- BGN Atur Ulang Sebaran Dapur MBG, Maksimal Enam per Kecamatan
- Aktivitas Lempeng Laut Sulawesi Picu Gempa Magnitudo 5,4 di Banggai
- Masyarakat Lima Desa di Sigi Gelar Morra Keke, Tradisi Memohon Turunnya Hujan
- Rupiah Makin Melemah, Kurs Dolar Menyentuh Rp18.000 Hari Ini
- Bapenda Sulteng Benahi Pajak Daerah, Sasar BBM, Air, Sampai Alat Berat
- Tingkatkan Kapasitas Relawan se-Sulawesi, ID Humanity Dompet Dhuafa dan PMI Gelar Pelatihan P2
- Presiden Ganti Kepala BGN, Dadan Hindayana Dicopot
- Kemendagri Gelar Rakor Produk Hukum Daerah di Palu, Soroti Membludaknya Regulasi Daerah
- Resmi Berakhir! Armada RJA Keluar sebagai Juara Berani Cup Donggala 2026
- Gaji ke-13 ASN dan Pensiunan Mulai Cair Hari Ini, Cek Nominalnya
Masyarakat Lima Desa di Sigi Gelar Morra Keke, Tradisi Memohon Turunnya Hujan
.jpg)
Keterangan Gambar : Masyarakat dari lima desa di Kabupaten Sigi menggelar tradisi adat Morra Keke di Sungai Wonu, Kamis (4/2/2026). (Foto: Istimewa)
Likeindonesia.com, SIGI – Masyarakat dari lima desa di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, kembali melaksanakan ritual adat Morra Keke di Sungai Wuno pada Kamis (4/6/2026).
Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun tersebut digelar sebagai bentuk ikhtiar masyarakat dalam memohon turunnya hujan di tengah musim kemarau yang mulai berdampak pada lahan pertanian warga.
Baca Lainnya :
- Bapenda Sulteng Benahi Pajak Daerah, Sasar BBM, Air, Sampai Alat Berat
- Kemendagri Gelar Rakor Produk Hukum Daerah di Palu, Soroti Membludaknya Regulasi Daerah
- Resmi Berakhir! Armada RJA Keluar sebagai Juara Berani Cup Donggala 2026
- Sulteng Masuk Daerah Terbaik Pengendalian Inflasi di Sulawesi, Dapat Insentif Rp2 Miliar
- Palu dan Morowali Masuk Daerah Tujuan Migrasi Tertinggi di Sulteng
Ritual ini melibatkan masyarakat dari Desa Watunonju, Desa Sidera, Desa Oloboju, Desa Bora, dan Desa Solove.
Sungai Wuno dipilih sebagai lokasi pelaksanaan karena selama ini menjadi sumber kehidupan yang dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun mengairi lahan pertanian.
Aswan Meni dari Lembaga Adat Desa Watunonju mengatakan, Morra Keke bukan sekadar ritual adat, melainkan bentuk ikhtiar dan pengharapan masyarakat kepada Sang Pencipta.
“Kegiatan ini merupakan bentuk ikhtiar masyarakat dalam memohon kepada Sang Pencipta untuk meminta hujan,” ujarnya.
Prosesi adat tersebut dimulai sejak pagi hari. Masyarakat dari lima desa berkumpul di tepian sungai dengan membawa berbagai perlengkapan adat.
Prosesi diawali dengan pelaksanaan sejumlah ritual yang telah diwariskan oleh leluhur, termasuk penyembelihan hewan berupa ayam, domba, kambing, anjing, dan babi sebagai bagian dari tata cara adat yang telah dijalankan selama beberapa generasi.
Suasana ritual berlangsung khidmat dengan iringan tabuhan gendang yang bergema di sepanjang aliran Sungai Wuno. Masyarakat juga terlibat dalam berbagai kegiatan pendukung, seperti memarut kelapa dan menyiapkan kebutuhan ritual, sembari mengikuti doa-doa yang dipanjatkan oleh para pemangku adat.
Setelah seluruh prosesi adat selesai dilaksanakan, kegiatan ditutup dengan Makan Bersama Uta Uvempoi yang diikuti seluruh peserta ritual. Hidangan yang berasal dari hasil penyembelihan kambing dan domba disantap bersama sebagai simbol rasa syukur, kebersamaan, dan persatuan masyarakat lima desa.
Pelaksanaan Morra Keke tahun ini dilatarbelakangi oleh kondisi kemarau yang menyebabkan sejumlah lahan pertanian mengalami kekeringan. Bagi masyarakat yang sebagian besar menggantungkan hidup pada sektor pertanian, hujan memiliki peran penting dalam menunjang keberlangsungan panen dan kebutuhan hidup sehari-hari.
Kegiatan tersebut terlaksana melalui kerja sama antara lembaga adat, pemerintah desa, dan masyarakat dari lima desa dengan dukungan dana swadaya yang dihimpun secara gotong royong.
Selain menjadi tradisi memohon hujan, Morra Keke juga menjadi ruang untuk memperkuat hubungan sosial antarwarga, menjaga warisan budaya leluhur, serta merawat harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. (nul)









