- Irjen Rizal Irawan Resmi Ditunjuk Jadi Kapolda Sulteng, Gantikan Irjen Nasri
- Pemerintah Pangkas Antrean Haji, dari 49 Tahun Kini Jadi 14 Tahun
- Pajak Usaha Kuliner di Palu Turun Jadi 5 Persen, Berlaku untuk Warung hingga Lapak Non-Permanen
- Viral, Surat Resmi Bupati Sigi ke Menteri PU Jadi Bungkus Nasi Pecel di Jakarta, Bupati: Saya Sedih
- Jembatan Berani di Masungkang Banggai Diresmikan, Buka Akses Pendidikan dan Mobilitas Warga
- Kursi Menteri hingga Kapolri Berganti, Ini Daftar Reshuffle Terbaru yang Dilantik Prabowo
- Keren! Band Metal Asal Palu Ini Selipkan Bahasa Kaili hingga Gimba di Album Devastation Manifest
- Bangkep Diguncang Dua Kali Gempa Magnitudo 4,7, Tercatat di Sekitar Sesar Balantak
- Mulai 2027, Pajak Penghasilan Pekerja Bergaji di Bawah Rp10 Juta Ditanggung Pemerintah
- Mengurus Rumah Bukan Cuma Urusan Ibu, BPS Catat Ada 35 Ribu Bapak Rumah Tangga di Sulteng
Peneliti Muda Dorong Pengusulan Tradisi Lisan Nompaova sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia

Keterangan Gambar : Adi C.W. Atmaja selaku penanggung jawab, menggelar Sarasehan dan Dialog Kebudayaan bertajuk Dari Ingatan ke Pengakuan, Minggu (26/7/2026). (Foto: Ist)
Likeindonesia.com, PALU — Kepedulian terhadap pelestarian budaya lokal mendorong sejumlah peneliti muda di Kota Palu menggelar Sarasehan dan Dialog Kebudayaan bertajuk Dari Ingatan ke Pengakuan, Minggu (26/7/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang pemaparan hasil riset mengenai tradisi lisan Nompaova yang disusun sebagai basis data pendukung pengusulan tradisi tersebut sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.
Baca Lainnya :
- Peresmian Jembatan Palu IV Ditunda, Masih Ada Pekerjaan Belum Rampung
- Resmi Dibuka, Bengkel Body Repair Suzuki Palu: Layanan Cepat, Garansi Aman, Semua Merek Masuk!
- Setelah Gempa 3,5 SR, Palu Kembali Digoyang Gempa 3,2 SR
- Gempa Magnitudo 3,5 Guncang Palu Pagi Ini
- Diskon Tiket Kapal Laris di Palu, 5.000 Tiket Terjual dalam Waktu Singkat
Sarasehan diinisiasi oleh peneliti muda kategori perseorangan, yakni Adi C.W. Atmaja selaku penanggung jawab program, Nur Amri Firmansyah sebagai peneliti antropologi, Muhammad Welderahmat sebagai peneliti etnomusikologi, Annisa Saskia Putri dari Program Studi Sastra Indonesia, serta Iksam Djoraimi sebagai pemerhati budaya Kaili.
Dalam pemaparannya, para peneliti menjelaskan hasil kajian dari perspektif antropologi dan etnomusikologi yang menunjukkan bahwa Nompaova bukan sekadar nyanyian pengantar tidur bagi anak.
Tradisi lisan ini disebut menyimpan berbagai nilai luhur, mulai dari doa dan harapan orang tua, ikatan emosional dalam keluarga, nasihat kehidupan, hingga nilai-nilai budaya masyarakat Kaili yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Pengakuan WBTB bagi Nompaova bukan untuk memuseumkan tradisi, melainkan mengembalikannya ke ayunan keluarga Kaili. Menyelamatkan Nompaova berarti merawat cara manusia Kaili mencintai, berdoa, dan berbahasa sejak dari buaian,” ujar Adi C.W. Atmaja.
Kegiatan ini dihadiri tokoh adat, akademisi, pemerhati budaya, serta mendapat dukungan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Tengah. Diskusi berlangsung interaktif dan menghasilkan berbagai masukan konstruktif untuk memperkuat proses pengusulan Nompaova sebagai Warisan Budaya Tak Benda ke tingkat kementerian.
Melalui inisiatif ini, para penggagas berharap riset-riset independen mengenai kebudayaan lokal dapat terus berkembang dan memperoleh dukungan dari pemerintah maupun masyarakat.
Adapun penetapan Nompaova sebagai Warisan Budaya Tak Benda diharapkan tidak hanya menjadi pengakuan administratif, tetapi juga mampu memicu gerakan pelestarian budaya yang berkelanjutan di Tanah Kaili.
(oji/nul)




_2.jpg)





