- FR Cup Volleyball Tournament 2026 Resmi Berakhir, Fathur Razaq: Bukan Ending, Tapi Beginning
- Menaker Larang Lowongan Kerja Cantumkan Syarat Good Looking dan Usia
- Soal Pajak Rumah Kontrakan, Purbaya Tegaskan Tak Ada Pajak Baru
- Pengguna Pertalite Akan Dibatasi Mulai Akhir Tahun, Pemerintah Tegaskan Motor Tak Terdampak
- Durian Vulcano Indonesia Didorong Jadi Brand Durian Sulteng untuk Pasar Dunia
- Durian Beku Sulteng Laris di China, Ekspor Capai 7.344 Ton
- Rp18,9 Triliun Cair ke 546 Pemda, Buat Bayar Gaji PPPK
- Terungkap Setelah Dua Tahun Hilang, Paramitha Dibunuh Sopir Travel saat Perjalanan ke Morowali
- Perkembangan Kasus Pembunuhan Keluarga di Duyu, 9 Saksi Diperiksa dan Pelaku Masih Diburu Polisi
- 180 Gempa di Sulteng Tercatat pada Minggu Pertama Agustus
Hilal Tak Terlihat di Donggala, Awal Ramadan 1447 H Berpotensi 19 Februari 2026

Keterangan Gambar : Pemantauan hilal untuk penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah di Gedung Pengamatan Hilal Desa Marana, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, Selasa (17/2/2026). (Foto : Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Donggala — Pemantauan hilal untuk penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah di Gedung Pengamatan Hilal Desa Marana, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, Selasa (17/2/2026), menunjukkan posisi hilal masih berada di bawah ufuk sehingga tidak memungkinkan terlihat.
Berdasarkan hasil hisab dan kondisi astronomis, besar kemungkinan bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari, sehingga awal Ramadan berpotensi jatuh pada 19 Februari 2026 atau dimulai sejak malam Kamis.
Baca Lainnya :
- Anggota DPD RI Andhika Mayrizal Fasilitasi Khitanan Massal dan USG Ibu Hamil Gratis di Banggai Laut
- Wakil Ketua MPR Kawal Langsung Pembangunan Jembatan di Tiga Titik Sulteng
- Fajar Al Amri Tampil Lawan Ketua POBSI Sulteng di Funmatch Palu
- Jelang Penentuan Awal Ramadan, Pengamatan Hilal di Sulteng Bakal Digelar di Desa Marana
- Pre Launching Bandara Internasional Mutiara SIS Al-Jufri, Dua Rute Baru Segera Dibuka
Perwakilan Lajnah Lembaga Falaqiah Madinatul Ilmi Dolo, Ustadz Syarif, menjelaskan bahwa posisi hilal secara lokal berada di bawah ufuk.
“Adapun tinggi hilal di lokasi ini berada pada minus 1 derajat 35 menit 35 detik, artinya masih di bawah ufuk,” ujarnya saat pemaparan hasil hisab.
Ia menuturkan kondisi tersebut dipengaruhi waktu terbenam bulan yang lebih dulu dibanding matahari.
Matahari terbenam pukul 18.18 WITA, sementara bulan sudah terbenam pukul 18.12 WITA.
“Dengan demikian, bulan terbenam enam menit sebelum matahari. Kondisi ini membuat hilal tidak mungkin terlihat karena sebelum matahari terbenam, bulan sudah lebih dahulu berada di bawah ufuk,” katanya.
Selain itu, ijtima atau konjungsi juga terjadi setelah matahari terbenam.
Ia menyebutkan konjungsi berlangsung pukul 20.01 WITA, sehingga secara astronomis peluang terlihatnya hilal sangat kecil.
Secara nasional, ketinggian hilal pada 17 Februari 2026 berada pada rentang minus 2,41 derajat hingga minus 0,93 derajat di seluruh wilayah Indonesia. Dengan demikian, hilal dipastikan masih berada di bawah ufuk.
Ia menambahkan, pada 18 Februari 2026 posisi hilal diperkirakan sudah berada di atas ufuk dengan ketinggian antara 7,62 derajat hingga 10,3 derajat di berbagai wilayah Indonesia.
Menurutnya, penetapan awal bulan di Indonesia mengacu pada kriteria MABIMS dengan syarat tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.
Berdasarkan hasil hisab hari ini, kriteria tersebut tidak terpenuhi. Ia juga menjelaskan Indonesia menganut prinsip matla’ wilayah hukum sebagaimana dijelaskan Majelis Ulama Indonesia dalam fatwanya, sehingga seluruh wilayah Indonesia menjadi satu kesatuan dalam penetapan awal bulan.
Menurutnya, hasil rukyat di dalam negeri menjadi dasar penetapan, bukan pengamatan dari negara lain.
Karena itu pemerintah menunggu laporan rukyat dari seluruh wilayah Indonesia sebelum menetapkan awal Ramadan melalui sidang isbat.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tengah, Junaidin, mengatakan pemantauan hilal di Desa Marana merupakan bagian dari ikhtiar bersama dalam menentukan awal Ramadan.
Ia menyatakan rukyatul hilal menjadi dasar pelaksanaan ibadah puasa sebagaimana ajaran Nabi Muhammad SAW.
Ia juga menjelaskan secara teknis posisi hilal di Sulawesi Tengah masih berada di bawah ufuk sekitar minus 1 derajat, dengan bulan terbenam lebih dahulu dibanding matahari.
Ia menambahkan, perkiraan ketinggian hilal pada 18 Februari sekitar 7 derajat dan telah melewati kriteria MABIMS.
Namun untuk hari ini posisi hilal masih di bawah 3 derajat sehingga belum memenuhi standar visibilitas.
Pemantauan hilal di Desa Marana melibatkan unsur BMKG dan Kementerian Agama Republik Indonesia sebagai bagian dari rangkaian rukyat nasional menjelang penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah. (Rul/Nl)


.jpg)







