- Ketua DPRD se-Sulteng Dorong Penguatan Sinergi Pembangunan Daerah
- 459 Ton Durian Sulteng Diekspor ke Tiongkok, Digadang Jadi Ikon Baru Nasional
- Pemerintah Buka 35 Ribu Loker KDKMP dan KNMP, Pelamar yang Lolos Jadi Pegawai BUMN
- Ketika Pemerintah Daerah Menyewa Influencer, Sebuah Jalan Pintas?
- Ketua DPRD Kota Palu Ikuti Retret Ketua DPRD se-Indonesia di Akmil Magelang
- Gubernur Anwar Hafid Ungkap Rencana Alun-alun Ikonik di Palu, Konsepnya Mirip Halaman Istana Negara
- Nambaso Fest 2026 Resmi Dibuka, Digelar Meriah Tanpa Membebani Anggaran Daerah
- HUT ke-62 Sulteng, Gubernur Tekankan Pemerataan Kesejahteraan di Seluruh Daerah
- Turun Langsung ke Desa Dalaka, Gubernur Sulteng Tancap Gas Perbaiki Jalan dan Layanan Warga
- Liga 4 Piala Gubernur Sulteng Resmi Bergulir, Talenta Muda Didorong Berprestasi Lewat Sepak Bola
Ribuan Massa Bersihkan Sampah di Kawasan Mangrove Teluk Palu, Diperkirakan Capai 100 Ton

Keterangan Gambar : Aksi bersih-bersih sampah berskala besar di kawasan konservasi mangrove Teluk Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (30/1) pagi. (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Palu – Pemerintah Kota Palu menggelar aksi bersih-bersih sampah berskala besar di kawasan konservasi mangrove Teluk Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (30/1) pagi.
Kegiatan ini dilakukan untuk merespons penumpukan sampah laut yang mengancam keberlangsungan ekosistem mangrove di pesisir Pantai Layana, Kelurahan Tondo.
Baca Lainnya :
- Mayoritas Swalayan di Sulteng Tersebar di Daerah Ini, Palu Bukan yang Teratas
- Retribusi Sampah Palu Tembus Rp14 Miliar, Target 2026 Dipatok Rp16 Miliar
- Rusman Ramli Bergabung dalam Orasi, Tegaskan Dukungan ke Penambang Rakyat Poboya
- Nurhalis Nur: DPRD Siap Berada di Garda Terdepan Bersama Penambang Poboya
- Ratusan Penambang Poboya Konvoi Truk ke Depan DPRD Palu, Desak WPR dan Penciutan Lahan PT CPM
Dalam kegiatan tersebut, pemerintah mengerahkan sekitar 3.500 personel yang terdiri dari petugas Padat Karya Dinas Lingkungan Hidup (DLH), lintas organisasi perangkat daerah, pegiat lingkungan, TNI-Polri, siswa, hingga mahasiswa.
Pembersihan dilakukan di sepanjang bentangan pesisir sekitar 1,2 kilometer yang selama ini menjadi lokasi akumulasi sampah kiriman.
Sekretaris DLH Kota Palu, Ibnu Mundzir menjelaskan, kegiatan ini merupakan langkah awal untuk mengurangi tekanan sampah terhadap ekosistem mangrove.
Ia mengatakan, meskipun volume sampah yang ada cukup besar, upaya pembersihan diharapkan dapat memberi dampak nyata bagi lingkungan pesisir.
“Sekitar 1,2 kilometer bentangan pesisir di teluk ini kita bersihkan. Mudah-mudahan apa yang kita lakukan hari ini bisa memberikan dampak, walaupun jumlah sampahnya memang cukup besar,” ujar Ibnu Mundzir diwawancarai usai kegiatan aksi bersih, Jumat (30/1) pagi.
Menurut Ibnu, sebagian besar sampah yang menumpuk merupakan sampah kiriman yang terbawa aliran sungai maupun arus laut dari Selat Makassar, terutama saat memasuki musim angin barat.
Kondisi tersebut menyebabkan sampah kembali berdatangan dan terperangkap di kawasan mangrove.
Ia menambahkan, keterlambatan penanganan sampah dapat berdampak serius pada mangrove yang bersifat sensitif terhadap penumpukan limbah.
Jika dibiarkan, aliran oksigen pada akar mangrove akan terhambat dan berpotensi menyebabkan kematian tanaman.
“Kalau kita lambat membersihkan, maka mangrove kita akan terancam. Mangrove ini cukup sensitif terhadap sampah, karena aliran oksigennya bisa terhambat oleh tumpukan sampah,” katanya.
Dalam kegiatan ini, pemerintah menyiapkan sekitar 70 armada pengangkut sampah.
Volume sampah yang terangkat diperkirakan mendekati 100 ton, dengan dominasi sampah plastik dan material kayu.
Sampah yang dikumpulkan akan dibawa ke tempat pembuangan akhir untuk kemudian disortir.
Ibnu menyebutkan, aksi bersih-bersih ini tidak berhenti pada kegiatan satu hari.
Pemerintah Kota Palu berencana melakukan evaluasi dan melibatkan pemerintah provinsi serta kalangan akademisi untuk merumuskan langkah lanjutan, termasuk kemungkinan pemasangan penghalang sampah guna melindungi kawasan mangrove.
“Ke depan kita akan evaluasi dan berbagi peran dengan provinsi serta teman-teman kampus. Kita akan bicarakan secara teknis agar mangrove bisa kita jaga dan tidak sampai mati di musim seperti ini,” ucapnya.
Ia juga menekankan pentingnya konsistensi dalam penanganan sampah laut.
Menurutnya, meskipun hasil pembersihan bisa cepat tertutup kembali oleh sampah kiriman, berhenti peduli justru akan memperbesar persoalan lingkungan di masa depan. (Rul/Nl)










