- 16 Perusahaan Tambang Patungan Rp355 Miliar Bangun Jalan di Morowali dan Morut
- Resmi Diumumkan! Tunjangan Guru Naik, Non-ASN Jadi Rp 2 Juta dan ASN Setara Gaji Pokok
- Wagub Sulteng Lantik Dokter Ahli Utama, Dukung Transformasi RS Undata Berstandar Internasional
- DPRD Kota Palu Desak Pemkot Perkuat Koordinasi dalam Penyusunan Tata Ruang
- DPRD Palu Sahkan Hasil Evaluasi LKPJ 2025, 37 Rekomendasi Diserahkan ke Pemkot
- DPRD Palu Desak Pemkot Tuntaskan Masalah Lahan Tidur dan Air Bersih di Dua Kelurahan
- DPRD Palu Soroti Overkapasitas RS, Biaya Visum, dan Denda BPJS yang Bebani Warga
- Dari Huntap hingga Pajak Daerah, DPRD Palu Paparkan Hasil Kerja Caturwulan I
- 8 Rumah Sakit Swasta di Palu Terancam Tak Bisa Beroperasi, DPRD Soroti Masalah Perizinan
- Abdurahim Nasar Al-Amri Soroti Mandeknya RDTR, DPRD Palu Siap Koordinasi Ulang ke Pusat
Ina Tobani, Maestro Kain Kulit Kayu Kulawi yang Menjaga Warisan 4.000 Tahun
.jpg)
Keterangan Gambar : Ina Tobani, maestro kain kulit kayu dari Tanah Kulawi. (Foto: IST)
Likeindonesia.com, Sigi – Kain kulit kayu resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia pada 2023.
Tradisi yang telah bertahan sekitar 4.000 tahun ini terus diwariskan masyarakat adat, khususnya di wilayah Kulawi, Sulawesi Tengah.
Baca Lainnya :
- Akhirnya Rampung! Masjid Raya Baitul Khairaat Siap Diresmikan 4 Desember 2025, UAS Dijadwalkan Hadir
- Polisi Amankan 60 Kilogram Sabu Jaringan Internasional di Wilayah Pantai Barat Donggala
- Usulan WPR Emas di Parimo Picu Penolakan, Warga Ingatkan Status Daerah sebagai Lumbung Pangan
- Satgas PKA dan Pakar ITB Verifikasi Keretakan Rumah Warga Diduga Akibat Aktivitas PLTA di Poso
- Program Dukungan Psikososial untuk 31 Sekolah Terdampak Gempa Poso Dimulai di Palu
Di antara para penjaga tradisi, Ina Tobani menjadi figur sentral yang hingga kini masih mempertahankan keterampilan leluhur tersebut.
Ina Tobani, maestro kain kulit kayu dari Tanah Kulawi, menekuni kerajinan ini sejak lulus dari Sekolah Rakyat. Di usia 84 tahun, ia masih aktif memproduksi kain kulit kayu sebagai mata pencaharian utama.
“Saya sudah tua, dan sudah tidak diizinkan lagi untuk ke kebun atau ke sawah. Jadi sekarang saya hanya membuat kain kulit kayu untuk dijual,” ujarnya.
Ia menjadikan hasil penjualan kain, mulai dari lembaran hingga pakaian adat, sebagai sumber penghidupan, sekaligus memenuhi kebutuhan keluarga dan merawat tiga anaknya yang sedang sakit.
Ina Tobani menyampaikan bahwa keterbatasan fisik membuatnya kini fokus pada pembuatan kain kulit kayu untuk dijual sebagai penopang hidup.
Selain memproduksi, Ina Tobani juga membentuk kelompok pengrajin yang beranggotakan warga Desa Mataue, Kulawi.
Kelompok tersebut aktif melakukan pelatihan dan produksi, dengan pembinaan yang diberikan secara cuma-cuma sebagai wujud kecintaan pada budaya serta komitmen melestarikan pengetahuan pembuatan kain kulit kayu.
Ia menegaskan bahwa menjaga warisan leluhur lebih penting daripada keuntungan pribadi.
Dengan pengabdian lebih dari 72 tahun, Ina Tobani menjadi simbol pelestarian budaya lokal.
Ketekunan dan kepeduliannya membuat tradisi kain kulit kayu tetap hidup sebagai identitas masyarakat Kulawi dan bagian penting dari kekayaan budaya Sulawesi Tengah, sekaligus memastikan warisan ribuan tahun itu terus diwariskan kepada generasi penerus. (Rul/Nl)










