- 76 Konflik Agraria Tercatat di Sulteng, Pemprov Gandeng KPK dan ATR/BPN Perkuat Pencegahan Korupsi
- Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Bakal Ditanggung APBN Selama Dua Tahun
- Mulai 3 Agustus, Pemprov Sulteng Berlakukan Bebas Denda dan Diskon Pokok PKB 50 Persen
- Siap-Siap! Kompor Listrik Gratis Bakal Dibagikan Mulai 2027
- Peneliti Muda Dorong Pengusulan Tradisi Lisan Nompaova sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
- Diduga Curi Motor, Pria Asal Sinjai Tewas Dikeroyok Massa di Morowali
- 12 Wisatawan yang Hilang Kontak di Teluk Tomini Ditemukan Selamat, Dievakuasi ke Ampana
- 13 Wisatawan Hilang Kontak di Perairan Teluk Tomini, Kini Masih dalam Pencarian
- Akhiri Risiko Warga Menyeberang Sungai, Anwar Hafid Bangun Jembatan di Masungkang Pakai Dana Pribadi
- MK Putuskan Sisa Kuota Internet Tak Boleh Hangus, Harus Tetap Bisa Dipakai
Rencana Pengelolaan Sungai Karaopa Morowali, Syarifudin Hafid Ingatkan Hak Petani

Keterangan Gambar : Wakil Ketua DPRD Propinsi Sulawesi Tengah, Syarifudin Hafid. (Foto : Istimewa)
Likeindonesia.com, Palu - Rencana pengelolaan Sungai Karaopa di Kabupaten Morowali oleh PT BTIIG mendapat sorotan dari Wakil Ketua DPRD Sulawesi Tengah, Syarifudin Hafid. Ia menegaskan bahwa hak-hak petani di wilayah Witaponda dan Bumi Raya harus menjadi pertimbangan utama sebelum adanya langkah investasi atau pembangunan yang memanfaatkan sumber daya air tersebut.
“Di republik ini, kedaulatan tertinggi ada di tangan rakyat. Karena itu, setiap perusahaan yang ingin memanfaatkan sumber daya di suatu wilayah, wajib membangun dialog terbuka dengan masyarakat desa setempat. Jangan ada keputusan sepihak,” kata Syarifudin Hafid kepada Teraskabar.id, dikutip Selasa (15/07/2025).
Baca Lainnya :
- Gegas Bangun SDM, Kampus Untad Bakal Hadir di Bangkep
- Dirlantas Polda Sulteng: Operasi Patuh Tak Fokus pada Penindakan Kendaraan ODOL
- Operasi Patuh di Sulteng Fokus pada Pelanggaran Kasat Mata, Bukan Pemeriksaan Surat Kendaraan
- Polda Sulteng Jadwalkan Pemeriksaan Para Leader OMC Wilayah Pekan Ini
- Operasi Patuh Tinombala 2025 Dimulai, 729 Personel Dikerahkan untuk Tertib Lalu Lintas di Sulteng
Syarifudin menyoroti pentingnya Sungai Karaopa sebagai sumber air penyangga lahan pertanian di Witaponda dan Bumi Raya, dua kecamatan yang selama ini menjadi penopang ketahanan pangan daerah. Politikus Partai Demokrat itu menegaskan agar kawasan tersebut tetap dipertahankan sebagai zona pangan.
“Pemerintah harus hadir memberikan jalan keluar yang adil dan menguntungkan rakyat. Petani adalah kekuatan utama dalam menjaga ketahanan pangan. Jangan sampai wilayah ini berubah fungsi tanpa pertimbangan yang matang,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan keadilan sosial. Menurutnya, investasi tidak boleh merampas hak-hak dasar masyarakat lokal, terutama akses air untuk pertanian.
“Dialog dengan masyarakat bukan hanya formalitas. Itu adalah proses demokratis yang mencerminkan penghargaan terhadap suara rakyat. Kalau perusahaan sungguh-sungguh berniat baik, mereka harus siap duduk bersama dengan warga desa, khususnya para petani,” tambahnya.
Syarifudin juga meminta pemerintah kabupaten dan provinsi untuk memperkuat perlindungan kawasan produktif serta memastikan regulasi yang jelas agar investasi tidak memicu konflik di masyarakat.
“Jangan sampai kita kehilangan sumber pangan hanya karena gagal membaca arah pembangunan secara menyeluruh. Witaponda dan Bumi Raya harus dijaga sebagai modal penting bagi masa depan Sulawesi Tengah,” tandasnya. (Nl)










