- Rupiah Makin Melemah, Kurs Dolar Menyentuh Rp18.000 Hari Ini
- Bapenda Sulteng Benahi Pajak Daerah, Sasar BBM, Air, Sampai Alat Berat
- Tingkatkan Kapasitas Relawan se-Sulawesi, ID Humanity Dompet Dhuafa dan PMI Gelar Pelatihan P2
- Presiden Ganti Kepala BGN, Dadan Hindayana Dicopot
- Kemendagri Gelar Rakor Produk Hukum Daerah di Palu, Soroti Membludaknya Regulasi Daerah
- Resmi Berakhir! Armada RJA Keluar sebagai Juara Berani Cup Donggala 2026
- Gaji ke-13 ASN dan Pensiunan Mulai Cair Hari Ini, Cek Nominalnya
- Harga BBM Pertamina per 1 Juni Berubah, Pertamax Turbo Naik
- Sulteng Masuk Daerah Terbaik Pengendalian Inflasi di Sulawesi, Dapat Insentif Rp2 Miliar
- Palu dan Morowali Masuk Daerah Tujuan Migrasi Tertinggi di Sulteng
Gubernur Pasang Target Inflasi Sulteng Turun di Bawah 3,5 Persen dalam Tiga Bulan

Keterangan Gambar : Gubernur Sulteng, Anwar Hafid melakukan rapat Koordinasi TPID bersama seluruh kabupaten/kota, Rabu (3/9/2025), di ruang Polibu Kantor Gubernur. (Foto: Ist)
Likeindonesia.com, PALU - Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, memasang target ambisius, yakni dalam tiga bulan ke depan inflasi Sulteng harus ditekan di bawah 3,5 persen.
Tekad itu ia sampaikan saat memimpin Rapat Koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bersama seluruh kabupaten/kota, Rabu (3/9/2025), di ruang Polibu Kantor Gubernur.
Baca Lainnya :
- Siswa SMK di Palu Ubah Motor BBM Jadi Listrik, Pertama di Sulteng
- Akses Jalan Bertahun-tahun Rusak, Warga Uematopa Touna Keluhkan Dampak ke Ekonomi hingga Listrik
- Gempa 4,8 SR Guncang Parigi Moutong, Terasa Hingga Palu dan Poso
- Kebakaran Hanguskan Tiga Petak Rumah Warga di Jalan Samratulangi Palu
- Kanwil Ditjenpas Sulteng Dorong Kemandirian Klien Pemasyarakatan Lewat Pelatihan UMKM
Inflasi Sulteng per Agustus tercatat 3,62 persen year-on-year, masuk 10 besar provinsi dengan inflasi tertinggi nasional.
Tiga daerah penyumbang terbesar di Sulteng ialah Tolitoli sebesar 5,70 persen, Morowali 5,69 persen, dan Banggai 4,66 persen.
"Kita tidak bisa hanya bicara konsep. Yang dibutuhkan masyarakat adalah tindakan nyata agar harga tetap terkendali," tegasnya.
Anwar menyoroti beras sebagai pemicu utama inflasi dan mendorong gerakan pasar murah yang lebih masif hingga desa-desa dengan melibatkan Bulog, TNI-Polri, kepala desa, dan camat.
Sinergi tersebut, kata dia adalah tindakan mutlak agar harga bisa kembali stabil.
“Kalau semua bergerak bersama, saya yakin inflasi bisa kita tekan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala BI Sulteng, Muhammad Irfan Sukarna, menambahkan persoalan inflasi juga dipicu distribusi beras dari daerah produsen yang lebih banyak keluar provinsi, sementara pasokan dalam daerah tidak tercukupi.
Padahal, menurut BPS, Sulteng masih mencatat surplus 58 ribu ton beras.
"Otoritas harus hadir di pasar. Masyarakat harus yakin pemerintah menjaga harga tetap stabil. Ekspektasi positif ini akan membantu menahan laju inflasi," pungkasnya. (Bim/Nl)










