- Ketua DPRD se-Sulteng Dorong Penguatan Sinergi Pembangunan Daerah
- 459 Ton Durian Sulteng Diekspor ke Tiongkok, Digadang Jadi Ikon Baru Nasional
- Pemerintah Buka 35 Ribu Loker KDKMP dan KNMP, Pelamar yang Lolos Jadi Pegawai BUMN
- Ketika Pemerintah Daerah Menyewa Influencer, Sebuah Jalan Pintas?
- Ketua DPRD Kota Palu Ikuti Retret Ketua DPRD se-Indonesia di Akmil Magelang
- Gubernur Anwar Hafid Ungkap Rencana Alun-alun Ikonik di Palu, Konsepnya Mirip Halaman Istana Negara
- Nambaso Fest 2026 Resmi Dibuka, Digelar Meriah Tanpa Membebani Anggaran Daerah
- HUT ke-62 Sulteng, Gubernur Tekankan Pemerataan Kesejahteraan di Seluruh Daerah
- Turun Langsung ke Desa Dalaka, Gubernur Sulteng Tancap Gas Perbaiki Jalan dan Layanan Warga
- Liga 4 Piala Gubernur Sulteng Resmi Bergulir, Talenta Muda Didorong Berprestasi Lewat Sepak Bola
Gelombang Tinggi Pengaruhi Aktivitas Nelayan di Pesisir Palu

Keterangan Gambar : Ketua Rukun Nelayan Talise–Besusu, Arham. (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Palu – Gelombang laut yang terjadi dalam beberapa hari terakhir berdampak pada aktivitas nelayan di sejumlah wilayah pesisir Kota Palu.
Kondisi cuaca tersebut memengaruhi keselamatan melaut, hasil tangkapan, hingga pasokan ikan di pasar.
Baca Lainnya :
- Dukung Ketahanan Pangan, Panen Raya Ditjenpas Sulteng Tembus Satu Ton
- Pemprov Sulteng Rampungkan Pembentukan 1.981 Koperasi Merah Putih
- Mau Melaut? BMKG Keluarkan Peringatan Dini Gelombang Tinggi Hingga 2,5 Meter di Perairan Sulteng
- PLN Pulihkan Jaringan Listrik Terdampak Banjir dan Longsor di Sekitar GI Tawaeli
- Sekuriti Toko Bintang Gasak Brankas Tempatnya Bekerja, Polisi Tangkap Pelaku
Di kawasan Talise–Besusu, nelayan mengaku gelombang tinggi membuat hasil tangkapan tidak menentu.
Ketua Rukun Nelayan Talise–Besusu, Arham, mengatakan cuaca laut menjadi persoalan utama ketika ikan yang ditangkap tidak mencukupi kebutuhan nelayan.
“Persoalannya ketika ikan yang kita tangkap tidak mencukupi dengan kebutuhan kita, jadi kalau untuk BMKG biasa kita lihat di media kita juga perlu kehati-hatian sedikit,” kata Arham.
Ia menjelaskan, nelayan setempat melakukan sejumlah upaya untuk mengurangi risiko saat melaut, salah satunya dengan mengikat perahu di rumpon.
Cara ini dinilai lebih aman dibandingkan membuang jangkar ketika kondisi gelombang tidak stabil.
Menurut Arham, tinggi gelombang dalam beberapa hari terakhir mencapai sekitar dua meter di beberapa titik perairan pesisir Palu.
Kondisi tersebut berdampak pada keselamatan nelayan dan perahu.
“Sedikit kemarin itu kisaran dua meteran, dua meteran di daerah Mamboro, di daerah Citraland, kemarin sampai kemarin ada terjadi korban dua orang,” ujarnya.
Ia menambahkan, perahu nelayan sempat terdampar di bebatuan karena tidak adanya akses pendaratan yang memadai.
Gelombang tinggi memperparah situasi tersebut, terutama di wilayah pesisir yang telah tertutup batu.
Arham menyebut gelombang tinggi berlangsung selama sekitar empat hingga lima hari dan cukup memengaruhi aktivitas melaut nelayan.
“Sekitar 4–5 hari lalu ada beberapa hari memang gelombang agak sedikit (tinggi, red), berpengaruhlah,” katanya.
Meski menghadapi cuaca kurang bersahabat, sebagian nelayan tetap melaut dengan pola waktu yang berbeda.
Ada yang berangkat pagi hari dan kembali siang, sementara lainnya melaut pada malam hari dan kembali keesokan paginya.
Ia mengatakan nelayan tetap berupaya melaut karena menggantungkan pendapatan dari hasil tangkapan.
Bantuan sarana yang telah diberikan pemerintah juga dimanfaatkan untuk menunjang aktivitas tersebut.
“Selama ini kita tiap hari tetap turun, disini kan kita punya pendapatan, apalagi pemerintah sudah bantu sarana ya kita manfaatkan dengan baik,” ujarnya.
Dampak gelombang tinggi juga dirasakan oleh masyarakat sebagai konsumen.
Pasokan ikan di pasar berkurang, sementara harga cenderung naik karena sebagian ikan didatangkan dari luar daerah.
“Kalau di pasar itu kan ikan masuk yang dari luar kota, contoh beberapa hari ini harga ikan di pasar juga sedikit mahal dan kurang memang karena ombak, karena cuaca,” kata Arham.
Ia menegaskan, kondisi cuaca menjadi faktor utama dalam aktivitas penangkapan ikan.
Saat cuaca buruk, sebagian nelayan memilih tidak melaut demi keselamatan.
“Biar bagaimanapun ketika cuaca buruk nelayan tidak melaut,” pungkasnya. (Rul/Nl)










