- Irjen Rizal Irawan Resmi Ditunjuk Jadi Kapolda Sulteng, Gantikan Irjen Nasri
- Pemerintah Pangkas Antrean Haji, dari 49 Tahun Kini Jadi 14 Tahun
- Pajak Usaha Kuliner di Palu Turun Jadi 5 Persen, Berlaku untuk Warung hingga Lapak Non-Permanen
- Viral, Surat Resmi Bupati Sigi ke Menteri PU Jadi Bungkus Nasi Pecel di Jakarta, Bupati: Saya Sedih
- Jembatan Berani di Masungkang Banggai Diresmikan, Buka Akses Pendidikan dan Mobilitas Warga
- Kursi Menteri hingga Kapolri Berganti, Ini Daftar Reshuffle Terbaru yang Dilantik Prabowo
- Keren! Band Metal Asal Palu Ini Selipkan Bahasa Kaili hingga Gimba di Album Devastation Manifest
- Bangkep Diguncang Dua Kali Gempa Magnitudo 4,7, Tercatat di Sekitar Sesar Balantak
- Mulai 2027, Pajak Penghasilan Pekerja Bergaji di Bawah Rp10 Juta Ditanggung Pemerintah
- Mengurus Rumah Bukan Cuma Urusan Ibu, BPS Catat Ada 35 Ribu Bapak Rumah Tangga di Sulteng
BMKG: Supermoon Terbesar Tahun Ini Terjadi November, Fenomena Berikutnya Menyusul Desember

Keterangan Gambar : Supermoon. (Foto: Nurhayati Pimpilemba)
Likeindonesia.com, Palu - Bagi yang semalam melewatkan keindahan bulan purnama raksasa di langit, jangan khawatir.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Palu memastikan fenomena supermoon masih bisa disaksikan kembali pada 4 Desember 2025 mendatang.
Baca Lainnya :
- Kenal Pamit Kapolda Sulteng, Irjen Endi Sutendi Resmi Gantikan Irjen Agus Nugroho
- Isu PPPK Siluman Mencuat, Honorer Sorot Dugaan Ordal
- Polda Sulteng Siagakan Personel Hadapi Ancaman Cuaca Ekstrem
- Palu Kurangi 7 Ribu Ton Sampah per Tahun, Tertinggi di Sulteng
- PKM BEM Berdampak Unisa Palu Latih Warga Sigi Olah Bubuk Daun Kelor untuk Cegah Stunting
Koordinator Data dan Informasi Stasiun Geofisika BMKG Palu, Nurhayati Pimpilemba, menjelaskan bahwa fenomena supermoon adalah istilah populer untuk menggambarkan posisi bulan pada saat purnama berada di titik terdekatnya dengan bumi, atau disebut perigee.
“Memang supermoon ini istilah populer untuk menggambarkan posisi bulan pada saat purnama berada pada titik terdekatnya dengan bumi. Jadi tampak lebih terang dan sedikit lebih besar secara visual,” ujar Nurhayati, saat ditemui di kantor BMKG Stasiun Geofisika Palu, Kamis (6/11) sore.
Menurut BMKG, posisi bulan yang lebih dekat dengan bumi membuatnya terlihat 30 persen lebih terang dan 14 persen lebih besar dibanding purnama biasa.
Hal itu terjadi karena lintasan orbit bulan berbentuk elips, sehingga pada waktu tertentu bulan bisa berada sangat dekat, dan di waktu lain sangat jauh dari bumi.
Nurhayati menjelaskan, sepanjang tahun 2025 fenomena supermoon fase purnama terjadi tiga kali, yakni pada 7 Oktober, 5 November, dan 4 Desember.
Dari ketiganya, supermoon yang terjadi 5 November merupakan yang terbesar karena bulan berada pada titik terdekat dari bumi sepanjang tahun ini.
Meski sering dikaitkan dengan potensi bencana alam seperti gempa bumi atau cuaca ekstrem, BMKG menegaskan tidak ada hubungan ilmiah antara supermoon dan kejadian bencana.
Ia menegaskan, efek fenomena ini terhadap bumi hampir tidak signifikan.
“Kalaupun ada efeknya sangat kecil, karena pada saat supermoon posisi bulan sangat dekat dengan bumi, jadi gravitasinya sedikit lebih besar. Efek gravitasinya akan menimbulkan pasang yang sedikit lebih tinggi dari pasang maksimum yang sebenarnya, hanya itu saja sebenarnya,” jelasnya.
BMKG justru mendorong masyarakat untuk melihat fenomena alam langka ini sebagai momen edukasi dan apresiasi terhadap keindahan alam semesta.
“Kita bahkan sebenarnya bisa mengatakan ini peristiwa alam yang bagus untuk kita saksikan bersama, untuk edukasi juga,” tutur Nurhayati.
Jika cuaca cerah, masyarakat dapat menikmati pemandangan bulan purnama super terang dengan mata telanjang tanpa alat bantu khusus.
Supermoon berikutnya yang akan terjadi pada 4 Desember 2025, menjadi kesempatan terakhir tahun ini untuk menyaksikan bulan terbesar dan paling terang di langit malam. (Rul/Nl)




_2.jpg)





