- Peneliti Muda Dorong Pengusulan Tradisi Lisan Nompaova sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
- Diduga Curi Motor, Pria Asal Sinjai Tewas Dikeroyok Massa di Morowali
- 12 Wisatawan yang Hilang Kontak di Teluk Tomini Ditemukan Selamat, Dievakuasi ke Ampana
- 13 Wisatawan Hilang Kontak di Perairan Teluk Tomini, Kini Masih dalam Pencarian
- Akhiri Risiko Warga Menyeberang Sungai, Anwar Hafid Bangun Jembatan di Masungkang Pakai Dana Pribadi
- MK Putuskan Sisa Kuota Internet Tak Boleh Hangus, Harus Tetap Bisa Dipakai
- Baru Dilantik, Kepala BGN Siap Dengar Kritik soal MBG
- ASN Bisa Lebih Hemat, BKN Siapkan Skema Bekerja Dekat Tempat Tinggal
- Situasi di Nunu dan Anoa Berangsur Kondusif, Satu Terduga Pelaku Telah Diamankan
- Pamit Lewat Facebook, Nanik Sudaryati Deyang Umumkan Mundur sebagai Kepala BGN
Peneliti Muda Dorong Pengusulan Tradisi Lisan Nompaova sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia

Keterangan Gambar : Adi C.W. Atmaja selaku penanggung jawab, menggelar Sarasehan dan Dialog Kebudayaan bertajuk Dari Ingatan ke Pengakuan, Minggu (26/7/2026). (Foto: Ist)
Likeindonesia.com, PALU — Kepedulian terhadap pelestarian budaya lokal mendorong sejumlah peneliti muda di Kota Palu menggelar Sarasehan dan Dialog Kebudayaan bertajuk Dari Ingatan ke Pengakuan, Minggu (26/7/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang pemaparan hasil riset mengenai tradisi lisan Nompaova yang disusun sebagai basis data pendukung pengusulan tradisi tersebut sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.
Baca Lainnya :
- Peresmian Jembatan Palu IV Ditunda, Masih Ada Pekerjaan Belum Rampung
- Resmi Dibuka, Bengkel Body Repair Suzuki Palu: Layanan Cepat, Garansi Aman, Semua Merek Masuk!
- Setelah Gempa 3,5 SR, Palu Kembali Digoyang Gempa 3,2 SR
- Gempa Magnitudo 3,5 Guncang Palu Pagi Ini
- Diskon Tiket Kapal Laris di Palu, 5.000 Tiket Terjual dalam Waktu Singkat
Sarasehan diinisiasi oleh peneliti muda kategori perseorangan, yakni Adi C.W. Atmaja selaku penanggung jawab program, Nur Amri Firmansyah sebagai peneliti antropologi, Muhammad Welderahmat sebagai peneliti etnomusikologi, Annisa Saskia Putri dari Program Studi Sastra Indonesia, serta Iksam Djoraimi sebagai pemerhati budaya Kaili.
Dalam pemaparannya, para peneliti menjelaskan hasil kajian dari perspektif antropologi dan etnomusikologi yang menunjukkan bahwa Nompaova bukan sekadar nyanyian pengantar tidur bagi anak.
Tradisi lisan ini disebut menyimpan berbagai nilai luhur, mulai dari doa dan harapan orang tua, ikatan emosional dalam keluarga, nasihat kehidupan, hingga nilai-nilai budaya masyarakat Kaili yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Pengakuan WBTB bagi Nompaova bukan untuk memuseumkan tradisi, melainkan mengembalikannya ke ayunan keluarga Kaili. Menyelamatkan Nompaova berarti merawat cara manusia Kaili mencintai, berdoa, dan berbahasa sejak dari buaian,” ujar Adi C.W. Atmaja.
Kegiatan ini dihadiri tokoh adat, akademisi, pemerhati budaya, serta mendapat dukungan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Tengah. Diskusi berlangsung interaktif dan menghasilkan berbagai masukan konstruktif untuk memperkuat proses pengusulan Nompaova sebagai Warisan Budaya Tak Benda ke tingkat kementerian.
Melalui inisiatif ini, para penggagas berharap riset-riset independen mengenai kebudayaan lokal dapat terus berkembang dan memperoleh dukungan dari pemerintah maupun masyarakat.
Adapun penetapan Nompaova sebagai Warisan Budaya Tak Benda diharapkan tidak hanya menjadi pengakuan administratif, tetapi juga mampu memicu gerakan pelestarian budaya yang berkelanjutan di Tanah Kaili.
(oji/nul)









