- Palu Catat Suhu Maksimum 35 Derajat, Jadi Wilayah Terpanas Kedua di RI
- 50 Huntara Mulai Dibangun untuk Warga Terdampak Gempa di Sigi
- Akbar Supratman Salurkan Ribuan Paket Bantuan untuk Warga Terdampak Gempa di Sigi
- Dalam Sepekan, Gempa Susulan M 6,7 di Sulteng Capai 1.318 Kali
- PTN dan PTS se-Sulteng Bangun Kolaborasi Mitigasi Bencana Berbasis Riset
- Resmi Terpilih, Dua Pelajar Asal Bangkep dan Palu Wakili Sulteng Jadi Calon Paskibraka Nasional 2026
- Enam Hari Pascagempa M 6,7, Gempa Susulan di Sulteng Tembus 1.256 Kali
- Sensus Ekonomi 2026 Digelar, Masyarakat Sulteng Diajak Beri Data Akurat
- Ratusan Skater Ramaikan Go Skateboarding Day 2026 di Palu
- Ditemukan 24 Titik Longsor di Sigi Pascagempa, BNPB Antisipasi Risiko Banjir Bandang
Lapas Tolitoli Gelar Program Pemberantasan Buta Aksara bagi Warga Binaan

Keterangan Gambar : Lapas Kelas IIB Tolitoli menggelar kegiatan pembelajaran pemberantasan buta aksara kepada warga binaan di Perpustakaan Lapas Tolitoli, Rabu (7/1/2026). (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)
Likeindonesia.com, Tolitoli – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tolitoli menggelar kegiatan pembelajaran pemberantasan buta aksara bagi warga binaan yang belum memiliki kemampuan baca tulis dan berhitung.
Kegiatan ini berlangsung di Perpustakaan Lapas Tolitoli, Rabu (7/1/2026), mulai pukul 09.00 WITA.
Baca Lainnya :
- Gunardi AK Mulai Diperhitungkan Jadi Ketua Golkar Tolitoli
- admin
- Hacked By Danzvorever
- Angin Puting Beliung Terjang Desa Bajugan, 8 KK Terdampak
- . /Raiden ganteng Ft ./Kuncen Haxor
Program tersebut diikuti oleh warga binaan yang telah terdata sebagai peserta pendidikan dasar dan menjadi bagian dari pembinaan pendidikan melalui skema Pendidikan Kesetaraan Paket B.
Kegiatan ini ditujukan untuk memenuhi hak pendidikan warga binaan sekaligus mendukung proses pembinaan selama menjalani masa pidana.
Kepala Lapas Kelas IIB Tolitoli, Mansur Yunus Gafur, mengatakan program pemberantasan buta aksara merupakan salah satu bentuk pembinaan yang difokuskan pada peningkatan kapasitas dasar warga binaan.
“Masih ada warga binaan yang memiliki keterbatasan dalam kemampuan baca tulis dan berhitung. Melalui kegiatan ini, kami berupaya memastikan mereka tetap mendapatkan hak pendidikan sebagai bekal ketika kembali ke masyarakat,” ujar Mansur.
Materi pembelajaran disampaikan oleh petugas registrasi Lapas Tolitoli dengan dukungan peserta magang.
Dalam sesi tersebut, warga binaan mendapatkan pengenalan materi dasar Pendidikan Kewarganegaraan, mulai dari pengertian norma, sifat-sifat norma, hingga jenis-jenis norma dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurut Mansur, materi tersebut dipilih untuk menanamkan pemahaman nilai sosial dan kebangsaan yang dinilai penting dalam proses pembinaan kepribadian warga binaan.
Ia menambahkan, pembinaan pendidikan tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan akademik dasar, tetapi juga membentuk sikap dan pem understanding tentang hidup bermasyarakat secara lebih baik setelah menjalani masa pidana.
Lapas Tolitoli berencana melanjutkan program serupa secara bertahap sebagai bagian dari pembinaan berkelanjutan, khususnya bagi warga binaan dengan latar belakang pendidikan rendah. (Rul/Nl)










