- Ketua DPRD se-Sulteng Dorong Penguatan Sinergi Pembangunan Daerah
- 459 Ton Durian Sulteng Diekspor ke Tiongkok, Digadang Jadi Ikon Baru Nasional
- Pemerintah Buka 35 Ribu Loker KDKMP dan KNMP, Pelamar yang Lolos Jadi Pegawai BUMN
- Ketika Pemerintah Daerah Menyewa Influencer, Sebuah Jalan Pintas?
- Ketua DPRD Kota Palu Ikuti Retret Ketua DPRD se-Indonesia di Akmil Magelang
- Gubernur Anwar Hafid Ungkap Rencana Alun-alun Ikonik di Palu, Konsepnya Mirip Halaman Istana Negara
- Nambaso Fest 2026 Resmi Dibuka, Digelar Meriah Tanpa Membebani Anggaran Daerah
- HUT ke-62 Sulteng, Gubernur Tekankan Pemerataan Kesejahteraan di Seluruh Daerah
- Turun Langsung ke Desa Dalaka, Gubernur Sulteng Tancap Gas Perbaiki Jalan dan Layanan Warga
- Liga 4 Piala Gubernur Sulteng Resmi Bergulir, Talenta Muda Didorong Berprestasi Lewat Sepak Bola
BMKG: Gelombang Sedang Berpotensi Terjadi di Teluk Palu, Perairan Terbuka Bisa Capai 4 Meter

Keterangan Gambar : Prakirawan Cuaca BMKG Mutiara Sis Aljufri Palu, Lilik Ardiyanto, menjelaskan bahwa secara umum kondisi gelombang di Teluk Palu, Jumat (16/1/2026). (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Palu – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Aljufri Palu memperbarui informasi terkait kondisi gelombang laut di wilayah Sulawesi Tengah.
Saat ini, Teluk Palu berada pada kategori gelombang sedang, namun potensi gelombang lebih tinggi diprakirakan terjadi di perairan terbuka dalam beberapa hari ke depan.
Baca Lainnya :
- Gelombang Tinggi Pengaruhi Aktivitas Nelayan di Pesisir Palu
- Dukung Ketahanan Pangan, Panen Raya Ditjenpas Sulteng Tembus Satu Ton
- Pemprov Sulteng Rampungkan Pembentukan 1.981 Koperasi Merah Putih
- Mau Melaut? BMKG Keluarkan Peringatan Dini Gelombang Tinggi Hingga 2,5 Meter di Perairan Sulteng
- Data BPS: Orang Indonesia Lebih Pilih Liburan ke Wisata Alam Dibanding Mal atau Wahana
Prakirawan Cuaca BMKG Mutiara Sis Aljufri Palu, Lilik Ardiyanto, menjelaskan bahwa secara umum kondisi gelombang di Teluk Palu berada pada kisaran sedang.
“Kalau secara umum untuk kondisi gelombang di wilayah Sulawesi Tengah, khususnya di Teluk Palu, saat ini terdapat potensi gelombang kategori sedang,” ujarnya diwawancarai media ini di ruang kerjanya, Jumat (16/1).
Ia menyebutkan, tinggi gelombang di Teluk Palu berkisar antara 1,25 meter hingga 2,5 meter.
Namun, Lilik menegaskan bahwa kondisi tersebut berbeda apabila memasuki wilayah perairan yang lebih terbuka.
Menurutnya, gelombang di luar Teluk Palu cenderung lebih tinggi karena karakteristik perairan yang tidak tertutup.
BMKG juga memprakirakan adanya potensi peningkatan gelombang dalam dua hingga tiga hari ke depan di sejumlah wilayah perairan Sulawesi Tengah.
Potensi tersebut diperkirakan mencapai puncaknya pada tanggal 19.
Pada periode tersebut, wilayah barat Sulawesi Tengah, mulai dari Teluk Palu, Donggala, hingga Toli-Toli, diprakirakan mengalami gelombang sedang dengan ketinggian 1,25 meter hingga 2,5 meter.
Sementara itu, untuk wilayah yang menghadap ke Teluk Tomini, gelombang berpotensi lebih tinggi.
“Untuk wilayah Sulawesi Tengah yang menghadap ke Teluk Tomini, yaitu Parigi Moutong, Poso, Tojo Una-Una, hingga Banggai, terdapat potensi gelombang dari kategori sedang hingga tinggi,” kata Lilik.
Ia menyebutkan, gelombang tinggi di wilayah tersebut diprakirakan dapat mencapai 2,5 meter hingga 4 meter.
BMKG mengimbau peningkatan kewaspadaan, khususnya bagi nelayan yang menggunakan perahu kecil.
Lilik menegaskan bahwa gelombang di atas 1,5 meter sudah berdampak signifikan terhadap keselamatan pelayaran, terutama bagi nelayan tangkap.
Selain gelombang laut, BMKG juga memaparkan kondisi cuaca di Sulawesi Tengah dalam beberapa waktu ke depan.
Menurut Lilik, potensi cuaca di wilayah ini cenderung didominasi kondisi cerah hingga hujan ringan.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut dipengaruhi oleh adanya bibit siklon tropis di wilayah timur Filipina yang diprakirakan menguat.
Sistem ini menarik uap air dari wilayah Indonesia dan terpusat ke siklon, sehingga Sulawesi Tengah cenderung mengalami kondisi yang lebih kering.
Terkait durasi dan wilayah prioritas kewaspadaan gelombang tinggi, Lilik menyebutkan bahwa pada musim Muson Asia, yang umumnya berlangsung Desember hingga Februari, wilayah barat hingga utara Sulawesi Tengah menjadi daerah yang paling terdampak.
“Mulai dari Palu, Donggala, Toli-Toli, hingga Buol, perlu mewaspadai kondisi gelombang,” ujarnya.
Ia menambahkan, gelombang laut terbentuk akibat angin yang bertiup kuat secara kontinu dan berkelanjutan dari arah yang sama.
Menjawab pertanyaan apakah fenomena ini bersifat berulang, BMKG menegaskan bahwa kondisi tersebut memang mengikuti siklus musiman.
“Pada musim seperti awal tahun ini, angin dominan bertiup dari arah barat laut hingga utara, sehingga wilayah utara dan barat Sulawesi Tengah cenderung terdampak,” kata Lilik.
BMKG pun kembali mengimbau masyarakat yang beraktivitas di wilayah perairan untuk terus memantau informasi cuaca dan gelombang terbaru guna mengantisipasi risiko keselamatan di laut. (Rul/Nl)










