- Pengguna Pertalite Akan Dibatasi Mulai Akhir Tahun, Pemerintah Tegaskan Motor Tak Terdampak
- Durian Vulcano Indonesia Didorong Jadi Brand Durian Sulteng untuk Pasar Dunia
- Durian Beku Sulteng Laris di China, Ekspor Capai 7.344 Ton
- Rp18,9 Triliun Cair ke 546 Pemda, Buat Bayar Gaji PPPK
- Terungkap Setelah Dua Tahun Hilang, Paramitha Dibunuh Sopir Travel saat Perjalanan ke Morowali
- Perkembangan Kasus Pembunuhan Keluarga di Duyu, 9 Saksi Diperiksa dan Pelaku Masih Diburu Polisi
- 180 Gempa di Sulteng Tercatat pada Minggu Pertama Agustus
- Perhatikan Kualitas Air, Depot di Palu Diminta Penuhi Standar Higiene Sanitasi
- Mahasiswi Asal Morut Meninggal di Kos Palu, Keluarga Ikhlas dan Tidak Minta Autopsi
- Usai Palu–Guangzhou, Sulteng Bidik Rute Internasional Malaysia dan India
Tiga Perusahaan Nikel di Morut Diduga Serobot Lahan Warga

Keterangan Gambar : Ilustrasi pertambangan nikel. (Foto: iStockphoto)
Likeindonesia.com, Palu – Tiga perusahaan pertambangan nikel yang beroperasi di Desa Ganda-ganda, Kabupaten Morowali Utara, diduga melakukan aktivitas pengerukan di atas lahan milik warga tanpa melalui proses jual beli maupun ganti rugi.
Perusahaan itu yakni CV Rezky Utama, PT Hoffmen, dan PT Trinusa.
Baca Lainnya :
- Kolaborasi KPID–Balmon, Jaga Frekuensi dan Konten Siaran di Sulteng
- Korban Meninggal Gempa Poso Bertambah, Suami-Istri Jadi Korban
- Setelah 11 Jam Pencarian, Pendaki Gunung Gawalise Alami Hipotermia Ditemukan Selamat
- Fathur Razaq Pimpin Upacara HUT RI ke-80 di Bukit Salena, Kibarkan Merah Putih di Udara
- Hacked By BARZXPLOIT
Pegiat lingkungan hidup Sulawesi Tengah, Aulia Hakim, menyebut praktik seperti ini kerap terjadi di sektor pertambangan nikel.
“Praktik perampasan lahan di sektor pertambangan nikel khususnya di Morowali Utara dan Morowali hampir bisa dikatakan tiada ujungnya. Perusahaan-perusahaan ini modal serobot dan beking aparat serta elit, kemudian sudah bisa melakukan penambangan di atas lahan pemilik yang sah,” tegas Aulia.
Ia menambahkan, perusahaan seharusnya menjalankan bisnis secara profesional dengan memenuhi hak-hak pemilik lahan.
“Jangan hanya tahu untung keruk nikel, tapi serobot lahan warga dan tidak mau penuhi hak pemilik lahan,” ujarnya.
Menurut Aulia, lahan yang disengketakan mencapai sekitar 30 hektare, terbukti dengan surat keterangan penguasaan tanah (SKPT) yang diterbitkan pemerintah setempat sejak Juni 2001.
Ia menegaskan akan mengawal kasus ini hingga perusahaan menyelesaikannya secara sah.
“Kalau ada tumpang tindih kepemilikan, saya kira perusahaan harus profesional sesuai ketentuan yang berlaku dan dibuktikan secara historis kepemilikan. Praktik begini kalau terjadi terus-menerus sama saja kita mengiyakan kejahatan,” kata Aulia.
Aulia menyebut kasus ini akan dilaporkan kepada Gubernur Sulawesi Tengah, Bupati Morowali Utara, Kapolda Sulawesi Tengah, hingga Menteri ESDM.
Ia juga berencana menggelar aksi demonstrasi untuk menuntut penyelesaian masalah tersebut. (Rul)










