- Ketua DPRD se-Sulteng Dorong Penguatan Sinergi Pembangunan Daerah
- 459 Ton Durian Sulteng Diekspor ke Tiongkok, Digadang Jadi Ikon Baru Nasional
- Pemerintah Buka 35 Ribu Loker KDKMP dan KNMP, Pelamar yang Lolos Jadi Pegawai BUMN
- Ketika Pemerintah Daerah Menyewa Influencer, Sebuah Jalan Pintas?
- Ketua DPRD Kota Palu Ikuti Retret Ketua DPRD se-Indonesia di Akmil Magelang
- Gubernur Anwar Hafid Ungkap Rencana Alun-alun Ikonik di Palu, Konsepnya Mirip Halaman Istana Negara
- Nambaso Fest 2026 Resmi Dibuka, Digelar Meriah Tanpa Membebani Anggaran Daerah
- HUT ke-62 Sulteng, Gubernur Tekankan Pemerataan Kesejahteraan di Seluruh Daerah
- Turun Langsung ke Desa Dalaka, Gubernur Sulteng Tancap Gas Perbaiki Jalan dan Layanan Warga
- Liga 4 Piala Gubernur Sulteng Resmi Bergulir, Talenta Muda Didorong Berprestasi Lewat Sepak Bola
27 Ton Durian Beku Asal Parigi Moutong Diekspor ke Tiongkok

Keterangan Gambar : Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, secara resmi melepas ekspor perdana durian beku produksi PT Silvia Amerta Jaya sebanyak 27 ton ke pasar Tiongkok. (Foto: Humas Pemprov Sulteng)
Likeindonesia.com, Parimo – Sebanyak 27 ton durian beku produksi PT Silvia Amerta Jaya asal Kabupaten Parigi Moutong resmi diekspor ke Tiongkok, Kamis (26/02/2026).
Ekspor perdana komoditas hortikultura tersebut dilepas langsung Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, sebagai bagian dari upaya mendorong hilirisasi dan memperluas akses pasar internasional bagi produk pertanian daerah.
Baca Lainnya :
- Wagub Sulteng Awali Safari Ramadan 2026 di Palu, Perkuat Iman Lewat Program Berani Berkah
- Hujan Belum Merata, Status Siaga Karhutla dan Kekeringan di Parimo Diperpanjang hingga 7 Maret
- Tak Semua Pelaku Dipenjara, KUHP Baru Buka Ruang Hukuman Kerja Sosial
- Audiensi dengan Baznas, Wagub Sulteng Perkuat Program 9 BERANI untuk Bantu Warga Kurang Mampu
- DPRD Sulteng Kecewa Pertemuan CPM dan Tokoh Adat Poboya Digelar Tanpa Pemberitahuan
Dalam sambutannya, Anwar Hafid menyampaikan optimisme besar terhadap masa depan Parigi Moutong sebagai sentra produksi durian terbesar.
“Kabupaten Parigi Moutung akan menjadi kabupaten penghasil Durian terbanyak di dunia. Kalau ini berhasil maka akan merambat ke semua sektor baik itu ekonomi, lapangan kerja terbuka luas dan berbagai UMKM akan semakin banyak juga," ujar Anwar Hafid di Parigi, Kamis (26/02/2026).
Menurutnya, keberhasilan ekspor perdana ini bukan sekadar seremoni, melainkan awal dari transformasi ekonomi berbasis pertanian yang berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya menjaga semangat kolektif antara pemerintah, pelaku usaha, dan petani agar peluang pasar ekspor terus terbuka.
"Maka dari itu kita jaga sama-sama semangat kita agar petani kita juga semangat dengan begitu hal seperti saat ini bisa terulang lagi," katanya.
Anwar Hafid menempatkan petani sebagai aktor utama dalam pembangunan daerah. Ia menyebut petani sebagai garda terdepan dalam mendorong kemajuan ekonomi Sulawesi Tengah melalui penguatan komoditas lokal bernilai ekspor.
“Petani lah yang menjadi garda terdepan sebagai suksesor majunya daerah kita ini,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia mendorong agar Parigi Moutong dijadikan pusat pengembangan durian di Sulawesi Tengah dengan perluasan lahan secara bertahap sebagai strategi jangka panjang memperkuat posisi daerah di pasar internasional.
"Kita jadikan Parigi Moutung itu pusat pengembangan Durian di Sulawesi Tengah," papar Anwar Hafid.
Ia bahkan membandingkan potensi luas lahan durian di Sulawesi Tengah dengan negara produsen lain di Asia Tenggara seperti Laos. Menurutnya, Sulawesi Tengah bisa menjadi pesaing dalam distribusi durian.
“Kalau saja setiap Kabupaten punya tanaman Durian 1000 hektar ditambah Parigi Moutong 5000 hektar kita jadi punya lahan Durian puluhan ribu hektar dan itu sudah bisa menyamai Negara Laos,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Anwar Hafid juga berpesan kepada Bupati Parigi Moutong untuk menjadikan daerah itu sebagai sentra produksi durian berskala besar yang berorientasi ekspor.
“Maka saya berpesan kepada Pak Bupati untuk menjadikan Parigi Moutong ini sebagai lahan tambang Durian," jelasnya.
Ia menganalogikan keberlanjutan ekonomi berbasis pertanian lebih menjanjikan dibandingkan eksploitasi sumber daya alam.
“Parigi Moutong ini banyak tambang emas, tapi lebih baik emas beduri. Kalau emas yang itu bisa habis tapi yang berduri tidak akan habis," pungkasnya.
Ekspor durian beku ke Tiongkok ini menjadi sinyal bahwa komoditas hortikultura Sulawesi Tengah memiliki daya saing global. Pemerintah daerah berharap pengiriman perdana ini dapat berlanjut secara berkesinambungan dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat, khususnya petani durian di Parigi Moutong. (BIM/Nl)










