- 13 Juli Resmi Ditetapkan sebagai Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa
- Buya Subi Festival 2026 Digelar di Pantai Towale, Dorong Tenun Donggala Go Internasional
- Mulai 15 Juli 2026, Pemerintah Berlakukan Harga Minimal Ayam Rp19.500 dan Telur Rp24.000 per Kg
- Warga Sulteng Makin Rajin Jalan-Jalan, Tembus 5,09 Juta Perjalanan dalam Lima Bulan
- Pencurian Chromebook Senilai Rp35 Juta di SMP di Mamboro Terungkap, Pelaku Ditangkap
- Siap-siap! Ada Pengganti LPG 3 Kg yang Diklaim Lebih Ringan, Harganya Tetap Sama
- Masa Tanggap Darurat Gempa di Sulteng Berakhir, Bantuan untuk Korban Dipastikan Tetap Berjalan
- 428 Gempa Terjadi di Sulteng dalam Sepekan
- Bantuan untuk Korban Gempa di Sulteng Bertambah, PT Donggi Senoro LNG Serahkan Kasur hingga Selimut
- Tiga Wilayah Sulteng Diguncang Gempa pada 1 Juli, Terkuat di Sigi
Buya Subi Festival 2026 Digelar di Pantai Towale, Dorong Tenun Donggala Go Internasional

Keterangan Gambar : Buya Subi Festival 2026 resmi digelar di Pantai Towale, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Selasa (7/7/2026). (Foto: Biro Adpim Pemprov Sulteng)
Likeindonesia.com, DONGGALA – Buya Subi Festival 2026 resmi digelar di Pantai Towale, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, Selasa (7/7/2026).
Festival bertema Handmade for the Earth ini menjadi ajang untuk memperkenalkan sekaligus mendorong tenun khas Donggala agar mampu menembus pasar internasional.
Baca Lainnya :
- Warga Sulteng Makin Rajin Jalan-Jalan, Tembus 5,09 Juta Perjalanan dalam Lima Bulan
- Masa Tanggap Darurat Gempa di Sulteng Berakhir, Bantuan untuk Korban Dipastikan Tetap Berjalan
- 428 Gempa Terjadi di Sulteng dalam Sepekan
- Bantuan untuk Korban Gempa di Sulteng Bertambah, PT Donggi Senoro LNG Serahkan Kasur hingga Selimut
- Tiga Wilayah Sulteng Diguncang Gempa pada 1 Juli, Terkuat di Sigi
Dalam sambutannya, Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Reny A. Lamadjido, mengatakan Buya Subi Festival bukan sekadar agenda budaya, tetapi juga menjadi bukti bahwa Sulawesi Tengah memiliki tenun khas Donggala yang bernilai tinggi, sarat filosofi kehidupan, dan berpotensi menjadi bagian dari industri fashion berkelanjutan di tingkat nasional maupun internasional.
Untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya tersebut, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah akan membahas rencana menghadirkan jurusan khusus tenun di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Langkah ini dinilai penting karena sebagian besar penenun saat ini berasal dari kalangan usia lanjut sehingga regenerasi perlu segera dilakukan.
“Jangan sampai tenun kita hilang karena para pengrajinnya didominasi generasi yang sudah lanjut usia. Regenerasi harus dilakukan agar warisan budaya ini tetap hidup dan berkembang,” ujarnya.
Menurutnya, festival tidak boleh berhenti pada kegiatan pameran semata, tetapi juga harus mendorong masyarakat membeli dan menggunakan produk tenun lokal secara berkelanjutan agar memberikan dampak nyata bagi peningkatan ekonomi para perajin.
Ia menilai warna, motif, dan kualitas serat kain tenun Donggala memiliki daya saing tinggi. Karena itu, para perajin didorong terus meningkatkan kualitas serta menghadirkan desain yang mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan identitas budaya lokal.
“Pemerintah ingin kualitas terus meningkat dengan desain yang lebih modern, tetapi tetap mempertahankan identitas budaya Donggala,” katanya.
Melalui Buya Subi Festival 2026, diharapkan lahir berbagai kerja sama strategis yang mampu memperkuat promosi pariwisata, memberdayakan UMKM, sekaligus membuka akses pasar internasional bagi produk unggulan Sulawesi Tengah.
Kehadiran CEO Eco Fashion Week Australia (EFWA), Zuhal Kuvan Mills, juga dinilai menjadi peluang besar untuk memperkenalkan tenun khas Donggala ke pasar dunia.
“Mari jadikan festival ini sebagai ruang belajar, ruang berkarya, ruang berkolaborasi, sekaligus ruang membangun masa depan ekonomi kreatif Sulawesi Tengah yang inklusif dan berkelanjutan,” tutupnya. (nul)









