- Dalam Sepekan, Gempa Susulan M 6,7 di Sulteng Capai 1.318 Kali
- PTN dan PTS se-Sulteng Bangun Kolaborasi Mitigasi Bencana Berbasis Riset
- Resmi Terpilih, Dua Pelajar Asal Bangkep dan Palu Wakili Sulteng Jadi Calon Paskibraka Nasional 2026
- Enam Hari Pascagempa M 6,7, Gempa Susulan di Sulteng Tembus 1.256 Kali
- Sensus Ekonomi 2026 Digelar, Masyarakat Sulteng Diajak Beri Data Akurat
- Ratusan Skater Ramaikan Go Skateboarding Day 2026 di Palu
- Ditemukan 24 Titik Longsor di Sigi Pascagempa, BNPB Antisipasi Risiko Banjir Bandang
- Kloter Pertama Jemaah Haji Sulteng Tiba di Palu, Disambut Haru Keluarga
- Fathur Razaq Salurkan Ratusan Paket Sembako untuk Korban Gempa di Sigi
- Menkum Supratman Siap Hibahkan Tanah Pribadi di Sulteng untuk Sekolah Rakyat
BMKG Imbau Warga Sulteng Waspadai Potensi Cuaca Ekstrem
.jpg)
Keterangan Gambar : Prakirawan Cuaca BMKG Stasiun Mutiara Sis Aljufri Palu, Fathan Labanu. (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Palu — Ancaman bencana hidrometeorologi mulai mengintai wilayah Sulawesi Tengah seiring mayoritas daerah yang memasuki musim penghujan dan dinamika atmosfer yang semakin meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Prakirawan Cuaca BMKG Stasiun Mutiara Sis Aljufri Palu, Fathan Labanu, menjelaskan bahwa sebagian besar wilayah Sulawesi Tengah kini telah masuk fase musim hujan.
Baca Lainnya :
- Polisi Kantongi Identitas Pelaku Pencurian Kabel EWS di Palu
- Tukang Sapu TKA Cina di IMIP Digaji Hampir Rp19 Juta per Bulan
- 13 Ribu Lebih Warga Sulteng Terindikasi Terlibat Judi Online, Transaksi Capai Rp21 Miliar
- Pengurus KONI Sulteng Periode 2025–2029 Resmi Dilantik
- 373 Atlet Bersaing di Kejurprov Badminton Sulteng 2025, Rebut Piala Gubernur
Menurutnya, kondisi ini diperparah oleh faktor cuaca yang cukup dinamis.
“Jadi kalau untuk di wilayah Sulawesi Tengah pada saat ini memang mayoritas wilayah itu sudah memasuki musim penghujan, ditambah lagi kondisi-kondisi sekarang yang cukup dinamis,” ujarnya diwawancarai media ini di ruang kerjanya, Rabu (3/12) sore.
Ia menerangkan, penyinaran matahari yang cukup kuatyang terjadi sejak pagi hingga siang hari memicu terbentuknya awan hujan pada sore hingga malam hari.
Proses ini meningkatkan peluang terjadinya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di sejumlah wilayah.
Labanu menjelaskan secara tidak langsung bahwa dinamika ini terjadi akibat pemanasan yang tinggi di siang hari, yang kemudian mendorong pertumbuhan awan konvektif pada sore hari.
Kondisi itu sudah mulai dirasakan masyarakat di beberapa daerah.
“Seperti yang masyarakat rasakan sekarang ya, siang panas, tapi sore sudah mulai terjadi tumbuh awan, Sigi biasa berkilat-kilat,” katanya.
Tak hanya faktor lokal, BMKG juga mencermati adanya gangguan cuaca dalam skala lebih luas.
Terdapat bibit siklon tropis di wilayah utara Filipina yang berpotensi memicu hujan sedang hingga lebat di wilayah Indonesia bagian timur, termasuk Sulawesi Tengah.
Fathan menyampaikan, pada 2 Desember kemarin, bibit siklon tropis 93W terpantau berada di sekitar wilayah utara Filipina dan berpotensi memengaruhi pola hujan di kawasan Maluku Utara.
Dampaknya juga berpotensi menjalar ke wilayah Sulawesi Tengah dalam beberapa hari mendatang.
“Kemungkinan ini bisa saja kita waspadai bahwa dalam beberapa hari ke depan akan berdampak ke wilayah Indonesia khususnya Sulawesi Tengah, khususnya di wilayah bagian timur, seperti Banggai, Banggai Laut, dan Banggai Kepulauan,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa saat ini posisi matahari berada di sekitar garis ekuator, sehingga memicu tingkat penguapan yang tinggi dan meningkatkan pertumbuhan awan hujan di berbagai wilayah.
Secara historis, hampir seluruh wilayah Sulawesi Tengah pernah mengalami bencana hidrometeorologi, khususnya banjir.
Tren kejadian bencana yang meluas membuat potensi itu tidak hanya terbatas di satu titik tertentu.
Ia mengatakan bahwa wilayah yang sebelumnya telah terdampak banjir perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan kejadian serupa, bahkan terhadap potensi banjir bandang.
“Kami himbau untuk wilayah-wilayah yang pernah terjadi bencana Hidrometeorologi, untuk lebih waspada, terutama untuk antisipasi terhadap banjir bandang,” tutupnya.
Dengan meningkatnya potensi cuaca ekstrem, masyarakat diimbau untuk memantau informasi cuaca terkini dari BMKG dan menghindari aktivitas di lokasi-lokasi rawan banjir maupun longsor saat hujan deras berlangsung. (Rul/Nl)










