- Irjen Rizal Irawan Resmi Ditunjuk Jadi Kapolda Sulteng, Gantikan Irjen Nasri
- Pemerintah Pangkas Antrean Haji, dari 49 Tahun Kini Jadi 14 Tahun
- Pajak Usaha Kuliner di Palu Turun Jadi 5 Persen, Berlaku untuk Warung hingga Lapak Non-Permanen
- Viral, Surat Resmi Bupati Sigi ke Menteri PU Jadi Bungkus Nasi Pecel di Jakarta, Bupati: Saya Sedih
- Jembatan Berani di Masungkang Banggai Diresmikan, Buka Akses Pendidikan dan Mobilitas Warga
- Kursi Menteri hingga Kapolri Berganti, Ini Daftar Reshuffle Terbaru yang Dilantik Prabowo
- Keren! Band Metal Asal Palu Ini Selipkan Bahasa Kaili hingga Gimba di Album Devastation Manifest
- Bangkep Diguncang Dua Kali Gempa Magnitudo 4,7, Tercatat di Sekitar Sesar Balantak
- Mulai 2027, Pajak Penghasilan Pekerja Bergaji di Bawah Rp10 Juta Ditanggung Pemerintah
- Mengurus Rumah Bukan Cuma Urusan Ibu, BPS Catat Ada 35 Ribu Bapak Rumah Tangga di Sulteng
Festival Tampolore Diusulkan Jadi Pintu Masuk Promosi Wisata Megalit Poso ke Dunia

Keterangan Gambar : Pembukaan Festival Tampolore ke-4, Jumat (27/6/2025). (Foto: IST)
POSO, Likeindonesiacom – Festival Tampolore ke-4 yang digelar di Situs Megalit Pokekea, Desa Hanggira, Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso, dibuka Jumat (27/6/2025).
Acara ini dipandang sebagai momentum strategis untuk mendorong promosi wisata megalit Lembah Behoa ke tingkat internasional.
Baca Lainnya :
- Dinkes Sulteng Lakukan Rapid Tes pada Kedatangan Jemaah Haji Sulteng
- Kloter Pertama Jemaah Haji Sulteng Tiba di Palu
- Harga Melonjak, GPM Jadi Penawar: Upaya Polres dan DKP Donggala Upaya Kendalikan Inflasi
- Sinergi DKP dan Polres Donggala Hadirkan Layanan Pangan Murah
- Mahasiswa Desak DPRD Sulteng Evaluasi Perizinan Tambang
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah, Andi Kamalemba, menyampaikan bahwa festival ini bukan sekadar pertunjukan budaya, tetapi bagian dari strategi mengangkat sektor pariwisata lokal.
“Megalit di Lembah Behoa yang sudah dikenal luas tetap perlu didorong menjadi tujuan wisata bernilai tinggi. Dengan begitu, akan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat,” ujarnya.
Senada, Kepala Dinas Pariwisata Poso, Yusak Mentara, menilai Festival Tampolore sebagai manifestasi jati diri masyarakat setempat yang menggabungkan kekuatan budaya dan potensi alam.
“Tampolore tidak hanya kaya sumber daya alam, tetapi juga memiliki tradisi budaya yang sangat tua,” katanya.
Dari sisi pelestarian, perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan, Muhammad Tan, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas pihak untuk menjaga warisan budaya megalit di Lembah Behoa.
Ia menyebut upaya sedang dilakukan agar tradisi lokal dapat diakui sebagai warisan budaya dunia.
“Ini membutuhkan kerja kolektif dari semua pihak, mulai dari pemerintah, aktivis, masyarakat adat, hingga masyarakat luas,” ungkapnya.
Festival yang berlangsung hingga 29 Juni 2025 ini mengangkat tema Harmonisasi Budaya dan Alam, dan diisi dengan berbagai kegiatan seperti lomba musik bambu, pameran kerajinan, diskusi film, dan jelajah situs megalit. (rul)




_2.jpg)





