- Jembatan Berani di Masungkang Banggai Diresmikan, Buka Akses Pendidikan dan Mobilitas Warga
- Kursi Menteri hingga Kapolri Berganti, Ini Daftar Reshuffle Terbaru yang Dilantik Prabowo
- Keren! Band Metal Asal Palu Ini Selipkan Bahasa Kaili hingga Gimba di Album Devastation Manifest
- Bangkep Diguncang Dua Kali Gempa Magnitudo 4,7, Tercatat di Sekitar Sesar Balantak
- Mulai 2027, Pajak Penghasilan Pekerja Bergaji di Bawah Rp10 Juta Ditanggung Pemerintah
- Mengurus Rumah Bukan Cuma Urusan Ibu, BPS Catat Ada 35 Ribu Bapak Rumah Tangga di Sulteng
- Tim SAR Selamatkan Remaja Perempuan dari Atas Tower PLN di Tipo
- UMKM Sulteng Mulai Didorong Go Global, Gerakan 1.000 Pelaku Usaha Ekspor Resmi Dideklarasikan
- Jokowi Dijadwalkan Sambangi Palu, Bakal Resmikan Kantor DPW PSI Sulteng
- Le Na Jodoh, ADISTA Tak Jadi Tampil di Konser HUT Kota Palu ke-48
Wamenag Minta Tak Ada Razia Rumah Makan di Bulan Ramadan

Keterangan Gambar : Wakil Menteri Agama (Wamenag) Muhammad Syafii. (Foto: @romo.syafii/Instagram)
Likeindonesia.com, Jakarta - Wakil Menteri Agama (Wamenag) Muhammad Syafii meminta agar tidak ada razia atau sweeping terhadap rumah makan selama bulan Ramadan.
Menurutnya, Ramadan harus dijalani dengan semangat saling menghormati antara masyarakat yang berpuasa dan yang tidak berpuasa.
Baca Lainnya :
- Sidang Isbat Putuskan Puasa Mulai 19 Februari 2026, Tarawih Dimulai Malam Ini
- Arab Saudi Salurkan 100 Ton Kurma ke Indonesia Jelang Ramadan, Siap Dibagi ke Masjid hingga Kampus
- Menkeu Purbaya Siapkan Rp55 Triliun untuk THR ASN 2026, Target Cair Awal Ramadan
- Denda Tunggakan BPJS Kelas 3 Akan Dihapus, Perpres Disiapkan
- Siap-Siap Mudik Lebaran 2026, Pemerintah Kerahkan 401 Bus Gratis untuk Pemudik ke 34 Provinsi
“Enggak ada sweeping-sweeping. Itulah bentuk penghormatan kita bahwa selain kita yang berpuasa, masih ada saudara kita yang tidak berpuasa,” ujar Syafii usai sidang isbat penentuan awal Ramadan 2026, Selasa (17/2/2026) malam, dikutip dari Kompas.com.
Ia menegaskan, tidak semua masyarakat Indonesia menjalankan ibadah puasa. Karena itu, keberadaan rumah makan yang tetap beroperasi dinilai sebagai bentuk penghormatan terhadap perbedaan keyakinan maupun kondisi tertentu.
Menurutnya, tidak adil jika karena sebagian masyarakat berpuasa, lalu semua orang dipaksa merasakan hal yang sama.
“Enggak mungkin gara-gara kita puasa, semuanya harus merasakan puasa. Yang tidak puasa karena keyakinan berbeda tidak bisa makan dan minum. Ini harus dipertimbangkan dalam membangun kebersamaan,” katanya, dikutip dari laman resmi Kementerian Agama.
Syafii pun menekankan pentingnya menjaga persatuan dan membangun koridor kebersamaan agar perbedaan tidak memicu perpecahan.
“Harus dibangun suasana saling menghormati, sehingga persatuan kita tidak terganggu karena perbedaan,” ujarnya. (Nul/Nl)










