- Ketua DPRD se-Sulteng Dorong Penguatan Sinergi Pembangunan Daerah
- 459 Ton Durian Sulteng Diekspor ke Tiongkok, Digadang Jadi Ikon Baru Nasional
- Pemerintah Buka 35 Ribu Loker KDKMP dan KNMP, Pelamar yang Lolos Jadi Pegawai BUMN
- Ketika Pemerintah Daerah Menyewa Influencer, Sebuah Jalan Pintas?
- Ketua DPRD Kota Palu Ikuti Retret Ketua DPRD se-Indonesia di Akmil Magelang
- Gubernur Anwar Hafid Ungkap Rencana Alun-alun Ikonik di Palu, Konsepnya Mirip Halaman Istana Negara
- Nambaso Fest 2026 Resmi Dibuka, Digelar Meriah Tanpa Membebani Anggaran Daerah
- HUT ke-62 Sulteng, Gubernur Tekankan Pemerataan Kesejahteraan di Seluruh Daerah
- Turun Langsung ke Desa Dalaka, Gubernur Sulteng Tancap Gas Perbaiki Jalan dan Layanan Warga
- Liga 4 Piala Gubernur Sulteng Resmi Bergulir, Talenta Muda Didorong Berprestasi Lewat Sepak Bola
Ranperda Masyarakat Adat Dibahas DPRD Sulteng, Jawab Kekosongan Hukum Lintas Kabupaten

Keterangan Gambar : DPRD Provinsi Sulteng Menggelar Uji Publik Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Provinsi Sulteng Tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Adat di Ruang Sidang Utama Gedung Bidarawasia DPRD Sulteng, Senin (11/8/2025). (Foto: Ist)
Likeindonesia.com, PALU – Maraknya konflik pengelolaan wilayah adat, pencaplokan lahan, hingga tergerusnya sistem pengetahuan tradisional masyarakat adat menjadi alasan kuat DPRD Provinsi Sulawesi Tengah menyusun Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Adat.
Melalui inisiasi Komisi IV, uji publik digelar di Ruang Sidang Utama Gedung Bidarawasia DPRD Sulteng, Senin (11/8/2025) malam.
Baca Lainnya :
- Hutan Kota Palu Bakal Dibaharui Total, Jadi Ikon Hijau Baru Sulawesi Tengah
- Status Bandara Mutiara SIS Al-Jufri Palu Naik Kelas Internasional
- Warga Binaan Sulawesi Tengah Tampilkan Karya di Panggung Nasional IPPA Fest 2025
- 58 Perenang Bentangkan Merah Putih di Atol Donggala, Renang 2,5 Km hingga Pusat Laut
- Menuju Kemandirian Energi, Gubernur Bahas Pembangunan PLTA di Gumbasa
Dipimpin Wakil Ketua I DPRD Sulteng Aristan, kegiatan ini dihadiri Ketua Bapemperda DPRD Sulteng Sri Indraningsih Lalusu MBA, Ketua Komisi IV DPRD Sulteng Moh. Hidayat Pakamundi, para anggota Komisi IV, jajaran Pemprov Sulteng, akademisi, ketua LSM, tokoh masyarakat adat, aktivis, dan tamu undangan lainnya, serta menghadirkan dua narasumber, yakni Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah B3, dan Peningkatan Kapasitas Data Lingkungan Hidup, Dedy Wahyudi, dan Perancang Peraturan Perundang-undangan Ahli Madya, Fandy Riyanto.
Aristan menyebut uji publik merupakan tahapan penting dalam proses pembentukan perda karena memberikan ruang partisipasi seluas-luasnya kepada masyarakat, khususnya masyarakat adat, untuk menyampaikan pandangan, masukan, dan kritik konstruktif.
“Kebijakan publik tidak lahir dari ruang tertutup, tetapi dari dialog dan musyawarah,” ujarnya.
Ia menegaskan, Ranperda ini disusun untuk menjawab kekosongan instrumen hukum di tingkat provinsi, terutama bagi wilayah adat yang terbentang lintas kabupaten. Menurutnya, masyarakat adat adalah bagian penting dari bangsa Indonesia yang memiliki sistem pengetahuan, tata kelola wilayah, dan hak ulayat yang harus dilindungi.
Ketua Komisi IV DPRD Sulteng Moh. Hidayat Pakamundi menambahkan, penyusunan Ranperda ini merupakan amanat UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 18B Ayat (2) yang menyebutkan negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup, sesuai perkembangan masyarakat, dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Hidayat menjelaskan, secara normatif keberadaan masyarakat hukum adat juga telah diatur dalam berbagai kebijakan pemerintah pusat seperti UUPA Nomor 5 Tahun 1960, UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, serta UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Di tingkat daerah, sejumlah kabupaten di Sulawesi Tengah telah menetapkan perda masyarakat hukum adat. Namun, masih terdapat kekosongan kebijakan bagi wilayah adat yang secara administratif beririsan antar kabupaten.
“Olehnya, pemerintah daerah Sulteng berkewajiban merespons kekosongan instrumen hukum ini melalui perda provinsi sebagai landasan hukum yang kuat untuk memastikan hak-hak masyarakat hukum adat diakui, dilindungi, dan perannya dalam pembangunan daerah dihargai,” tegasnya. (Bim/Nl)










