Pilu, Pesan Terakhir Aqib ke Ibu Sebelum Meninggal, Takut Dipukuli di Sekolah

By Inul Irfani 08 Okt 2026, 18:57:52 WIB Story
Pilu, Pesan Terakhir Aqib ke Ibu Sebelum Meninggal, Takut Dipukuli di Sekolah

Keterangan Gambar : Kisah kematian Muhammad Hasbi Al Aqib (7), siswa kelas 2 SDN 1 Kebondalem, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, ramai menjadi perhatian. (Foto: @fakta.indo/Instagram)


Likeindonesia.com, JATENG - Kisah kematian Muhammad Hasbi Al Aqib (7), siswa kelas 2 SDN 1 Kebondalem, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, ramai menjadi perhatian. Sebelum meninggal dunia, Aqib sempat menyampaikan pesan kepada ibunya karena mengaku takut dipukuli di sekolah.


Diah Indriyanti (36), ibu Aqib, mengatakan putranya sempat meminta agar dirinya tidak terlalu lama menjemput dari sekolah pada Jumat (11/9/2026).

Baca Lainnya :


“Aqib bilang, ‘Mama, nanti jemputnya jangan lama. Aqib takut mau dipukulin’,” ungkap Diah, dikutip dari Republika.co.id.


Diah mengatakan, pada hari itu Aqib juga sempat bercerita bahwa dirinya dipukuli di aula sekolah.


“Pas cerita itu bilangnya dipukuli di aula,” ujar Diah.


Sehari setelahnya, Aqib mulai mengeluhkan sakit pada bagian perut dan belakang tubuhnya. Diah kemudian membawa putranya ke dokter untuk diperiksa.


Dari pemeriksaan, ditemukan memar pada bagian lutut Aqib. Dokter menyampaikan kepada Diah bahwa luka tersebut akibat semacam pukulan. Aqib juga sempat menceritakan apa yang dialaminya kepada dokter.


“Saya dan suami langsung drop. Terus langsung disuruh ke IGD,” kata Diah.


Aqib kemudian menjalani perawatan di rumah sakit selama sekitar delapan atau sembilan hari. Setelah diperbolehkan pulang, kondisinya belum membaik sepenuhnya.


Diah mengatakan Aqib masih mengeluhkan sakit saat digendong dan mengalami muntah-muntah. Tiga hari setelah berada di rumah, kondisi Aqib kembali memburuk.


Pada 30 September 2026, Aqib meninggal dunia saat hendak dibawa kembali ke rumah sakit. Diah sempat membawa putranya ke rumah sakit, tetapi pihak medis menyatakan Aqib telah meninggal.


Diah kemudian melaporkan kasus tersebut ke Polres Pemalang karena mencurigai putranya menjadi korban perundungan dan dugaan penganiayaan.


Polisi telah memeriksa sejumlah saksi, termasuk siswa, guru, kepala sekolah, serta kedua orang tua Aqib. Penyidik juga telah melakukan olah tempat kejadian perkara.


Jenazah Aqib turut diautopsi oleh tim Biddokkes Polda Jawa Tengah. Polisi menyatakan hasil resmi autopsi masih menunggu keterangan dari Biddokkes.


Kasatreskrim Polres Pemalang, AKP M. Faizal Wildan Umar Rela juga membantah kabar di media sosial yang menyebut hasil autopsi menunjukkan adanya bagian tubuh Aqib yang rusak akibat penganiayaan.


Diah berharap kasus kematian putranya dapat diusut hingga tuntas. Jika terbukti terjadi perundungan dan penganiayaan, ia meminta pihak yang bertanggung jawab diproses sesuai hukum. (nul)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.