- Sulteng Jadi Provinsi dengan Kualitas Lingkungan Terbaik Ketiga di Indonesia
- Tolitoli dan Buol Disebut Berpotensi Terdampak Megathrust, BMKG: Bukan Prediksi
- Jasad Bayi Perempuan Ditemukan di Tumpukan Sampah TPA Kawatuna
- Aktivitas Gempa di Sulteng Kembali Meningkat, Tembus 121 Kejadian dalam Sepekan
- Ketua KONI Sulteng Harap Berani Cup Lahirkan Pemain Nasional dan Internasional
- Gaji PPPK Ditanggung Pusat Mulai 2027, Akbar Supratman: Kabar Baik untuk Sulteng
- Gibran Minta Maaf Usai Siswa Keracunan MBG, Sarankan Bawa Bekal yang Dimasak Ibu
- Ahmad Ali Dorong PSI Donggala Perkuat Struktur dan Solidaritas Menuju Pemilu 2029
- Viral Berdandan hingga Tuai Kritik dari Warganet, Guru SD di Tolitoli Kini Diberhentikan
- Warga Jalan Durian Ditemukan Tewas di Belakang Rumah, Diduga Tersengat Listrik Saat Perbaiki Atap
Tolitoli dan Buol Disebut Berpotensi Terdampak Megathrust, BMKG: Bukan Prediksi

Keterangan Gambar : Ilustrasi. (Foto: iStockphoto)
Likeindonesia.com, PALU - Tolitoli dan Buol menjadi dua kabupaten di Sulawesi Tengah yang disebut berpotensi terdampak aktivitas megathrust. Informasi tersebut berdasarkan pemetaan BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Palu.
Menurut pemetaan BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Palu, potensi megthrust tersebut berada pada zona yang membentang dari Tolitoli, Buol, Gorontalo Utara hingga Manado. Aktivitas pergeseran lempeng di dasar laut pada jalur tersebut disebut berpotensi memicu gempa bumi yang dapat menimbulkan tsunami.
Baca Lainnya :
- 49 Ribu Mahasiswa Sulteng Lolos Seleksi Awal Beasiswa Berani Cerdas, Baru 7.396 Unggah Berkas
- Eks Dirut PDAM Banggai Jadi Tersangka Korupsi Dana Penyertaan Modal
- OJK Sulteng Buka Layanan Pengaduan untuk Korban Keuangan Ilegal
- Banjir Landa Lima Desa di Donggala, Satu Warga Masih Dicari
- Nelayan Hilang di Laut Morowali Ditemukan Selamat Setelah Sehari Pencarian
Namun, BMKG menegaskan bahwa informasi mengenai potensi megathrust tersebut bukan merupakan prediksi bahwa gempa akan terjadi dalam waktu tertentu.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Palu sekaligus Koordinator UPT BMKG Provinsi Sulawesi Tengah, Djati Cipto Kuncoro, mengatakan informasi yang disampaikan BMKG merupakan bagian dari edukasi dan upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana.
“Yang disampaikan oleh BMKG itu bukanlah suatu prediksi atau perkiraan, tetapi itu adalah potensi,” kata Djati, Senin (21/9/2026), dikutip dari Kompas.com.
Menurut Djati, potensi gempa tidak dapat diketahui secara pasti, baik terkait kapan gempa akan terjadi, lokasi kejadian, maupun kekuatannya.
“Yang namanya potensi itu kita tidak pernah tahu kapan akan terjadi, tempat atau lokasinya, dan kekuatannya,” ujarnya.
Kajian mengenai potensi gempa tersebut dilakukan melalui Pusat Gempa Nasional (Pusgen) dengan melibatkan BMKG, BRIN, serta sejumlah lembaga pendidikan. Kajian tersebut diperbarui pada 2024 dan mencatat sekitar 46 sesar di Sulawesi Tengah, yang terdiri atas sesar aktif maupun tidak aktif.
Selain potensi dari jalur megathrust, Sulawesi Tengah juga memiliki sejumlah sesar aktif. Pergerakan tektonik utama di wilayah ini disebut didominasi oleh Sesar Palu-Koro.
BMKG sendiri memetakan 14 segmen atau zona megathrust di Indonesia. Tiga di antaranya saat ini menjadi perhatian karena telah lama belum melepaskan energi besar, yakni Megathrust Sunda, Mentawai-Siberut, dan Sumba.
Sementara itu, terkait kondisi Sulawesi Tengah, Djati menyebut gempa besar yang terjadi pada 2018 telah melepaskan energi di wilayah tersebut.
“Untuk Sulawesi Tengah sendiri itu sepertinya di tahun 2018 sudah mengeluarkan energinya,” katanya.
Meski demikian, masyarakat tetap diminta meningkatkan kesiapsiagaan karena gempa bumi merupakan fenomena alam yang dapat terjadi.
Djati mengajak masyarakat memahami langkah yang perlu dilakukan sebelum, saat, dan setelah gempa bumi. Menurutnya, kesiapsiagaan dan pemahaman mitigasi menjadi penting untuk meminimalkan dampak serta mencegah kepanikan ketika bencana terjadi.
“Yang dapat kita lakukan adalah meminimalisir apa yang akan terjadi sehingga kita harus sudah mengetahui sebelum, saat terjadi, dan setelah terjadi gempa bumi, apa yang harus kita lakukan,” ujarnya.
Ia juga mengimbau masyarakat mengikuti informasi kebencanaan dari BMKG dan sumber resmi lainnya.
BMKG berharap masyarakat di Sulawesi Tengah, khususnya Palu, Tolitoli, dan Buol, tetap waspada dan memiliki kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana gempa bumi. (nul)









