Masjid Raya Baitul Khairaat Diproyeksikan Jadi Pusat Wisata Religi di Sulawesi Tengah

By Inul Irfani 28 Nov 2025, 16:22:09 WIB Daerah
Masjid Raya Baitul Khairaat Diproyeksikan Jadi Pusat Wisata Religi di Sulawesi Tengah

Keterangan Gambar : Warga Palu memadati Masjid Raya Baitul Khairaat, Jumat (28/11) siang. (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)


Likeindonesia.com, Palu – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menyiapkan pengembangan kawasan Masjid Raya Baitul Khairaat sebagai pusat wisata religi yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga ruang aktivitas sosial, pendidikan, dan ekonomi masyarakat.


Kepala Dinas Cipta Karya dan Sumber Daya Air (Cikasda) Sulteng, Andi Ruly Djanggola, menjelaskan rencana tersebut usai pelaksanaan salat Jumat perdana di masjid itu, Jumat (28/11) siang. 

Baca Lainnya :


Menurutnya, konsep pengembangan ini merupakan tindak lanjut dari arahan Menteri Agama RI saat meninjau masjid beberapa waktu lalu.


“Pak Menteri memiliki pengalaman sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal. Beliau menyampaikan bahwa masjid harus menjadi pusat ibadah sekaligus pusat peradaban, pendidikan, dan ekonomi keumatan. Masjid Baitul Khairaat kita arahkan ke sana,” ujar Ruly saat diwawancarai media ini. 


Ruly menyebut, setelah peresmian Masjid Raya Baitul Khairaat pada 4 Desember 2025, pemerintah provinsi akan menggelar Festival Baitul Khairaat pada 5–6 Desember 2025 melalui Dinas Pariwisata. 


Kegiatan ini menghadirkan pelaku UMKM, kuliner khas Sulawesi Tengah, lomba azan, serta berbagai aktivitas keagamaan yang digelar di area timur masjid.


“Kami berharap Festival Baitul Khairaat ini menjadi agenda nasional seperti Festival Syariah di Masjid Baiturrahman Aceh,” katanya.


Festival tersebut juga dirancang bersifat terbuka dan inklusif sehingga dapat diikuti serta dinikmati seluruh lapisan masyarakat, termasuk non-Muslim.


Lebih lanjut, Ruly menjelaskan fasilitas masjid telah disiapkan untuk mendukung konsep wisata religi, seperti Museum Peradaban Islam, perpustakaan, dan ruang taman pengajian sebagai sarana pendidikan dan pembinaan masyarakat.


“Konsep masjid modern ini memang mengakomodasi wisata religi. Semua fasilitas itu disiapkan untuk mendukung kegiatan pendidikan dan pembinaan masyarakat,” jelasnya.


Ke depan, pengelolaan kawasan masjid akan diarahkan menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). 


Namun, selama masa pemeliharaan, pengelolaan masih berada di bawah Dinas Cikasda.


“BLUD nanti yang akan mengelola dan memajukan masjid ini sebagai Masjid Peradaban, sesuai harapan Pak Menteri,” tambahnya.


Masjid Raya Baitul Khairaat juga mengusung unsur budaya lokal melalui desain arsitekturnya. 


Pintu utara dan selatan mengadopsi konsep rumah adat Lobo, bagian depan terinspirasi Rumah Tambi, sementara pintu timur mengangkat unsur Etnis Soraja. 


Kubah masjid dirancang dengan konsep mutiara yang mencerminkan identitas Sulawesi Tengah sebagai “Mutiara di Khatulistiwa”.


Desain ini merupakan hasil sayembara arsitektur pada 2020 yang dimenangkan oleh empat arsitek muda asal Kota Palu, lulusan Universitas Tadulako.


Ruly menegaskan, seluruh kegiatan ibadah kini telah dipusatkan di Masjid Raya Baitul Khairaat setelah pelaksanaan salat Jumat perdana. 


Ia juga mengajak masyarakat untuk ikut menjaga kebersihan dan ketertiban kawasan masjid.


“Nama masjid ini Baitul Khairaat, rumah kebaikan. Maka nilai-nilai kebaikan itu harus kita jaga bersama. Ini dibangun dari uang rakyat Sulawesi Tengah, jadi mari kita pelihara,” tutupnya. (Rul/Nl)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.