- Jumlah Warga Terdampak Gempa di Sigi Capai Ribuan, 1 Korban Jiwa dan 1.360 Rumah Rusak
- Fokus Penanganan Pascagempa, Wagub Sulteng Sambangi RS dan Warga Terdampak
- Hingga Pukul 05.30 WITA, Gempa Susulan Pascagempa M 6,7 Capai 419 Kali
- BMKG Laporkan 177 Gempa Susulan hingga Pukul 20.00 WITA, 70 Kali Dirasakan Warga
- BPJN Sulteng Pastikan Sejumlah Jembatan di Palu hingga Jalan Kebun Kopi Aman Pascagempa M 6,7
- BMKG Sebut Gempa Magnitudo 6,7 di Palu-Sigi Berasal dari Aktivitas Sesar Sausu
- BMKG Catat 71 Gempa Susulan hingga Pukul 14.30 WITA
- Gubernur Instruksikan Tanggap Darurat Usai Gempa M 6,7, Tenaga Medis Dikerahkan ke Lokasi Terdampak
- BMKG Catat 16 Kali Gempa Susulan Usai Magnitudo 6,7 di Tenggara Palu
- Empat Atlet Junior Sulteng Berlaga di Asian OWS Bali
BMKG: Megathrust Tolitoli–Buol Potensi Ilmiah, Bukan Ancaman Langsung

Keterangan Gambar : Koordinator Bidang Operasi Stasiun Geofisika Palu, Bambang Haryono menjelaskan potensi gempa besar akibat megathrust di perairan Tolitoli–Buol, Sulawesi Tengah, Senin (3/11/2025). (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Palu – Isu potensi gempa besar akibat megathrust di perairan Tolitoli–Buol, Sulawesi Tengah, kembali menjadi perbincangan publik.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan, potensi tersebut merupakan bagian dari hasil penelitian ilmiah, bukan ancaman yang akan terjadi dalam waktu dekat.
Baca Lainnya :
- BYD Haka Auto Resmi Hadir di Palu, Tawarkan Pilihan Kendaraan Listrik Ramah Lingkungan
- 1.103 Tenaga Honorer Sulteng Resmi Terima SK PPPK Tahap II dari Gubernur
- home
- Belum Semua Pakai Elpiji, 18 Persen Warga Sulteng Masih Masak dengan Kayu
- Banjir Tolitoli Kini Surut, Warga Mulai Bersihkan Rumah
Koordinator Bidang Operasi Stasiun Geofisika Palu, Bambang Haryono, menjelaskan bahwa megathrust bukanlah isu hoaks, melainkan bagian dari fakta geologi yang menunjukkan adanya ruang seismik atau seismic gap di bawah laut Sulawesi.
Zona ini berpotensi menjadi tempat akumulasi energi yang bisa dilepaskan di masa depan.
“Megathrust itu hasil kajian ilmiah, bukan ancaman langsung. Artinya ada zona yang berpotensi menyimpan energi, tapi belum tentu segera dilepaskan,” ujar Bambang kepada wartawan ditemui di ruang kerjanya, Senin (3/11/2025) pagi.
Menurut Bambang, fenomena megathrust di utara Tolitoli dan Buol merupakan salah satu bagian dari sistem tektonik besar di wilayah Sulawesi.
Pergerakan lempeng di area tersebut bersifat subduksi, di mana satu lempeng bumi menyusup ke bawah lempeng lainnya.
Dalam kondisi tertentu, pelepasan energi di zona ini bisa memicu gempa besar yang berpotensi menimbulkan tsunami.
Meski demikian, ia menegaskan, masyarakat tidak perlu panik karena aktivitas seismik di kawasan tersebut terus dipantau oleh BMKG secara real time.
“Kalau kita merasakan gempa kecil, justru itu tanda energi sudah dilepaskan. Yang berbahaya adalah kalau energi itu tersimpan lama tanpa pelepasan,” kata Bambang menambahkan.
Bambang juga menjelaskan bahwa sistem pemantauan gempa di Sulawesi kini jauh lebih maju dibanding sebelum bencana 2018 lalu.
Jaringan alat sensor yang dulunya hanya terpasang di beberapa titik kini telah meluas ke sejumlah daerah, seperti Mapaga, Ampana, Luwuk, hingga Tolitoli.
Dengan peningkatan tersebut, gempa kecil bahkan di bawah magnitudo tiga pun sudah bisa terdeteksi dan diinformasikan kepada masyarakat secara cepat.
Selain memantau aktivitas seismik, BMKG juga melakukan analisis data secara bertahap, mulai dari data real time, data penelitian, hingga data publik.
Analisis dilakukan agar informasi yang sampai ke masyarakat mudah dipahami dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Menurutnya, di era media sosial yang sangat cepat, informasi tentang gempa sering kali disebarkan tanpa verifikasi.
Hal itu kerap menimbulkan kepanikan di masyarakat.
“Masalah utama bukan pada gempanya, tapi pada paniknya masyarakat. Ada yang langsung lari ke gunung, meninggalkan rumah, bahkan menjual rumah karena takut isu megathrust. Padahal cukup keluar ke area aman di sekitar rumah,” ungkapnya.
Bambang menilai, yang lebih penting dari sekadar khawatir adalah membangun kesadaran mitigasi bencana.
Masyarakat di wilayah rawan gempa seperti Sulawesi Tengah perlu memahami karakteristik tanah tempat tinggal, kekuatan struktur bangunan, serta jalur evakuasi di sekitar rumah.
Ia menegaskan, Indonesia memang hidup di kawasan dengan kompleksitas tektonik tinggi.
Karena itu, masyarakat perlu belajar berdamai dengan alam, bukan takut terhadapnya.
“Kita tinggal di pertemuan empat lempeng besar dunia—Asia, Australia, Pasifik, dan Filipina. Tantangannya adalah bagaimana kita bisa hidup harmonis, baik secara sosial maupun geologis,” kata Bambang.
Menurut dia, bersyukur ketika terjadi gempa kecil justru menjadi bentuk kesadaran mitigasi.
Karena itu berarti energi di dalam bumi sudah dilepaskan sebagian.
“Yang terpenting, pahami ancaman, syukuri yang sudah terjadi, dan tetap tenang menghadapi alam,” tutup Bambang. (Rul/Nl)










