- Guru Viral Perbaiki Pintu Kelas di Sekolah Terpencil Parimo Dapat Apresiasi dari Pemprov Sulteng
- Disambut KONI Sulteng, Atlet ASKI Pulang Bawa Dua Medali Emas dari Kejurnas di Jakarta
- Hari Kartini ke-147, Perempuan Sulteng Diajak Jadi Penggerak dari Keluarga hingga Pembangunan Daerah
- Berani Gowes, Komunitas Sekte Sepeda Tuntaskan 600 Km Luwuk–Palu dalam 6 Hari
- Rico Djanggola Siap Implementasikan Arahan Presiden Terkait Dukungan Asta Cita
- Harga LPG Non Subsidi Naik Serentak, Tabung 12 Kg di Sulteng Tembus Rp 230 Ribu
- Ketua DPRD se-Sulteng Dorong Penguatan Sinergi Pembangunan Daerah
- 459 Ton Durian Sulteng Diekspor ke Tiongkok, Digadang Jadi Ikon Baru Nasional
- Pemerintah Buka 35 Ribu Loker KDKMP dan KNMP, Pelamar yang Lolos Jadi Pegawai BUMN
- Ketika Pemerintah Daerah Menyewa Influencer, Sebuah Jalan Pintas?
Masjid Raya Baitul Khairaat Diproyeksikan Jadi Pusat Wisata Religi di Sulawesi Tengah

Keterangan Gambar : Warga Palu memadati Masjid Raya Baitul Khairaat, Jumat (28/11) siang. (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Palu – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menyiapkan pengembangan kawasan Masjid Raya Baitul Khairaat sebagai pusat wisata religi yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga ruang aktivitas sosial, pendidikan, dan ekonomi masyarakat.
Kepala Dinas Cipta Karya dan Sumber Daya Air (Cikasda) Sulteng, Andi Ruly Djanggola, menjelaskan rencana tersebut usai pelaksanaan salat Jumat perdana di masjid itu, Jumat (28/11) siang.
Baca Lainnya :
- Salat Jumat Perdana Tandai Mulainya Operasional Masjid Raya Baitul Khairaat Palu
- Layani 51 Ribu Penumpang, Purbaya Akui Belum Ada Petugas Bea Cukai di Bandara IMIP
- Anggota DPRD Palu Minta Tempat Prostitusi Ditutup, Dinilai Langgar Konsep Kota Hijau
- Harga Ikan di Palu Naik Jelang Akhir Tahun, Pedagang Sebut Faktor Cuaca dan Permintaan
- Pusat Siapkan Pelantikan Serentak KemenHU, Daerah Masih Tahap Pengisian Jabatan
Menurutnya, konsep pengembangan ini merupakan tindak lanjut dari arahan Menteri Agama RI saat meninjau masjid beberapa waktu lalu.
“Pak Menteri memiliki pengalaman sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal. Beliau menyampaikan bahwa masjid harus menjadi pusat ibadah sekaligus pusat peradaban, pendidikan, dan ekonomi keumatan. Masjid Baitul Khairaat kita arahkan ke sana,” ujar Ruly saat diwawancarai media ini.
Ruly menyebut, setelah peresmian Masjid Raya Baitul Khairaat pada 4 Desember 2025, pemerintah provinsi akan menggelar Festival Baitul Khairaat pada 5–6 Desember 2025 melalui Dinas Pariwisata.
Kegiatan ini menghadirkan pelaku UMKM, kuliner khas Sulawesi Tengah, lomba azan, serta berbagai aktivitas keagamaan yang digelar di area timur masjid.
“Kami berharap Festival Baitul Khairaat ini menjadi agenda nasional seperti Festival Syariah di Masjid Baiturrahman Aceh,” katanya.
Festival tersebut juga dirancang bersifat terbuka dan inklusif sehingga dapat diikuti serta dinikmati seluruh lapisan masyarakat, termasuk non-Muslim.
Lebih lanjut, Ruly menjelaskan fasilitas masjid telah disiapkan untuk mendukung konsep wisata religi, seperti Museum Peradaban Islam, perpustakaan, dan ruang taman pengajian sebagai sarana pendidikan dan pembinaan masyarakat.
“Konsep masjid modern ini memang mengakomodasi wisata religi. Semua fasilitas itu disiapkan untuk mendukung kegiatan pendidikan dan pembinaan masyarakat,” jelasnya.
Ke depan, pengelolaan kawasan masjid akan diarahkan menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
Namun, selama masa pemeliharaan, pengelolaan masih berada di bawah Dinas Cikasda.
“BLUD nanti yang akan mengelola dan memajukan masjid ini sebagai Masjid Peradaban, sesuai harapan Pak Menteri,” tambahnya.
Masjid Raya Baitul Khairaat juga mengusung unsur budaya lokal melalui desain arsitekturnya.
Pintu utara dan selatan mengadopsi konsep rumah adat Lobo, bagian depan terinspirasi Rumah Tambi, sementara pintu timur mengangkat unsur Etnis Soraja.
Kubah masjid dirancang dengan konsep mutiara yang mencerminkan identitas Sulawesi Tengah sebagai “Mutiara di Khatulistiwa”.
Desain ini merupakan hasil sayembara arsitektur pada 2020 yang dimenangkan oleh empat arsitek muda asal Kota Palu, lulusan Universitas Tadulako.
Ruly menegaskan, seluruh kegiatan ibadah kini telah dipusatkan di Masjid Raya Baitul Khairaat setelah pelaksanaan salat Jumat perdana.
Ia juga mengajak masyarakat untuk ikut menjaga kebersihan dan ketertiban kawasan masjid.
“Nama masjid ini Baitul Khairaat, rumah kebaikan. Maka nilai-nilai kebaikan itu harus kita jaga bersama. Ini dibangun dari uang rakyat Sulawesi Tengah, jadi mari kita pelihara,” tutupnya. (Rul/Nl)










