BMKG: Pertemuan Massa Udara Jadi Pemicu Hujan Lebat di Donggala, Sigi, dan Palu

By Inul Irfani 08 Jan 2026, 12:39:31 WIB Iklim
BMKG: Pertemuan Massa Udara Jadi Pemicu Hujan Lebat di Donggala, Sigi, dan Palu

Keterangan Gambar : Peta monitoring hujan harian periode pengamatan 7 Januari 2026 pukul 07.00 Wita hingga 8 Januari 2026 pukul 07.00 Wita. (Dok: BMKG SPAG Lore Lindu Bariri)


Likeindonesia.com, Palu - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri melaporkan terjadinya peningkatan aktivitas hujan di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah. Berdasarkan peta monitoring hujan harian periode pengamatan 7 Januari 2026 pukul 07.00 Wita hingga 8 Januari 2026 pukul 07.00 Wita, hujan kategori sedang terpantau di wilayah Donggala, Sigi, dan sebagian Kota Palu.


BMKG SPAG Lore Lindu Bariri mencatat, hujan dengan kategori lebat hingga sangat lebat terjadi secara lokal di wilayah Donggala bagian barat. Kondisi ini mengindikasikan adanya peningkatan intensitas hujan akibat dinamika atmosfer yang lebih aktif.

Baca Lainnya :


"Berdasarkan hasil pengamatan dan analisa streamline, teridentifikasi adanya pertemuan massa udara (convergence) yang berasal dari wilayah perairan Jawa dan perairan pasifik. Pola ini menunjukkan terjadinya perlambatan kecepatan angin (wind deceleration) serta peningkatan udara (uplift), sehingga berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan konventif, khususnya awan hujan jenis Cumolonimbus (Cb), yang dapat memicu terjadinya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat," jelas BMKG SPAG Lore Lindu Bariri dalam rilis resminya, Kamis (8/1/2026).


Sementara itu, menurut hasil monitoring curah hujan harian hingga 8 Januari 2026 pukul 07.00 Wita menunjukkan variasi intensitas hujan di sejumlah wilayah. Di Kota Palu, curah hujan tercatat sebesar 44 milimeter di Birobuli Utara, 62 milimeter di Balaroa, dan 98 milimeter di Layana Indah. Curah hujan cukup tinggi juga terpantau di Lompio dengan 125 milimeter, Sunju 54 milimeter, Labuan Salumbone 61,5 milimeter, Kayumalue 25 milimeter, serta Kaonga Besar 78 milimeter.


BMKG SPAG Lore Lindu Bariri menjelaskan, hujan kategori sedang yang terjadi di Donggala, Sigi, dan sebagian Kota Palu berpotensi menimbulkan genangan air sementara, khususnya di kawasan perkotaan dengan sistem drainase yang kurang optimal. Selain itu, kondisi ini juga dapat meningkatkan risiko erosi tanah pada lahan terbuka dan lereng dengan kemiringan sedang.


Sementara hujan lebat hingga sangat lebat yang terpantau secara lokal di Donggala bagian barat berpotensi menimbulkan dampak hidrometeorologi yang lebih serius, seperti banjir lokal, luapan sungai, dan tanah longsor. Risiko tersebut meningkat terutama di wilayah dengan topografi curam, kondisi tanah jenuh air, serta tutupan lahan terbatas. Intensitas hujan tinggi dalam durasi singkat juga dapat memicu peningkatan aliran permukaan secara cepat.


Di sisi lain, BMKG SPAG Lore Lindu Bariri mencatat curah hujan tinggi yang terjadi di Kota Palu turut memberikan dampak positif bagi lingkungan. Hujan membantu membersihkan debu dan polutan di udara sehingga kualitas udara menjadi lebih baik. Suhu udara permukaan juga cenderung menurun akibat berkurangnya radiasi matahari, sehingga kondisi udara terasa lebih sejuk.


Sehubungan dengan kondisi tersebut, BMKG SPAG Lore Lindu Bariri mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi dampak hujan lebat. Masyarakat diminta menghindari aktivitas di sekitar sungai dan lereng rawan longsor, serta menyesuaikan aktivitas harian dengan kondisi cuaca. Warga juga diharapkan terus memantau informasi cuaca terkini dan peringatan dini yang dikeluarkan oleh BMKG. (Nul)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.