Penenun Motif Kelor di Palu Masih Eksis, Simbol Kearifan Lokal dan Penggerak Ekonomi UMKM

By Inul Irfani 28 Okt 2025, 13:18:06 WIB Daerah
Penenun Motif Kelor di Palu Masih Eksis, Simbol Kearifan Lokal dan Penggerak Ekonomi UMKM

Keterangan Gambar : Banua Kharisma, kelompok penenun yang berlokasi di Jalan Mangga, Kota Palu. (Foto: Syahrul/Likeindonesia.com)


Likeindonesia.com, Palu — Di tengah perkembangan industri tekstil modern, para penenun tradisional di Kota Palu masih setia menjaga warisan budaya leluhur.


Salah satunya adalah Banua Kharisma, kelompok penenun yang berlokasi di Jalan Mangga, Palu, yang hingga kini terus melestarikan tenun motif kelor, motif khas daerah yang sarat makna kearifan lokal.

Baca Lainnya :


Penenunan di tempat ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam.


Aktivitas menenun menjadi pekerjaan turun-temurun bagi sebagian masyarakat.


Pemilik Banua Kharisma menceritakan, ia mulai mandiri menenun sejak tahun 1999 setelah sebelumnya belajar dari orang tuanya.


“Awal mula di tahun 1999 kalau saya, sudah mandiri. Sebelumnya ikut orang tua, karena tenun ini turun-temurun. Tapi tetap ilmu dari orang tua yang saya pegang,” ujar Selamet Efendi, Pemilik Banua Kharisma Palu, diwawancarai di lokasi, Selasa (28/10/2025).


Ia menambahkan, selama ini para penenun juga mendapatkan dukungan dari pemerintah, mulai dari pelatihan, penyediaan bahan baku, hingga promosi produk.


“Bahkan dari pemerintah mendukung, pelatihan, bahan baku, pewarnaan, sampai promosi, dibantu pemerintah,” tuturnya.


Motif kelor yang menjadi ciri khas tenun Palu telah diresmikan melalui surat keputusan wali kota. 


Para penenun di Banua Kharisma kini memperbanyak produksi motif tersebut dengan sentuhan warna-warna modern, termasuk warna lembut alami yang banyak diminati konsumen.


Motif kelor diyakini memiliki filosofi mendalam. Selain dikenal sebagai simbol kesehatan dan kekuatan, motif ini juga menjadi bagian dari adat istiadat masyarakat setempat.


“Motif kelor ini mungkin hampir tiga tahun eksis. Sejarawan melihat motif kelor sebagai lambang, simbol untuk kesehatan, dan memang ada untuk adat istiadatnya di sini, jadi budaya,” jelasnya.


Jenis tenun yang diproduksi di Banua Kharisma beragam, mulai dari ATBM biasa, songket, hingga tenunan jangkar, semuanya menggunakan motif kelor.


Setiap jenis tenun memiliki waktu pengerjaan yang berbeda-beda.


“Kalau tenun ATBM butuh dua hari, kalau songket satu minggu, kalau jangkar satu hari satu,” terangnya.


Produk tenun yang dihasilkan diolah menjadi berbagai kebutuhan, seperti bahan baju, kemeja, syal, siga, tas, hingga sarung tradisional. 


Hasil produksi disimpan sebagai stok dan dipasarkan ke berbagai kalangan, termasuk untuk kebutuhan seragam kantor yang kini banyak menggunakan bahan tenun lokal.


Kebijakan pemerintah yang mendorong penggunaan tenun daerah dalam pakaian dinas disebut memberi dampak positif bagi perajin.


Selain menjaga eksistensi budaya, kebijakan ini juga membantu roda ekonomi masyarakat tetap berputar.


“Seragam kantor itu pasar terbanyak, karena mereka diwajibkan oleh pemerintah. Jadi teman-teman semua pengerajin memproduksi itu, dan kami mendapatkan pekerjaan,” ujarnya.


Para penenun berharap dukungan pemerintah terhadap pengrajin di daerah terus berlanjut agar industri kreatif lokal semakin berkembang dan mampu menyerap tenaga kerja lebih luas.


“Yang pertama jangan berhenti pemerintah mensuport kita di pengerajin dari desa, kabupaten, kota, provinsi. Mudah-mudahan bisa terus, dan kita juga menyerap tenaga kerja,” harapnya.


Keberadaan Banua Kharisma menjadi bukti bahwa tenun tradisional bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga sumber ekonomi yang menghidupi masyarakat lokal. 


Motif kelor tak hanya memperindah kain, tetapi juga menjadi simbol kearifan lokal yang tumbuh di tengah modernisasi. (Rul/Nl)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.