- Polres Cirebon Kota Tindaklanjuti Laporan Masyarakat Terkait Dugaan Peredaran Obat Keras Terbatas
- Suhu Palu Tembus 34,7 Derajat, Wagub Ajak Masyarakat Lebih Peduli Perubahan Iklim
- Palu Catat Suhu Maksimum 35 Derajat, Jadi Wilayah Terpanas Kedua di RI
- 50 Huntara Mulai Dibangun untuk Warga Terdampak Gempa di Sigi
- Akbar Supratman Salurkan Ribuan Paket Bantuan untuk Warga Terdampak Gempa di Sigi
- Dalam Sepekan, Gempa Susulan M 6,7 di Sulteng Capai 1.318 Kali
- PTN dan PTS se-Sulteng Bangun Kolaborasi Mitigasi Bencana Berbasis Riset
- Resmi Terpilih, Dua Pelajar Asal Bangkep dan Palu Wakili Sulteng Jadi Calon Paskibraka Nasional 2026
- Enam Hari Pascagempa M 6,7, Gempa Susulan di Sulteng Tembus 1.256 Kali
- Sensus Ekonomi 2026 Digelar, Masyarakat Sulteng Diajak Beri Data Akurat
Wamenag Minta Tak Ada Razia Rumah Makan di Bulan Ramadan

Keterangan Gambar : Wakil Menteri Agama (Wamenag) Muhammad Syafii. (Foto: @romo.syafii/Instagram)
Likeindonesia.com, Jakarta - Wakil Menteri Agama (Wamenag) Muhammad Syafii meminta agar tidak ada razia atau sweeping terhadap rumah makan selama bulan Ramadan.
Menurutnya, Ramadan harus dijalani dengan semangat saling menghormati antara masyarakat yang berpuasa dan yang tidak berpuasa.
Baca Lainnya :
- Sidang Isbat Putuskan Puasa Mulai 19 Februari 2026, Tarawih Dimulai Malam Ini
- Arab Saudi Salurkan 100 Ton Kurma ke Indonesia Jelang Ramadan, Siap Dibagi ke Masjid hingga Kampus
- Menkeu Purbaya Siapkan Rp55 Triliun untuk THR ASN 2026, Target Cair Awal Ramadan
- Denda Tunggakan BPJS Kelas 3 Akan Dihapus, Perpres Disiapkan
- Siap-Siap Mudik Lebaran 2026, Pemerintah Kerahkan 401 Bus Gratis untuk Pemudik ke 34 Provinsi
“Enggak ada sweeping-sweeping. Itulah bentuk penghormatan kita bahwa selain kita yang berpuasa, masih ada saudara kita yang tidak berpuasa,” ujar Syafii usai sidang isbat penentuan awal Ramadan 2026, Selasa (17/2/2026) malam, dikutip dari Kompas.com.
Ia menegaskan, tidak semua masyarakat Indonesia menjalankan ibadah puasa. Karena itu, keberadaan rumah makan yang tetap beroperasi dinilai sebagai bentuk penghormatan terhadap perbedaan keyakinan maupun kondisi tertentu.
Menurutnya, tidak adil jika karena sebagian masyarakat berpuasa, lalu semua orang dipaksa merasakan hal yang sama.
“Enggak mungkin gara-gara kita puasa, semuanya harus merasakan puasa. Yang tidak puasa karena keyakinan berbeda tidak bisa makan dan minum. Ini harus dipertimbangkan dalam membangun kebersamaan,” katanya, dikutip dari laman resmi Kementerian Agama.
Syafii pun menekankan pentingnya menjaga persatuan dan membangun koridor kebersamaan agar perbedaan tidak memicu perpecahan.
“Harus dibangun suasana saling menghormati, sehingga persatuan kita tidak terganggu karena perbedaan,” ujarnya. (Nul/Nl)










