- Kualitas Udara Palu Memburuk, BMKG Sebut Ada Pengaruh Polutan dari Papua Selatan
- Pemprov Sulteng Siapkan Venue Kapasitas 50 Ribu Orang di Hutan Kota Palu untuk Pesparawi 2029
- Irjen Rizal Irawan Resmi Ditunjuk Jadi Kapolda Sulteng, Gantikan Irjen Nasri
- Pemerintah Pangkas Antrean Haji, dari 49 Tahun Kini Jadi 14 Tahun
- Pajak Usaha Kuliner di Palu Turun Jadi 5 Persen, Berlaku untuk Warung hingga Lapak Non-Permanen
- Viral, Surat Resmi Bupati Sigi ke Menteri PU Jadi Bungkus Nasi Pecel di Jakarta, Bupati: Saya Sedih
- Jembatan Berani di Masungkang Banggai Diresmikan, Buka Akses Pendidikan dan Mobilitas Warga
- Kursi Menteri hingga Kapolri Berganti, Ini Daftar Reshuffle Terbaru yang Dilantik Prabowo
- Keren! Band Metal Asal Palu Ini Selipkan Bahasa Kaili hingga Gimba di Album Devastation Manifest
- Bangkep Diguncang Dua Kali Gempa Magnitudo 4,7, Tercatat di Sekitar Sesar Balantak
Kualitas Udara Palu Memburuk, BMKG Sebut Ada Pengaruh Polutan dari Papua Selatan

Keterangan Gambar : Hasil pengukuran kualitas udara di wilayah Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (5/10/2026). (Foto: Dok. BMKG SPAG Lore Lindu Bariri)
Likeindonesia.com, PALU - Kualitas udara di Kota Palu semakin memburuk. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kondisi tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh faktor lokal, tetapi juga berpotensi mendapat pengaruh dari pergerakan massa udara yang membawa polutan dari wilayah lain, termasuk Papua Selatan.
Hal itu disampaikan BMKG Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri berdasarkan hasil pengukuran kualitas udara pada Minggu (4/10/2026).
Baca Lainnya :
- Hari Pajak Nasional 2025, Anwar Hafid Ajak Warga: Mari Berani Bayar Pajak
- Sulteng Kembali Tembus Final Indonesia Derby 2025 Lewat Tangan Pelatih Edo Apriansyah
- Sepekan Tak Pulang, Dua Nelayan Laulalang Tolitoli Dalam Pencarian
- Kampanye Stop Perkawinan Usia Anak di Palu, Anak-Anak Serukan Pentingnya Lindungi Masa Depan
- Aksi Kejahatan Tak Mengenal Waktu, Warga Kota Palu Jadi Korban Pembusuran
Dalam pemantauan tersebut, konsentrasi PM2.5 tercatat mencapai 132 µg/m³ dan masuk kategori tidak sehat. Sementara PM10 tercatat 130 µg/m³ atau kategori sedang, sedangkan PM1 mencapai 125 µg/m³.
BMKG SPAG Lore Lindu Bariri menjelaskan kondisi kualitas udara di Palu juga tidak terlepas dari musim kemarau yang sedang berlangsung serta pengaruh fenomena El Nino. Kondisi tersebut menyebabkan lingkungan menjadi lebih kering dan frekuensi hujan berkurang.
Minimnya hujan juga disebut membuat proses alami atmosfer dalam membersihkan partikulat menjadi berkurang. Akibatnya, debu dan partikel polutan lebih mudah terakumulasi di udara.
Selain faktor lokal, BMKG SPAG Lore Lindu Bariri menjelaskan, pergerakan massa udara secara regional dapat membawa polutan dari wilayah lain, termasuk Papua Selatan. Kondisi tersebut berpotensi turut memengaruhi konsentrasi partikulat di wilayah Sulawesi Tengah.
Dengan kondisi kualitas udara yang memburuk, BMKG mengimbau masyarakat mengurangi paparan udara luar, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
“Ketika kualitas udara sedang buruk, masyarakat perlu mengurangi paparan udara luar, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia,” tulis BMKG SPAG Lore Lindu Bariri dalam laporannya, Senin (5/10/2026).
Masyarakat juga disarankan menggunakan masker yang sesuai, membatasi aktivitas di luar ruangan, serta menghindari kegiatan yang dapat menambah polusi udara, seperti membakar sampah.
BMKG turut mengingatkan masyarakat untuk terus memantau kondisi kualitas udara dan mengurangi paparan ketika kualitas udara memburuk.
“Pantau kualitas udara, kurangi paparan, dan lindungi kesehatan. Karena udara bersih bukan hanya tentang apa yang terlihat, tetapi juga apa yang kita hirup,” demikian keterangan BMKG SPAG Lore Lindu Bariri melalui akun instagram resmi, dikutip dari @iklim_sulteng. (nul)









