutnya sebagai bukti bahwa sistem bangunan tradisional mampu bertahan dari guncangan gempa.
Kini, fungsi Banua Oge Sauraja berkembang sebagai ruang publik budaya.
Gedung yang dulu digunakan untuk urusan kerajaan dan sidang adat, kini menjadi lokasi berbagai kegiatan seni, sosial, keagamaan, hingga event budaya.
Menurut Mehdiantara, bangunan itu memiliki sifat living monument, yaitu cagar budaya yang hidup dan aktif digunakan masyarakat.
“Berhubung rumah ini memiliki sifat living monumen, akhirnya ruang ini bisa menjadi ruang publik bukan hanya persoalan sidang adat tapi event yang berbau kesenian, sosial, keagamaan maupun budaya,” jelasnya.
Selain menjadi pusat kegiatan masyarakat, Banua Oge Sauraja juga menjadi lokasi edukasi sejarah yang penting bagi generasi muda.
Mehdiantara berharap situs-situs tua di Palu terus dirawat dan dimaksimalkan untuk pembelajaran sejarah.
“Harapannya ke depan agar situs-situs, peradaban-peradaban tua bisa menjadi salah satu edukasi untuk masa depan, untuk generasi muda,” tutupnya. (Rul/Nl)










