- Ketua DPRD se-Sulteng Dorong Penguatan Sinergi Pembangunan Daerah
- 459 Ton Durian Sulteng Diekspor ke Tiongkok, Digadang Jadi Ikon Baru Nasional
- Pemerintah Buka 35 Ribu Loker KDKMP dan KNMP, Pelamar yang Lolos Jadi Pegawai BUMN
- Ketika Pemerintah Daerah Menyewa Influencer, Sebuah Jalan Pintas?
- Ketua DPRD Kota Palu Ikuti Retret Ketua DPRD se-Indonesia di Akmil Magelang
- Gubernur Anwar Hafid Ungkap Rencana Alun-alun Ikonik di Palu, Konsepnya Mirip Halaman Istana Negara
- Nambaso Fest 2026 Resmi Dibuka, Digelar Meriah Tanpa Membebani Anggaran Daerah
- HUT ke-62 Sulteng, Gubernur Tekankan Pemerataan Kesejahteraan di Seluruh Daerah
- Turun Langsung ke Desa Dalaka, Gubernur Sulteng Tancap Gas Perbaiki Jalan dan Layanan Warga
- Liga 4 Piala Gubernur Sulteng Resmi Bergulir, Talenta Muda Didorong Berprestasi Lewat Sepak Bola
Inisiatif Literasi dari UMKM: Bilik Diksi, Lapak Buku Independen Bernuansa Estetik di Kota Palu

Keterangan Gambar : Bilik Diksi berlokasi Jl Puebongo, Kelurahan Boyaoge, Kecamatan Tatanga, Kota Palu. (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Palu — Di tengah minimnya ruang literasi di Sulawesi Tengah, dua wanita muda asal Kota Palu, Fathia Munawwarah dan Anggi Meydina, menghadirkan sebuah inisiatif berbeda.
Bilik Diksi, toko buku independen yang tak hanya menjual buku, tapi juga menjadi ruang baca dan tempat berkumpul bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Baca Lainnya :
- Pedagang Bendera Musiman Mulai Ramaikan Jalanan Palu Jelang HUT RI ke-80
- Tali Bendera Putus, Tim Damkar Palu Panjat Tiang Demi Lanjutkan Latihan Paskibra
- Bendera Pataka Diserahkan, Sulteng Pegang Amanah Tuan Rumah FORNAS IX
- 23.768 Pengajuan Berani SEHAT, Wagub: Jangan Ada Lagi Orang Tak Bisa Berobat Karena Tak Punya Uang
- Menkes Ingatkan: Jantung Bukan Penyakit Mendadak, Cek Kesehatan Gratis Harus Dimanfaatkan
Lokasinya di Jl Puebongo, Kelurahan Boyaoge, Kecamatan Tatanga, Kota Palu.
Berdiri sejak September 2024, Bilik Diksi menjadi ruang alternatif yang menggabungkan toko buku, perpustakaan mini, dan kafe dengan nuansa estetik yang menarik minat pembaca muda.
Buku-buku yang dijajakan pun bukan dari penerbit besar seperti pada umumnya, melainkan berasal dari penerbit independen dan lokal, termasuk karya penulis asal Sulawesi Tengah.
“Bilik Diksi sendiri adalah toko buku independen di Kota Palu, yang di mana buku-buku yang kami datangkan kami kurasi secara baik, dan juga rata-rata buku-buku yang ada di sini itu dari penerbit indi,” ujar Fathia Munawwarah, salah satu pendiri, saat ditemui Minggu (3/8) sore.
Bilik ini hadir sebagai respon atas rendahnya indeks literasi di daerah, yang menurut sejumlah data berada di tiga terbawah secara nasional.
Fathia dan timnya berharap keberadaan toko ini bisa mendorong kebiasaan membaca di kalangan masyarakat Palu.
“Kami ingin menjadi salah satu tempat yang bisa memberikan kontribusi untuk meningkatkan literasi di Sulawesi Tengah, khususnya Kota Palu,” imbuhnya.
Tak sekadar tempat jual beli, pengunjung bisa membaca di tempat sambil menikmati kopi atau camilan ringan.
Harga buku berkisar antara Rp55 ribu hingga Rp190 ribu. Tersedia pula ruang nyaman yang terbuka sejak sore hingga malam hari, memberi ruang alternatif bagi mereka yang tak sempat mengakses perpustakaan umum di siang hari.
Yahya Tama, salah satu pengunjung, mengungkapkan kepuasannya atas konsep toko buku yang juga berfungsi sebagai ruang santai dan diskusi.
"Saya sangat senang bisa menemukan sebuah toko buku yang gabung juga dengan kafe, jadi sambil baca sambil ngopi, kemudian bisa sambil santai-santai di sini," tuturnya.
Senada dengan itu, Fitriani Dewi, pengunjung lainnya, menyebut suasana toko yang tenang dan estetik membuatnya cocok sebagai tempat membaca dan bersosialisasi.
"Menurutku tempatnya bagus, nyaman untuk kita membaca, apalagi buat kita yang butuh tempat-tempat sejuk atau yang sepi... cocoklah untuk kita Gen Z," ujarnya.
Bilik Diksi tak hanya menjual buku, tetapi juga membuka ruang literasi yang lebih luas—menyediakan wadah bagi penulis lokal dan menghidupkan kebiasaan membaca di kalangan anak muda.
Di balik estetikanya, tersimpan semangat perlawanan terhadap minimnya akses literasi di daerah.
Sebuah kontribusi kecil, namun bermakna, dari pelaku UMKM yang menjadikan buku sebagai jalan perubahan. (Rul)










