- Aturan Suami Jadi Pencari Nafkah dan Istri Wajib Urus Rumah Digugat ke MK
- Gempa M 3,9 Guncang Pendolo Poso, Dipicu Aktivitas Sesar Poso
- Pengurus KKSS Tolitoli Masa Bakti 2026-2031 Resmi Dilantik, Menkum RI Dorong Kontribusi untuk Daerah
- Nama Prodi Teknik Mulai Diganti Jadi Rekayasa, Kampus Bisa Tetap Pakai Istilah Lama
- Pemerintah Siapkan Aturan Baru KPR Tenor 40 Tahun, Cicilan Rumah Disebut Bisa Lebih Murah
- Pengangguran di Palu Capai 11.577 Orang, Mayoritas Laki-laki
- Viral Juri Cerdas Cermat Salahkan Jawaban Benar, Wakil Ketua MPR Minta Maaf
- 62 Pasangan di Palu Kini Punya Legalitas Resmi Usai Ikut Isbat Nikah Massal
- Kabur Lintas Kota, Pendiri Ponpes Tersangka Pemerkosaan Akhirnya Ditangkap
- Ribuan Calon Jemaah Haji Sulteng Mulai Diberangkatkan ke Tanah Suci
Deteksi Dini PJB, Skrining Jantung Anak di Sulteng Menyasar Sekolah Dasar

Keterangan Gambar : Kegiatan skrining deteksi dini penyakit jantung bawaan (PJB) pada anak digelar di SD IT Bina Insan, Kota Palu, Jumat (6/2/2026). (Foto : Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Palu – Upaya deteksi dini penyakit jantung bawaan (PJB) pada anak terus diperkuat di Sulawesi Tengah melalui kegiatan skrining kesehatan yang menyasar lingkungan sekolah dasar.
Program ini dinilai penting untuk menemukan potensi kelainan jantung sejak usia dini, sebelum menimbulkan komplikasi serius.
Baca Lainnya :
- Reses di Pantoloan Boya, Rustia Tompo Kawal Penanganan Banjir dan Dorong Infrastruktur Strategis
- Pemprov Sulteng Dorong Vaname Jadi Penopang Perikanan Budidaya
- Sejumlah Peserta PBI JK Dinonaktifkan, BPJS: Bukan Dicabut, Bisa Direaktivasi
- Ramai di Akhir Tahun, Penumpang Pesawat di Sulteng Tembus 107 Ribu Orang
- Wajib Tahu, Ini 21 Penyakit yang Tidak Ditanggung BPJS Kesehatan, Termasuk Cedera Akibat Hobi
Kegiatan skrining tersebut digelar di SD IT Bina Insan, Kota Palu, Jumat (6/2/2026), bertepatan dengan Congenital Heart Disease Awareness Week atau pekan kesadaran penyakit jantung bawaan tingkat nasional dan global.
Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Reny A. Lamadjido mengatakan, pemeriksaan dini menjadi langkah strategis untuk memastikan kondisi kesehatan anak dapat dipantau sejak awal.
Menurutnya, banyak kasus penyakit jantung bawaan tidak terdeteksi karena minimnya pemeriksaan pada fase awal kehidupan anak.
“Ini merupakan upaya deteksi dini penyakit jantung bawaan pada anak-anak. Kalau diketahui sejak awal, penanganannya tentu akan jauh lebih baik,” ujar Reny saat diwawancarai usai meninjau kegiatan skrining.
Reny menjelaskan, pemeriksaan yang dilakukan meliputi penelusuran potensi kelainan jantung hingga rekaman EKG, dengan catatan utama adanya persetujuan dari orang tua.
Ia menambahkan, kegiatan seperti ini sejalan dengan program kesehatan daerah yang mendorong keberanian anak untuk memeriksakan kesehatannya sejak dini.
Ia juga menyebut, skrining jantung anak merupakan bagian dari implementasi program “Berani Sehat” yang tengah dijalankan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.
Dalam program tersebut, anak-anak didorong untuk tidak takut menjalani pemeriksaan medis sebagai langkah pencegahan.
Koordinator kegiatan skrining, dokter spesialis jantung anak, dr. Julia Sari, menjelaskan bahwa pemeriksaan dilakukan secara bertahap, mulai dari pengambilan data awal seperti tinggi dan berat badan, pemeriksaan puls oksimetri, perekaman EKG, hingga ekokardiografi.
“Awalnya yang terdaftar sekitar 107 siswa, tetapi ada tambahan dari pihak sekolah, sehingga total yang diperiksa sekitar 120-an siswa,” kata Julia.
Menurut Julia, sasaran pemeriksaan difokuskan pada anak usia sekolah dasar karena penyakit jantung bawaan sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas.
Akibatnya, banyak anak baru datang ke fasilitas kesehatan saat kondisinya sudah cukup berat.
Ia mengungkapkan, di Sulawesi Tengah ditemukan cukup banyak kasus penyakit jantung pada anak.
Berdasarkan data yang dimilikinya, hampir setiap bulan ditemukan dua hingga tiga kasus baru, dengan total hampir 200 kasus dalam satu tahun terakhir.
“Yang kami temukan bukan hanya penyakit jantung bawaan seperti ASD, VSD, atau PDA, tetapi juga kelainan katup jantung akibat infeksi, termasuk penyakit jantung reumatik,” ujarnya.
Julia menambahkan, jika dalam skrining ditemukan indikasi kelainan jantung, anak-anak akan dirujuk ke rumah sakit yang memiliki layanan dokter jantung anak untuk pemeriksaan lanjutan dan perencanaan penanganan, baik melalui terapi obat maupun tindakan intervensi.
Ia juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengenali tanda-tanda awal penyakit jantung pada anak serta memahami bahwa penyakit jantung bawaan sering kali memerlukan tindakan lanjutan, tidak hanya pengobatan simptomatik.
“Edukasi kepada orang tua sangat penting agar mereka memahami bahwa obat tidak menghilangkan kelainan jantung, tetapi hanya mengurangi gejala. Ke depan, bisa saja diperlukan kateterisasi atau tindakan lainnya,” kata Julia.
Ke depan, tim dokter jantung anak di Sulawesi Tengah berencana menggelar kegiatan intervensi non-bedah dengan mendatangkan tim dari luar daerah.
Langkah ini diharapkan dapat mengurangi kebutuhan rujukan ke luar provinsi dan memperluas akses layanan kesehatan jantung bagi anak-anak di Sulawesi Tengah. (Rul/Nl)










