- Rupiah Makin Melemah, Kurs Dolar Menyentuh Rp18.000 Hari Ini
- Bapenda Sulteng Benahi Pajak Daerah, Sasar BBM, Air, Sampai Alat Berat
- Tingkatkan Kapasitas Relawan se-Sulawesi, ID Humanity Dompet Dhuafa dan PMI Gelar Pelatihan P2
- Presiden Ganti Kepala BGN, Dadan Hindayana Dicopot
- Kemendagri Gelar Rakor Produk Hukum Daerah di Palu, Soroti Membludaknya Regulasi Daerah
- Resmi Berakhir! Armada RJA Keluar sebagai Juara Berani Cup Donggala 2026
- Gaji ke-13 ASN dan Pensiunan Mulai Cair Hari Ini, Cek Nominalnya
- Harga BBM Pertamina per 1 Juni Berubah, Pertamax Turbo Naik
- Sulteng Masuk Daerah Terbaik Pengendalian Inflasi di Sulawesi, Dapat Insentif Rp2 Miliar
- Palu dan Morowali Masuk Daerah Tujuan Migrasi Tertinggi di Sulteng
Intervensi Gizi pada Ibu Hamil KEK: Upaya Menekan Risiko Bayi Berat Lahir Rendah

Keterangan Gambar : Ilustrasi. (Foto : iStockphoto)
Oleh:
1. Siti Rahmah Has Roe
2. Azhar
Baca Lainnya :
- BPOM Palu Naik Status Jadi Balai Besar, Pengawasan Obat dan Makanan di Sulteng Diperkuat
- Cegah Kanker, Anak Laki-laki 11 Tahun Dapat Vaksin HPV Gratis Mulai 2027
- Anggota DPD RI Andhika Mayrizal Fasilitasi Khitanan Massal dan USG Ibu Hamil Gratis di Banggai Laut
- Deteksi Dini PJB, Skrining Jantung Anak di Sulteng Menyasar Sekolah Dasar
- Sejumlah Peserta PBI JK Dinonaktifkan, BPJS: Bukan Dicabut, Bisa Direaktivasi
Kekurangan energi kronis (KEK) pada ibu hamil masih menjadi salah satu masalah gizi yang berkontribusi terhadap tingginya kejadian bayi berat lahir rendah (BBLR). Kondisi ini terjadi ketika ibu tidak mendapatkan asupan energi dan protein yang cukup dalam waktu lama, sehingga berdampak pada pertumbuhan janin selama kehamilan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ibu hamil dengan status gizi kurang memiliki risiko lebih tinggi melahirkan bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram. Oleh karena itu, intervensi gizi menjadi langkah penting untuk memperbaiki kondisi tersebut.
Salah satu upaya yang dilakukan dalam program kesehatan ibu adalah pemberian makanan tambahan (PMT) bagi ibu hamil yang mengalami KEK. Program ini bertujuan meningkatkan asupan energi dan protein sehingga kebutuhan nutrisi selama kehamilan dapat terpenuhi. Dalam beberapa studi yang dibahas pada artikel jurnal, pemberian PMT terbukti mampu meningkatkan berat badan ibu selama masa kehamilan serta memperbaiki status gizi ibu yang sebelumnya mengalami defisit energi dan protein.
Data penelitian menunjukkan bahwa ibu hamil dengan KEK memiliki peluang lebih besar mengalami persalinan dengan bayi BBLR dibandingkan ibu dengan status gizi normal. Setelah intervensi berupa PMT diberikan secara teratur, terjadi peningkatan asupan energi dan protein yang berdampak pada perbaikan indikator kesehatan ibu. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi gizi tidak hanya memperbaiki kondisi ibu, tetapi juga berpengaruh pada pertumbuhan janin.
Selain itu, peningkatan berat badan ibu selama kehamilan menjadi indikator penting keberhasilan program PMT. Ibu yang mendapatkan tambahan asupan gizi secara teratur cenderung mengalami peningkatan berat badan yang lebih baik dibandingkan dengan ibu yang tidak mendapatkan intervensi. Kondisi ini berkorelasi dengan meningkatnya peluang bayi lahir dengan berat badan normal.
Meskipun demikian, keberhasilan program PMT tidak hanya bergantung pada ketersediaan makanan tambahan, tetapi juga pada kepatuhan ibu dalam mengonsumsi makanan tersebut serta dukungan keluarga dan tenaga kesehatan. Edukasi gizi yang berkelanjutan perlu diberikan agar ibu memahami pentingnya pemenuhan nutrisi selama masa kehamilan.
Dengan demikian, pemberian makanan tambahan pada ibu hamil dengan KEK merupakan strategi yang efektif untuk menurunkan risiko kejadian BBLR. Upaya ini perlu terus diperkuat melalui program kesehatan masyarakat yang terintegrasi, mulai dari pemantauan status gizi ibu hamil, pemberian intervensi gizi yang tepat, hingga edukasi mengenai pola makan sehat selama kehamilan. Dengan pendekatan yang komprehensif, diharapkan angka kejadian BBLR dapat ditekan dan kualitas kesehatan ibu serta bayi dapat meningkat.










