- Jasad Bayi Perempuan Ditemukan di Tumpukan Sampah TPA Kawatuna
- Aktivitas Gempa di Sulteng Kembali Meningkat, Tembus 121 Kejadian dalam Sepekan
- Ketua KONI Sulteng Harap Berani Cup Lahirkan Pemain Nasional dan Internasional
- Gaji PPPK Ditanggung Pusat Mulai 2027, Akbar Supratman: Kabar Baik untuk Sulteng
- Gibran Minta Maaf Usai Siswa Keracunan MBG, Sarankan Bawa Bekal yang Dimasak Ibu
- Ahmad Ali Dorong PSI Donggala Perkuat Struktur dan Solidaritas Menuju Pemilu 2029
- Viral Berdandan hingga Tuai Kritik dari Warganet, Guru SD di Tolitoli Kini Diberhentikan
- Warga Jalan Durian Ditemukan Tewas di Belakang Rumah, Diduga Tersengat Listrik Saat Perbaiki Atap
- Pemerintah Resmi Tetapkan Libur Nasional 2027, Total Ada 26 Hari
- Antisipasi Antrean Solar di Sulteng, Pemprov Dorong Kemudahan Pengisian BBM Truk Kontainer
BMKG Prediksi 2026 Lebih Basah Usai Iklim Ekstrem di Sulteng 2025

Keterangan Gambar : Ilustrasi. (Foto: iStockphoto)
Likeindonesia.com, Palu – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri merilis rekap kondisi iklim dan kualitas udara Sulawesi Tengah sepanjang 2025, sekaligus prakiraan iklim untuk tahun 2026.
Sepanjang 2025, Sulawesi Tengah mengalami sejumlah kejadian iklim ekstrem.
Baca Lainnya :
- Indonesia Punya Lapangan Padel Terbanyak di ASEAN, Mayoritas Ada di Kota Ini
- BMKG Catat 160 Gempa Guncang Sulawesi Tengah dalam Dua Pekan
- Palu Perluas Koperasi Merah Putih, Gerai Dibangun di Huntap Tondo
- Populasi Endemik Sulawesi Bertambah, TN Lore Lindu Berhasil lepasliarkan 965 Anak Maleo hingga 2025
- Swiss-Belhotel Silae Palu Hadirkan Seafood Tumpah, Sensasi Santap Seafood Menghadap Teluk Palu
Suhu udara tertinggi tercatat mencapai 39,63 derajat Celsius pada 15 Mei di wilayah Dolago.
Sementara itu, curah hujan harian tertinggi mencapai 340 milimeter yang terjadi pada 4 Mei di Kecamatan Gimpu, menunjukkan intensitas hujan yang sangat tinggi dalam satu hari.
Dari sisi kualitas udara, BMKG mencatat adanya lonjakan signifikan konsentrasi partikulat PM10 pada Juli 2025.
Kondisi ini berpotensi berdampak pada kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan.
Selain itu, pemantauan gas rumah kaca menunjukkan konsentrasi karbon dioksida berada pada level dasar yang tinggi, melampaui 433 part per million (ppm), mencerminkan tren peningkatan emisi di atmosfer.
Memasuki tahun 2026, BMKG memprakirakan kondisi curah hujan di Sulawesi Tengah berada pada kategori normal hingga atas normal, khususnya pada awal tahun.
Peningkatan curah hujan ini berpotensi meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor, terutama di wilayah rawan.
Di sisi lain, suhu udara pada 2026 diprediksi cenderung lebih hangat dibandingkan kondisi klimatologis normal, terutama di wilayah pesisir.
Kondisi ini perlu menjadi perhatian dalam berbagai sektor, mulai dari pengelolaan sumber daya air hingga kesehatan masyarakat.
BMKG juga menekankan pentingnya penyesuaian kalender tanam bagi sektor pertanian agar selaras dengan distribusi hujan yang diperkirakan terjadi.
Selain itu, optimalisasi waduk dan embung dinilai krusial sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau.
Dengan dinamika iklim yang diperkirakan semakin kompleks, BMKG mengingatkan perlunya kesiapsiagaan lintas sektor guna meminimalkan dampak risiko iklim di Sulawesi Tengah pada tahun mendatang. (Rul/Nl)










