- Bupati Sigi Buka Suara soal Jenazah Mantan Kades Diantar Pakai Ojek, Upayakan Akses Jalan Memadai
- KONI Sulteng Apresiasi Perkembangan Kickboxing dalam Musprov II KBI
- Lapor ke Prabowo, Kepala BNPB Sebut Karhutla Diprediksi Mereda Mulai Pertengahan Oktober
- 2.540 Pekerja di Sulteng Kena PHK Sepanjang Januari-September 2026
- Salena Dilanda Krisis Air Bersih, Sungai Mengering akibat El Nino
- Ratusan Personel Gabungan Gerebek Lokasi Peredaran Narkoba di Kayumalue, 7 Orang Diamankan
- Antrean Solar di SPBU Diponegoro Palu Berujung Penganiayaan, Sopir Truk Dipukul Pakai Batako
- Aturan Wajib Halal Berlaku 18 Oktober, BPJPH Wanti-wanti Penipuan Berkedok Sanksi
- Kabut Asap Karhutla Meluas di Sulteng, Gubernur Imbau Warga Pakai Masker
- Sarang Narkoba di Tavanjuka Palu Digerebek, Bong hingga Senjata Tajam Diamankan
Peringatan Dini Potensi Karhutla Sulteng 7 Hari ke Depan, BMKG Imbau Warga Tak Bakar Lahan

Keterangan Gambar : Parameter Fine Fuel Moisture Code (FFMC) di wilayah Sulawesi Tengah pada 30 Agustus 2026. (Foto: Dok. BMKG Stasiun Mutiara Sis Al-Jufri Palu)
Likeindonesia.com, PALU – BMKG Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al-Jufri Palu mengeluarkan peringatan dini potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sulawesi Tengah untuk tujuh hari ke depan, yakni pada periode 30 Agustus hingga 5 September 2026.
Berdasarkan laporan yang diterima Sabtu (29/8/2026), potensi kemudahan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Sulteng berada pada kategori sedang hingga sangat tinggi.
Baca Lainnya :
- OJK Sulteng Buka Layanan Pengaduan untuk Korban Keuangan Ilegal
- Banjir Landa Lima Desa di Donggala, Satu Warga Masih Dicari
- Nelayan Hilang di Laut Morowali Ditemukan Selamat Setelah Sehari Pencarian
- Sulteng Dapat Alokasi Rp356 Miliar untuk Cetak Sawah Rakyat Seluas 10 Ribu Hektare
- Warga Tolitoli Ramai-ramai Jadi Penambang di Pantai Tinabogan, Benarkah Ada Emas?
Peringatan tersebut berdasarkan hasil analisis Fire Danger Rating System (FDRS), dengan parameter Fine Fuel Moisture Code (FFMC) yang menunjukkan tingkat kemudahan terbakar bahan bakar ringan di permukaan tanah serta Fire Weather Index (FWI) yang menunjukkan besarnya intensitas api jika terjadi kebakaran.
Kepala Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al-Jufri Palu, Taufiq Hidayah, menyebut kondisi tersebut dipengaruhi kombinasi faktor cuaca.
“Kondisi ini disebabkan oleh kombinasi suhu udara yang tinggi, kelembapan rendah, serta angin kencang yang dapat mempercepat penyebaran api jika terjadi kebakaran,” jelasnya.
Atas kondisi tersebut, BMKG Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al-Jufri Palu mengimbau seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan serta segera melakukan langkah mitigasi.
Masyarakat diminta tidak membakar lahan, semak belukar, maupun sampah, terutama dalam kondisi cuaca kering dan berangin. Jika pembakaran untuk keperluan tertentu terpaksa dilakukan, warga diminta melakukan pengawasan ketat dan menyiapkan alat pemadam sederhana seperti ember berisi air atau pasir.
Warga juga diminta segera melaporkan jika melihat asap atau api di sekitar permukiman maupun kawasan hutan kepada perangkat desa, petugas keamanan, atau BPBD setempat.
Selain itu, masyarakat disarankan membersihkan lingkungan dari bahan mudah terbakar seperti tumpukan kayu, jerami, dan sampah kering. Warga juga dapat membuat jalur pemisah atau sekat di sekitar permukiman dengan membersihkan ilalang dan semak.
BMKG Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al-Jufri Palu turut mengimbau masyarakat menyediakan cadangan air di rumah atau lingkungan untuk mengantisipasi kondisi darurat jika terjadi kebakaran kecil serta mengikuti arahan petugas dan pemerintah terkait tindakan pencegahan maupun evakuasi.
Untuk pemangku kepentingan, BMKG Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al-Jufri Palu merekomendasikan pengaktifan posko siaga karhutla di tingkat provinsi, kabupaten, dan kecamatan serta menugaskan petugas pemantauan lapangan secara bergilir selama 24 jam.
Selain itu, BMKG Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al-Jufri Palu turut merekomendasikan peningkatan patroli terpadu di wilayah rawan karhutla, terutama pada siang hingga sore hari. Teknologi seperti drone atau kamera pengawas disebut dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi titik panas (hotspot) secara dini.
Dari sisi kesiapan pemadaman, pemerintah diminta memastikan ketersediaan pompa air, tangki air, APAR, dan perlengkapan petugas. Pos-pos air serta sekat bakar (firebreak) juga perlu disiapkan di area rawan.
Selain itu, Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al-Jufri Palu menyebut perlu disediakan nomor pengaduan darurat yang aktif 24 jam agar setiap laporan mengenai asap atau api dapat segera ditindaklanjuti.
“Kami sangat berharap agar seluruh pihak dapat bekerja sama dan bergerak cepat dalam menghadapi potensi karhutla ini. Kewaspadaan dan tindakan preventif merupakan kunci utama untuk menghindari kerugian jiwa, harta, dan lingkungan,” demikian disampaikan dalam laporan tersebut. (nul)


_3.jpg)







